Perkembangan Kalam Sunni (2)

Bahrul Ulum, MPI.

Perbedaan Asy’ari, Maturidi dan Tahawi

Dalam soal penggunaan akal, Asy’ari dikenal tidak begitu bebas. Sebaliknya bagi  Maturidi; nalar akal nampak berperan dalam pembentukan teologis. Yakni satu tingkat dibawah Mu’tazilah.[1] Wajar jika kemudian pengikutnya banyak yang rasionalis.

Diantara pengikut Maturidi yang cukup dikenal dan  dianggap mapan dalam mewarisi metodologi Maturidi yakni Abu Mu’in al-Nasafi melalui Tabshirah ‘Adillah fi Ushûluddin.[2]  Kitab ini dianggap buah representasi dari pemikiran epsitem Maturidi yang paling brilian. Berisi komparasi antar teologi Asy’arie dan Mu’tazilah, kemudian menyangkalnya jika tidak sesuai dengan ijtihadnya. Al-Nasafi sepertinya memiliki konsistensi dan prinsip tersendiri dalam meracik mazhab Maturidi. Hingga kadang dalam beberapa hal tidak setuju dengan imamnya sendiri. Atau kadang–kadang secara mengejutkan setuju pada kandungan nilai yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Mu’tazilah. Tentu ini suatu pemandangan kontras sebab jika dibandingkan mazhab Asy’arian, maka hampir keseluruhan bertolak belakang dengan pendapat Mu’tazilah.[3]

Sekedar menyebutkan, perbedaan antara Asy’ari dan Maturidi hanya berkisar sepuluh masalah. Perbedaan itu diantaranya dalam masalah sifat Tuhan.  Tiga mazhab teologi, yakni Asy’ari, Maturidi, dan Mu’tazilah sepakat bahwa sifat-Nya adalah sifat yang terdahulu (Qadim). Bedanya, masing-masing memiliki penafsiran sendiri. Mu’tazilah menyatakan pembaruan sifat-sifat pekerjaan (Hudûts Shifah al-Fi’l), seperti kalâm (ujaran), dan iradâh (kehendak). Asy’ariah pun menyatakan demikian, hanya saja dipandang sebatas sifat qudrah-Nya (kekuasaan) beserta perangkat penghubungnya (taaluqât). Sementara Maturidi sama sekali berbeda, di mana memposisikan semua sifat (tujuh) adalah qadim (terdahulu). Dan bersandaran bahwa sebuah proses kejadian (sifah al-takwin) bukan didorong oleh sifat qudrah Tuhan, sebagaimana keyakinan Asy’ari. Namun lebih didasarkan oleh pengaruh mutualisme (atsar) dari Sang Pencipta (al-mukawwin). Karenanya, bagaimanapun mesti diatributi dengan sifat terdahulu. Jika tidak, berarti Tuhan dikenai sifat-sifat baru (hawadits) dan jelas hal ini mustahil karena sifat baru hanya pantas dialamatkan pada mahkluk bukan Sang Khalik.

Sementara itu dalam penafsiran sifat kalam, maka pada terma Asy’aian akan dikenal sifat kalam nafsi dan kalam lafdhi (ujaran dalam dan ujaran luar), yang tidak akan diketemukan dalam terma Maturidi.[4]

Dalam diskursus tindak-perbuatan manusia (af’âl al-ibâd) pun ada perbedaan. Maturidi menempati posisi tengah jika dibanding Asy’ari maupun Muktazilah, yakni adanya kekuasaan insan mendahului laku pekerjaanya. Karenanya, bebas untuk melakukan atau meninggalkan pekerjaan. Di sini unsur keterpengaruhan dan pembekasan pada pekerjaan sangat menentukan dalam membentuk sebuah tindakan. Hanya saja dikontrol dan tak lepas dari Sang Kuasa. Gagasan yang paling kontroversial adalah pemaknaan yang dilakukan Mu’tazilah ketika menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah murni keluar dari manusia sendiri tanpa sedikitpun ada ‘intervensi’ atau kontrol dari Tuhan. Mereka meyakini bahwa Tuhan hanya sebatas menciptakan wujud mahluk dan selebihnya adalah tangung jawab mahluk secara total. Sebab mahluk pada dasarnya sudah diberikan anugerah akal sebagai bekal memilah yang baik dan yang buruk, karenanya tidak perlu bantuan syara dalam hal pemilahan ini.[5]

Sementara Asy’arian dalam hal ini memecah menjadi tiga pendapat. Pertama, sebagaimana yang diyakini imamnya, Asy’ari; menyatakan bahwa pekerjaan makhluk dibangun atas dua unsur berkelindan, yakni kekuasaan Sang Pencipta dan kekuasaan hamba sebagai anugerah dari Pencipta, yang dikenal dengan sebutan kasb (perantaraan pekerjaan). Kedua, sebagaimana yang diyakini oleh Juwayni, bahwa keterpangaruhan hamba menentukan perbuatannya dengan ‘bimbingan’ Sang Pencipta. Juwayni dalam hal ini lebih condong dengan apa yang dikatakan maturidian.[6] Ketiga, sebagaimana yang diyakini oleh al-Razi, yang menyatakan bahwa semua pekerjaan hanya dari penciptaan sich tanpa sedikitpun ada ‘intervensi’ hamba. Ia menyatakan sebagai ketundukan mutlak, sehingga cenderung mendekati faham fatalisme (Jabariyah).[7] Ia menerapkan hierarki sebab-sebab (illât) sebagai pembantu pelaksana pekerjaan hamba, yang dikenal dengan kesatuan sistem regresi sebab-sebab tak berhingga (tasalsul) antara Wajib al-Wujud (baca: Allah) dan tindakan manusia. Dengan demikian, Wajib al-Wujud adalah pusat segala aktivitas dan tindakan makhluk, di mana semua aktivitas itu berpulang dan bersumber dari-Nya.[8]

Dari analisa ini, tampaklah kecenderungan rasionalisitas Maturidi seakan menjadi ciri khas yang eksotik sebab ia mampu meletakan diri di antara dua kubu teologi yang obesitas atau kelebihan takaran antara yang rasional di atas wahyu (Mu’tazilah) dan skriptual-tekstual di atas akal (Asy’arian).

Contoh yang paling kelihatan penalaran ini adalah diskursus keimanan, ketika menyoal landasan dasar keimanan seorang hamba. Mu’tazilah menyatakan bahwa itu atas kesadaran akal. Sementara Asy’ari kebalikannya; yakni berlandasan syara’. Maksudnya, sebagai perintah langsung dari Tuhan. Dan Maturidi mengelaborasi keduanya; bahwa sekalipun iman itu merupakan perintah dari syara, namun, bagaimana pun, ia akan mampu dijangkau oleh kesadaran akal sebagai alat mencapai keimanan.[9]

Perbedaan-perbedaan ini diantaranya yang menyebakan masing-masing memiliki pengikut sendiri. Sebagaimana telah dijabarkan di atas bahwa Asy’ari termasuk pengikut setia Syafi’i dan ini menjadi suatu hubungan timbal-balik di mana kemudian pengikut mazhab Syafi’i pun mengikuti dan memeluk teologi Asy’arie. Hal ini juga juga berlaku pada teologi Maturidi, yang dikenal sebagai pengikut setia mazhab Hanafi.[10]

Barangkali hal ini tidak lepas dari karakter dan ciri khas dua mazhab fiqih ini yang punya kecenderungan sendiri. Syafi’i agak skriptualis dan Hanafi agak rasionalis. Wajar jika dalam sejarahnya, tepatnya pada kurun tiga H. mazhab Hanafi lebih memihak dan mendukung teologi Mu’tazilah karena adanya persenyawaan sistem keduanya. Hanya saja, akibat hegemoni Asy’ari, yang sejak awal memang benar-benar bermaksud menumbangkan mazhab Mu’tazilah dan ini terbukti berpengaruh hebat pada kewibawaan mazhab Mu’tazilah di arus bawah dengan timbulnya kebencian mendalam dari kaum Sunni dan pengikisan kepercayaan pada pengikut Mu’tazilah, maka memasuki kurun empat H. para pengikut Hanafi yang semula Mu’tazilah berganti pada teologi Maturidi.[11]

Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Ada trauma pribadi yang diarahkan pada eks Mu’tazilah oleh Asy’arian. Karenanya mereka lebih memilih Maturidi dibanding Asy’ari. Di samping itu adanya penghargaan akal secara proporsional dalam tradisi Maturidi menjadi pertimbangan yang menguntungkan secara metodologis.

Sedang mazhab Tahawi lebih mirip kepada Maturidi dibanding Asy’ari. Ini karena Imam Tahawi juga penganut mazhab Hanafi sebagaimana yang dianut oleh Maturidi. Imam Tahawi yang lahir di Mesir, hidup 239-321 A.H. awalnya adalah murid dari pamannya  Isma’il bin Yahya Muzni, seorang ulama Madzhab Syafi’I, namun ia sendiri kemudian mengikuti madzhab Imam Abu Hanifah. Tahawi besar  ketika madzhab 4 sedang dalam perkembangan puncak. Demikian juga ilmu hadis dan fiqh. Imam Tahawi mereguk ilmu dari berbagai ulama yang otoritatif. Karyanya di bidang fiqh adalah  Sharh Ma’ani al-Athar dan Mushkil al-Athar.[12]

Karya yang terkenal dari Imam Tahawi yang memiliki nama asli Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salmah bin `Abd al Malik bin Salmah bin Sulaim bin Sulaiman bin Jawab Azdi adalah Al-Aqidah Tahawiyah yang bercorak Maturidiah (tetapi juga dijadikan rujukan bagi kaum Asy’ariah dan Salafi), yang telah sangat dikenal luas. Kitab ini banyak sekali diberi syarah (penjelasan) oleh berbagai ulama.

Dalam kitab tersebut Imam Tahawi berkomentar tentang aliran Sunni bahwa Sunni atau Ahlu Sunah sebagai kelompok terbesar dalam Islam, yang mengambil jalan tengah dan bersikap moderat dari berbagai  ekstrimitas. Ini dinyatakan dalam Al-Aqidah Al-Tahawiyah  pada nomor 106, ” Islam terletak di antara sikap berlebih-lebihanan dan pengabaian/penyederhanaan, antara tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan lainnya) dan ta’til (meniadakah sifat-sifat Allah), antara fatalisme dan penolakan takdir Allah, dan antara kepastian (tanpa sadar akan penghitungan Allah) dan putus asa (dari kasih Allah).” Sehingga beberapa aspek dalam Al-Qadar, Al-Akhirah, dll. yang nampak sangat fatalistis, harus disertai dengan pemahaman tentang usaha/ikhtiar atau kasb (kemampuan) manusia, bahwa manusia diberi kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Perbedaan Imam Tahawi dengan Maturidi terletak pada pandangan tentang iman. Maturidi berpendapat bahwa melalui sebuah dialek dan ihtiar seseorang akan menemukan dasar filsafat (iman) ini sebagai pembimbingnya. Dan untuk mendukung pandangan ini akal tetap digunakan. Sehingga mazhab Maturidi lebih dekat dengan paham rasionalis. Sedang At-Tahawi hanya berdasar pada pemahaman para salaf yang tidak mau melakukan dialog rasional dan berfikir spekulasi tentang iman. Berkaitan dengan masalah ini, seseorang hannya bisa percaya dan menerimanya tanpa bertanya.[13]


[1] Ignaz Goldziher, Vorlesungen Uber den Islam, dialih-arabkan dengan tajuk: al-Aqidah wa Syari’ah fi Islam, Dar al-Raid al-Arabi, Beirut, h. 99

[2] Claude Salamah dalam kata pengantar kitab : Abu Muin al-Nasafi, Tabshirah Adillah fi Ushulûddin, al-Ma’had al-Ilmi al-Prancis li Dirasah al-Arabiyah, Damaskus, h. IV

[3] Ibid

[4] Mahmud al-Syafi’i, Al-Madkhal ila Dirâsah ilm al-Kalâm, Maktabah Wahbah, Cairo, Cet. II, 1991 h. 89-90

[5] Ibid

[6] Al-Imam al-Haramayn al-Juwayni, Hawâmisy ‘ala al-Aqidah al-Nidzâmiyah, Maktabah al-Iman, Cairo, cet. II, 2006, h. 178

[7] Fakhruraddin Muhammad bin Umar al-Razi, al-Mathalib al-Aliyah min Ilm al-Ilahiy, Dar al-Kutub al-ilmiah, Beirut, cet. I, 1999, vol. IIIIV, h. 85-98

[8] Abdul al-Hakim Ajhar, al-Tasyakulât al-Mubkirah lil-fikr al-islami, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, Beirut, cet.I, 2005, h. 182

[9] Ignaz Goldziher, op.cit. h. 99

[10] Ashim Ibrahim al-Kaylani, dalam kata pengantar kitab karangan: al-Maturidi, Kitab al-Tauhîd, Dar al-Kutub Ilmiah, Beirut, cet. I, 2006, h. 4

[11] Ahmad mahmud Subhi, op.cit, h. 188-189

[12] Abu Ja’far At-Tawahi al-Misri , Al-‘Aqidah At-Tahawiyah  http://www.geocities.com/~abdulwahid/muslimarticles/tahawi.html Dakses tanggal 23 mei 2008 jam 21.00 WIB

[13] A.K.M Ayyub Ali, M.A, Ph.D , Tahawism, Principl Government Rajshahi Madrasah, Rajshahi (Pakistan), http://www.muslimphilosophy.com/hmp/ Diakses pada tanggal 23 Mei 2008 jam 20.45

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.