Perkembangan Kalam Sunni (5)

Bahrul Ulum, MPI.

Keseimpulan

Lahirnya perdebatan sengit antara para ulama dan tokoh-toko teologi timbul akibat masuknya nilai-niai filsafat non Islam terutama dari barat (Yunani). Karena akar filsaat dan teologi tersebut berangkat dari mitos tanpa dasar dari agama samawi yang kuat, maka masuknya paham ini ke dunia Islam menimbulkan pertentangan tajam. Dalam tubuh umat Islam, pertentangan ini mengerucut pada tarik menarik antara dua kutub utama yaitu Ahlussunnah yang mempertahankan paham berdasarkan nash (naql) dan Mu`tazilah yang cenderung menafikan nash (naql) dan bertumpu kepada akal semata. Sehingga mereka sering disebut dengan kelompok rasionalis.

Dalam perbedabatan panjang antar dua kutub yang pada abad 3 H Mu`tazilah memegang tampuk kekuasaan, sehingga berusaha melikuidasi dan melenyapkan tokoh lawannya, telah menimbulkan kesadaran umat Islam untuk merubah paradigma pola pikir. Pada abad ke empat H. euforia akal yang menonjol pada kelompok Muktazilah ini mulai meyusut dan beranjak menempatkannya pada posisi balance antara teks dan akal.

Ini terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam hijrah menuju teologi Sunni yang membetot perhatian dan kesadaran berteologi. Kendati diakui bahwa transformasi itu mengakibatkan pengereman dalam tradisi pengetahuan.

Namun juga harus diakui bahwa Kalam Sunni  menjadi qutub kekuatan mazhab aqidah yang sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang kebablasan.

Karena itu para tokoh Ahlu Sunnah mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan menggunakan bahasa dan logika lawannya. Karena kalau dijawab dengan dalil nash (naql), jelas tidak akan efektif untuk menangkal argumen lawan. Karena lawannya sejak awal sudah menafikan nash.

Al-Asy’ari misalkan, menggunakan kombinasi antara dalil aqli dan naqli untuk menjatuhkan paham Muktazilah yang rasionalis tersebut. Pada masanya, metode penangkisan itu sangat efektif untuk meredam argumen lawan.

Dan memang secara kenyataannya mazhab aqidah Asy`ariyah ini menjadi mazhab yang paling banyak dipeluk umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam. Di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqoha, imam dan sebagainya. Bahkan sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqoha dalam Islam adalah pemeluk mazhab aqidah al-As-`ari. Antara lain Al-Baqillani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhrurrazi, Al-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-Syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnud Daqiq Al-`Id, Ibu Sayyidinnas, Al-Balqini, al-`Iraqi, An-Nawawi, Ar-Rafi`I, Ibnu Hajar Al-`Asqallani, As-Suyuti.

Sedangkan dari wilayah barat khilafat Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (aljad), Ibnul Arabi, Al-Qadhi `Iyyadh, Al-Qurthubi dan Asy-Syatibi.

Para ulama pengikut mazhab Al-Hanafiyah secara teologis umumnya penganut paham Al-Maturidiyah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi`iyyah secara teoligis umumnya penganut paham Al-Asy`ariyah.

Konsekuensinya jika mazhab Asy`ariah dianggap sesat, tentu naman-nama ulama diatas juga sesat. Tentu saja ini bukan perkara sepele. Yang benar adalah bahwa Al-Asy`ariyah itu adalah bagian dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Umat Islam telah ridha kepadanya karena menjadikan Al-quran dan sunnah sebagai sumbernya.

Bila pada hari ini mazhab tersebut kita kritisi, itu karena bisa jadi  ada hal-hal yang kurang tepat. Namun kita harus ingat ingat mengenai masa dimana mazhab ini lahir dan diiukuti oleh banyak ulama. Kalaupun ada yang mengoreksinya, maka itu adalah hal yang sangat baik. Tapi tentu saja caranya bukan dengan gebyah uyah dan sekedar menuduh sesat hanya karena ada point-point yang kurang tepat.

Kurang tepat disini sebenarnya lebih kepada masalah yang kurang qath`i, dimana masih bisa diterima adanya berbedaan paham di kalangan ulama. Karena memang nash dan dalilnya memungkinkan untuk dipahami secara berbeda. Kalau dalam perbedaan seperti ini, satu pihak menuduh pihak lain sebagai sesat, bid`ah, jahil dan sebagainya, ini tentu  kurang etis. Dalam masalah ini, sangat baik bila kita berpegang pada kaidah bahwa setiap orang bisa diterima perkataannya atau ditolak kecuali Rasulullah SAW.


Daftar Pustaka

  1. Al-Anshori , Hammad bin Muhammad dalam kitab karangan: Asy’ari, al-Ibâanah ‘an Ushuluddin, Dar al-Bashirah, Iskandaria, cet. I, 1992,
  2. Ali , A.K.M Ayyub, M.A, Ph.D, Tahawism , Principl Government Rajshahi Madrasah, Rajshahi (Pakistan), http://www.muslimphilosophy.com/hmp/
  3. Al-Jabiri , Abid, Takwîn al-Aql al-Arabi, Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyah, cet. IIIIV, 2006
  4. Al-Juwayni , Al-Imam al-Haramayn, Hawâmisy ‘ala al-Aqidah al-Nidzâmiyah, Maktabah al-Iman, Cairo, cet. II, 2006
  5. Al-Kaylani , Ashim Ibrahim, dalam kata pengantar kitab karangan: al-Maturidi, Kitab al-Tauhîd, Dar al-Kutub Ilmiah, Beirut, cet. I, 2006
  6. Al-Razi , Fakhruraddin Muhammad bin Umar, al-Mathalib al-Aliyah min Ilm al-Ilahiy, Dar al-Kutub al-ilmiah, Beirut, cet. I, 1999, vol. IIIIV
  7. Al-Syafi’i , Mahmud, Al-Madkhal ila Dirâsah ilm al-Kalâm, Maktabah Wahbah, Cairo, Cet. II, 1991
  8. Ajhar , Abdul al-Hakim, al-Tasyakulât al-Mubkirah lil-fikr al-islami, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, Beirut, cet.I, 2005
  9. Asy-Syahrastani, Al Mihal Wa Mihal, Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Islam, PT. Bina Ilmu, Surabaya.cet, 2005
  10. At-Tawahi , Abu Ja’far al-Misri, [1] Al-‘Aqidah At-Tahawiyah http://www.geocities.com/~abdulwahid/muslimarticles/tahawi.html
  11. Badawi , Abdurrahman, madzâhib al-islamiyien, Dar al-Ilm li al-Malayin, Beirut, cet. II, 2005.
  12. Goldziher , Ignaz, Vorlesungen Uber den Islam, dialih-arabkan dengan tajuk: al-Aqidah wa Syari’ah fi Islam, Dar al-Raid al-Arabi, Beirut,
  13. Hitti, Philip K. History of the Arabs. PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta cet.II, 2006, 14. Nasr , Seyyed Hossein, M. A., Ph. D, dalam makalah berjudul FAKHR AL-DIN RAZI  dimuat di http://www.muslimphilosophy.com/hmp/.
  14. Shalih , Hajj Muhammad ibn ‘Umar Samarani, Tarjamat Sabil al-Abid ‘ala Jawharat al-Tawhid (sebuah terjemah dan uraian panjang lebar atas kitab Ilmu Kalam yang terkenal, Jawharat al-Tawhid, dalam bahasa Jawa huruf Pego, tanpa data penerbitan),
  15. Subhi , Ahmad Mahmud, Fi Ilm Kalâm; Dirasah Falsafiyah, Dar al-Kutub al-Jami’ah, 17. Salamah , Claude dalam kata pengantar kitab : Abu Muin al-Nasafi, Tabshirah Adillah fi Ushulûddin, al-Ma’had al-Ilmi al-Prancis li Dirasah al-Arabiyah, Damaskus
  16. Wahid , DR. H. Ramli Abdul, MA, Akar-akar Aliran Dalam Islam, http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=6675. Diakses tanggal 20 Mei 2008 jam 19.00 WIB.
  17. Taymiyyah , Ibn, Minhaj al-Sunnah, jil. 1,
  18. ———-, Ilmu Kalam, Kehilangan Urgensitas?, http://www.sidogiri.com/modules.php?name=News&file=article&sid=48&mode=thread&order=0&thold=0,. Diakses 23 Mei 2008 jam 13.25 WIb
Belum ada komentar

Leave a Reply