Islam dan Umat Islam Pada Masa Orba Hingga Pasca-Reformasi (7)

Namun, di samping menguatnya kekuatan Islam di parlemen, ada sejumlah isu krusial yang terjadi selama masa pasca reformasi, yaitu

  1. Islam Liberal

Di Indonesia, kelompok Islam liberal dimotori oleh JIL (Jaringan Islam Liberal). Mereka ibarat musuh dalam selimut, karena menggerogoti akidah umat Islam dari dalam. Program yang mereka gulirkan adalah seputar isu-isu liberalisme, sekularisme, pluralisme, feminisme, demokrasi, dan HAM. Tokoh-tokohnya adalah Nurcholis Madjid, Ulil Abshar Abdalla, Luthfie Assyaukanie, Djohan Effendi, Musdah Mulia, serta banyak tokoh-tokoh lain yang bernaung di bawah JIL. Ide-ide mereka telah masuk ke ranah akademis, termasuk yang paling parah justru di universitas-universitas islam negeri (UIN). Penyebaran gagasannya juga berlangsung kuat karena didukung dana internasional melalui LSM-LSM seperti Asia Foundation dan Ford Foundation.

Jika ditelusuri sejarahnya, benih-benih liberalisasi Islam sudah ditanamkan sejak zaman penjajahan Belanda. Tetapi, secara sistematis, proyek ini dimulai pada awal tahun 1970-an oleh Nurcholish Madjid dalam makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.[8] Gagasan utama dari liberalisme adalah progresivitas. Liberalisasi Islam di Indonesia dilakukan melalui liberalisasi bidang aqidah (pluralisme agama), liberalisasi bidang syariah (perubahan metodologi ijtihad), dan liberalisasi konsep wahyu dengan ide dekonstruksi terhadap Al Qur’an. Pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa haram bagi sekularisme, liberalisme, dan pluralisme.

  1. Terorisme

Isu lain yang menyita perhatian umat Islam adalah banyaknya kasus terorisme di Indonesia, yang mengatasnamakan Islam sebagai landasan untuk berjihad. Padahal, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan untuk berlaku kekerasan apalagi terorisme. Terorisme mulai mencuat sejak peristiwa 11 September 2001, ketika  gedung WTC dan Pentagon dibom oleh sekelompok orang yang konon berasal dari jaringan Al Qaeda, Osama bin Laden. Sejak itu, barat seolah memberikan ultimatum kepada seluruh dunia untuk berperang melawan terorisme. Di Indonesia, serangkaian peristiwa pemboman yang terjadi, di antaranya Peristiwa Bom Bali I & II, bom Hotel J.W Marriot, pemboman di gereja-gereja pada malam Natal tahun 2000, dan sejumlah peristiwa lainnya. Sayangnya, isu terorisme ini disikapi secara berlebihan dan kadangkala tidak tepat oleh pemerintah.

  1. Masalah Perda Syariah

Pasca reformasi, masalah syariat islam mencuat di sejumlah daerah. Pada bulan Juni 2001, disahkan UU Nanggroe Aceh Darussalam oleh DPR RI, sebagai buah perjuangan rakyat Aceh. UU tersebut memberikan kekuatan hukum bagi masyarakat Aceh untuk menjalankan syariat Islam secara kaffah di wilayah Aceh. Penerapan syariat Islam ini didukung oleh sejumlah peluang, di antaranya peluang politik (UU tentang otonomi daerah tahun 1999), peluang birokrasi yang ditandai oleh banyaknya tokoh islam yang menjadi elit birokrasi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat Islam akan syariat.[9] Namun, pada saat yang sama tantangannya adalah (1) budaya barat yang sudah merasuk ke dalam pikiran sebagian umat Islam, (2) kalangan sekuler yang tidak menghendaki penerapan syariah di Indonesia, dan (3) publik opini yang terbentuk melalui media massa tidak memihak pada penerapan syariah.[10]

  1. Kerukunan Umat Beragama

Dalam sejarah Indonesia, permasalahan kerukunan umat beragama mulai muncul dan meningkat pasca peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965. Pada waktu itu, praktik kristenisasi yang dilakukan oleh oknum gereja kepada umat Islam sangat marak sampai pada tahun 1967. Hal ini menimbulkan ketersinggungan yang berkepanjangan bagi umat Islam. Puncaknya, pada Juni 1967 terjadi peristiwa perusakan gereja di Meulaboh, Aceh. Selanjutnya, Oktober 1967, terjadi perusakan sekolah Kristen di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Pada masa Orde Baru (1967-1998), permasalahan kerukunan antarumat beragama sangat mempengaruhi kestabilan pemerintahan Soeharto. Berbagai usaha telah dilakukan oleh tokoh-tokoh agama dan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, namun belum ditemukan solusi yang relevan.

Pasca reformasi, masalah kerukunan antarumat beragama di Indonesia tak kunjung selesai, bahkan bisa dibilang semakin parah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya aksi kekerasan antarumat beragama terutama umat Islam-Kristen. Di samping itu, masalah kerukunan intra umat beragama juga makin mengemuka akibat maraknya aliran sesat. Pengeboman gereja pada malam Natal tahun 2000, penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Jawa Barat, kasus Syiah di Sampang Madura, dan sejumlah kasus lainnya menjadi catatan tersendiri dalam masalah kerukunan umat beragama. Ada berbagai faktor yang mendasari terjadinya kekerasan umat beragama. Peristiwa-peristiwa semacam ini kemudian mendorong pemerintah untuk menciptakan komunitas-komunitas kerukunan umat beragama dan dialog antar agama. Namun, sayangnya, gagasan ini kemudian seringkali ditunggangi oleh Islam Liberal untuk menyebarkan ide pluralisme. Padahal, menciptakan kerukunan umat beragama tidak serta merta berarti dilakukan dengan menerima kebenaran semua agama.

  1. Perkembangan Aliran Sesat

Aliran sesat tampak makin marak perkembangannya pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001). Mulai dari ruwatan kemusyrikan hingga JIL muncul secara resmi.[11] Banyak paham-paham keagamaan yang muncul dengan membawa simbol Islam. Tak sedikit umat Islam yang mengalami kebingungan, apakah ajaran ini benar atau bertentangan dengan ajaran Islam. Berikut ini merupakan beberapa aliran sesat yang berkembang di Indonesia pasca tumbangnya Orde Baru.

Syiah

Permasalahan seputar Syiah baru-baru ini mencuat di Indonesia sejak kasus Sampang Madura tahun 2011. Pergerakannya tidak mudah dideteksi karena adanya takiyah dari para pengikutnya. Tokoh Syiah di Indonesia adalah Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan lain-lain. Terdapat banyak media massa, penerbit, dan yayasan yang dikuasai oleh Syiah, termasuk Mizan, Yayasan Muthahari, Rausyan Fikr, dan sebagainya. Syiah sendiri berkembang luas di Iran, Suriah, dan sekitarnya.

Berdasarkan fatwa MUI pada bulan Maret 1984, MUI Pusat merekomendasikan bahwa Syi’ah merupakan salah satu faham yang terdapat perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan pokok itu mencakup masalah hadis, imam, ijma’, rukun iman dan khulafaurrasyidin. Karena perbedaan pokok tersebut, MUI memberikan himbauan agar umat Islam Indonesia mewaspadai ajaran Syi’ah. Terakhir, pada 21 Januari 2012 dengan surat keputusan No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012, MUI Jawa Timur memberikan fatwa sesat pada Syi’ah dan hal ini berlaku umum.

Ahmadiyah

Aliran yang lahir pada tahun 1900 ini pada awalnya adalah rekayasa kolonial Inggris yang menjajah India. Tokoh utamanya adalah Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) yang diyakini sebagai nabi. Di Indonesia, Ahmadiyah masuk pada tahun 1925. Aliran ini sudah dilarang MUI sejak tahun 1980 dan dinyatakan sebagai ajaran sesat. Namun, kelompok Ahmadiyah masih terus menunjukkan aktivitasnya di sejumlah daerah sehingga memicu reaksi dari masyarakat. Kini, Ahmadiyah memiliki sekitar 200 cabang, terutama di Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB, dan lain-lain.

Baha’i

Aliran Baha’iyah merupakan sebuah aliran yang menyempal dari ajaran Syi’ah Itsna ‘Asyriyah. [12] Kelompok ini muncul pada tahun 1844 didalangi oleh kolonial Rusia, Yahudi dan Inggris dengan tujuan merusak akidah umat islam. Pengikutnya sebagian besar ada di Iran, kemudian sebagian kecil di Iraq, Suriah, Libanon, dan Palestina. Pendiri gerakan ini adalah Mirza Ali Muhammad Reza al-Syirazi (1819-1849). Setelah meninggal, ia digantikan oleh Mirza Husein ‘Ali yang digelari al-Baha’. Dari sinilah ajarannya disebut Baha’iyah, dengan kitabnya yang terkenal Al-Aqdas.

Ajaran pokoknya adalah bahwa Mirza Ali adalah Al-Bab yang menciptakan segala sesuatu dan dengan ucapannya terjadi segala sesuatu di alam ini. Dua murid utamanya, yaitu Shubhi Azal dan Bahaullah, diusir dari Iran karena dianggap telah melanggar mahzab Syi’ah. Di Indonesia, paham ini mengklaim punya pengikut di daerah Tasikmalaya dan menuntut agar pemerintah memberi mereka hak untuk tumbuh dan dalam KTP anggotanya diizinkan mengisi kolom agama dengan Baha’i.

Salamullah

Lia Aminuddin mengklaim dirinya mendapatkan wahyu dari Jibril melalui mimpi. Puteranya adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu kedatangannya.  Ajaran Lia Aminuddin atau Lia Eden ini telah dinyatakan sesat oleh MUI pada 22 Desember 1997.

Meditasi ala Anand Krishna

Ajaran Krishna bertumpu pada tiga pokok, yaitu Tuhan adalah Aku, Aku adalah Tuhan; Reinkarnasi; dan Semua agama adalah sama. Dua ajaran pertama merupakan paham yang dianut sekelompok sufi yang sesat pada abad-abad yang silam. Jadi, bila diperhatikan aliran-aliran sesat ini mempunyai titik temu yang perlu dicermati, yaitu bersumber dari paham mistisisme-sufi, serta ada upaya ke arah menyatukan semua agama dalam paham baru. Kedua unsur ini tak lepas dari pengaruh Yahudi, yang berupaya kuat menggabungkan semua agama menjadi satu payung.[13]

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, ada pula Komunitas Penimbrung Qur’an Sunnah, NII KW IX, LDII, Inkar Sunnah, Isa Bugis, Lembaga Kerasulan, dan lain sebagainya.[14] Aliran-aliran sesat ini merupakan tantangan internal bagi umat Islam.


[1] Adam Schwarz. A Nation in Waiting: Indonesia’s Search for Stability. (United States of America: Westview Press, 2000). Hlm 327.

[2] Martin van Bruinessen (ed.). Contemporary Developments in Indonesia Islam Explaining the “Conservative Turn”. (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 2013), hlm 1

[3] Ada satu buku yang membahas pola komunikasi keenam presiden Indonesia. Baca Tjipta Lesmana. 2008.  Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

[4] “Pemerintahan SBY-JK dan Syariat Islam: Politik Angin Bertiup” dalam Majalah Suara Hidayatullah Edisi Khusus Milad 2008.

[5] Pramono U. Tanthowi. Kebangkitan Politik Kaum Santri. (Jakarta: PSAP, 2005), hlm 239-241.

[6] Ibid. Hlm 247.

[7] Adian Husaini. 2002. Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra. Gema Insani Press: Jakarta. Hlm 15.

[8] Makalah “Tantangan Pemikiran Kontemporer: Liberalisasi Islam di Indonesia” oleh Dr. Adian Husaini, hlm 1. Pembahasan mengenai Islam Liberal telah sangat banyak dilakukan, dalam berbagai buku, makalah, dan artikel. Lihat tulisan-tulisan Adian Husaini, Hamid Fahmy Zarkasyi, Adnin Armas, Nirwan Syafrin, Syamuddin Arif, Akmal Sjafril, dll.

[9] Daud Rasyid. Islam dan Reformasi: Telaah Kritis Atas Keruntuhan Rezim-Rezim Diktator dan Keharusan Kembali kepada Syari’ah. (Jakarta: Usamah Press, 2001) Hlm. 146-150.

[10] Ibid. Hlm 151.

[11] Track record pemerintahan Gus Dur yang buruk ini kemudian diindikasi menjadi salah satu sebab kekalahan perpolitikan umat Islam saat ini. Gus Dur yang notabene adalah seorang kyai dan didukung oleh mayoritas umat Islam lewat Poros Tengah ternyata tidak dapat memenuhi harapan rakyat. Baca tulisan Kamarudin. “Siklus Kekalahan Partai Islam” dalam Majalah Sabili No. 9 Th X 2003 hlm 88.

[12] Akmal Sjafril. 2012. Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme. Indie Publishing: Depok. Hlm 244-245.

[13] Daud Rasyid. Islam dan Reformasi: Telaah Kritis Atas Keruntuhan Rezim-Rezim Diktator dan Keharusan Kembali kepada Syari’ah. (Jakarta: Usamah Press, 2001). Hlm 189-193.

[14] Hartono Ahmad Jaiz. “Membedah Anatomi Aliran Sesat” dalam Majalah Sabili No. 9 Th X 2003, Hlm 114-151.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.