Perkembangan Kalam Sunni (1)

Bahrul Ulum, MPI.

Tokoh Kalam Sunni

Tokoh pemikir yang diakui sebagai pendiri kalam Sunni selain al-Asy’ari yaitu Ahmad at Tahawi (w. 322 H) di Mesir dan Abu Mansur al Maturidi as Samarkandi (w. 333 H).

Ketiga orang ini disebut dalam sejarah sebagai pendiri aliran kalam Sunni. Namun karena antara mereka terdapat juga perbedaan, maka yang terjadi,  paham mereka dibanggakan oleh masing-masing pengikutnya. Karena itu muncullah paham Asy’ariyah, paham Maturidiyah dan paham Tahawiyah.[1]

Dalam pembentukan rancang bangun mentodologinya, Asy’ari begitu terpengaruh dengan mazhab (fiqih) Syafi’i. Ini tidak lepas adanya titik temu kedua paham tersebut dalam rana penafsiran al-Qur’an. Sosok Syafi’i yang sukses memadukan antara nalar akal dan nalar hadits dalam karakter mazhabnya diakui membuat As’yari terpesona, sehingga berpengaruh besar terhadap pembentukan teologinya.[2]

Bahkan saking terpesonanya kepada Sya’fii, terkesan mazhab lain tidak begitu diindahkan oleh Asy’ari. Misalkan terhadap mazhab Maliki, umpamanya, As’yari telah menilainya cacat karena mazhab tersebut dianggap ‘telah kebablasan’ menggunakan dalil maslahat mursalah. Ia dinilai telah melenceng jauh dari teks-teks qur’anik. Begitu juga dengan Hanafi yang ‘dianggap gagal’ karena tidak mampu menafsirkan secara baik antara wilayah makro (juziyât) dan mikro (tafsiliyât) agama tanpa menjaga aturan kaidah dan usulnya,  ketika menempatkan dalih Isthsan-nya. Karena alasan tersebut Asy’ari lebih cenderung mengambil fiqih Syafi’i dalam pengembangan riset mazhab teologinya. Sebab menurutnya, Syafi’i telah sukses menuai pemaduan kaidah universal dan partikular dengan basis padu akal dan naql.[3]

Ia setuju dengan statemen Imam Syafi’i, bahwa penggunan istinbath dengan tidak berlandaskan al-Qur’an-Hadits dan perangkat senyawanya dianggap telah mambuat ‘agama baru’. Ini terlihat dengan kehati-hatian Syafi’i dalam upaya memaksimalkan pengunaaan daya kekuatan analogi sebagai mesin produk ijtihadnya. Tak heran jika corak fiqihnya kelihatan fleksibel. Bahkan tak jarang hasil produktifitas ijtihadnya sama persis dengan Hanafi atau Maliki dalam beberapa kasus (seperti, salah satunya, kasus diperbolehkan membunuh tawanan muslim yang dijadikan tameng tentara kafir). Ini tentu karena kecakapan Syafi’i mengunakan senjata analogi.

Namun demikian, bukan berarti Asy’ari tidak menghargai atau mencemooh mazhab fiqih Sunni lainnya, sebagaimana ia tampakan kecemoohan dan kebenciannya pada mazhab Mu’tazilah. Etikanya untuk memperlakukan penghormatan yang sama pada mazhab empat Sunni adalah sesuatu yang patut dihargai. Hanya saja, ia menghargai secara fanatis terhadap mazhab Syafi’i karena kepentingan kuat terhadap pembangunan proyek teologinya. Wajar jika mazhab ini ditempatakan secara istimewa dibanding lainnya. Penghormatannya yang wajar dan turut serta dalam afiliasi salah satu mazhab Sunni, sangat beralasan jika kemudian muncul reaksi balik yang positif dari kalangan mazhab Sunni.

Pada perkembangannya, teologi Asy’ari malah dijadikan ideologi resmi semua mazhab fiqih Sunni. Bahkan, beberapa mazhab fiqih, seperti Maliki dan Hanafi, mengklaim bahwa Asy’ari berafiliasi pada mazhabnya. Sebab kebanyakan karangan As’yari sudah biasa dikaji oleh pengikut sunni.[4]

Ilmu kalam al-Asy’ar’i ini, yang juga sering disebut sebagai paham Asy’ariyyah, kemudian tumbuh dan berkembang  menjadi ilmu kalam yang paling berpengaruh dalam Islam sampai sekarang.

Adapun mazhab kalam Maturidi dan Tahawi dinilai sebagai mazhab kalam Sunni karena memiliki kesamaan dengan Asy’ari. Perbedaan yang mencolok hanya pada penempatan porsi pada rasionalitas.


[1] DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Akar-akar Aliran Dalam Islam, http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=6675. Diakses tanggal 20 Mei 2008 jam 19.00 WIB.

[2] Abid al-Jabiri, Takwîn al-Aql al-Arabi, Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyah, cet. IIIIV, 2006, h. 111

[3] Ahmad Mahmud Subhi, Fi Ilm Kalâm; Dirasah Falsafiyah, Dar al-Kutub al-Jami’ah, h. 188-189

[4] Lihat kata pengantar Hammad bin Muhammad al-Anshori dalam kitab karangan: Asy’ari, al-Ibâanah ‘an Ushuluddin, Dar al-Bashirah, Iskandaria, cet. I, 1992, h. 8

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.