Perkembangan Kalam Sunni (3)

Bahrul Ulum, MPI.

Para Pembela Kalam Sunni

Imam Al Ghazali

Setelah periode al-Asy’ari, kalangan mutakalimun berusaha menggabungkan ajaran-ajaran agama dengan pemikiran Yunani, sehingga menjadi bagian penting dari kehidupan intelektual muslim sebagaimana yang terjadi pada perkembangan Kristen Abad Pertengahan. Dalam kajian teologi, al-Asy’ari juga memperkanlkan konsep bila kaifa (tanpa modalitas), yang menganjurkan setiap orang untuk menerima ungkapan-ungkapan antropormofosis dalam al-Qur’an tanpa mencari atau mengupayakan penjelasan tertentu. Konsep baru itu digunakan sebagai pengendali setiap upaya penelitian dan pemikrian bebas. Mazhab pemikiran ini mendapatkan darah segar dengan dikembangkan Madrasah Nizhamiyah oleh seorang wazir Bani Saljuk. Sekolah itu berorientasi untuk menganjurkan dan menyebarkan system teologi al-Asy’ari.[1]

Perkembangan pemikiran teologi yang fondasinya dibangun oleh al-Asy’ari kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh al-Ghazali (dalam bahasa Latin, Algazel) yang tak pelak lagi menjadi teolog islam terbesar, dan merupakan pemikir Muslim paling agung dan paling orisinil.

Adalah al-Ghazali yang membukukan sistem teologi Asy’ariyah dan mengembangkan ajarannya sehingga menjadi ajaran Islam yang universal. Pada giliran berikutnya, “Bapak Mazhab islam” ini menjadi otoritas puncak di kalangan Sunni ortodoks. Sebagian muslim menyatakan bahwa sendainya ada Nabi setelah Muhammad, maka pasti al-Ghazali orangnya. [2]

Abu Hamid al-Ghazali dilahirkan pada 1058 di Thusi, Khurasan dan meninggal di tempat yang sama tahun 1111. Ia memproduksi semua fase spiritual yang dikembangkan oleh Islam dalam pengalaman religiusnya. Berikut ini penuturannya: “Sejak umur dua puluh tahun (kini usiaku lima puluh tahun), aku tidak pernah berhenti menelusuri setiap ajaran atau keyakinan. Kupelajari ajaran Batiniyah untuk mengungkap esoterisismenya; kupelajari Zahiriyah dengan hasrat mendapatkan gairah literalismenya; kutelaah setiap filosof (neo-platonis) untuk mengetahui esensi filsafatnya; kupelajari para teolog dealektis (mutakallimun) untuk mencerap sasaran teologi dan dialektiknya; kudekati setiap sufi untuk menyerap rahasia tasawufnya; kuperhatikan pula para zindiq ateis untuk mengetahui sebab-sebab keberaniannya bersikap ateis dan menjadi zindiq. Semua itu merupakan gambaran rasa dahaga jiwaku untuk mencari, sejak usia dini, insting dan karakter yang telah ditanamkan Tuhan dalam diriku yang tak kuasa kutolak.”

Al-Ghazali memulai kehidupannya sebagai pengikut mazhab ortodoks. Kemudian ia berubah menjadi seorang sufi, dan saat berusia dua puluh tahun ia telah melepaskan diri dari semua masa lalunya. Pada 1091, ia ditunjuk menjadi dosen di Nizhamiyah di Baghdad, tempat ia kemudian menjadi seorang skeptis. Empat tahun kemudian ia kembali pada tasawuf setelah melewati kelahi spiritual hebat yang sangat berpengaruh pada keadaan fisik dan moralnya. Baginya, intelektualisme telah gagal. Sebagai seorang darwisy, ia berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya menikmati kedamaian dan ketenangan pikir. Setelah selama kurang lebih dua belas tahun berkelana ke mana-mana, termasuk dua tahun menyepi di Suriah dan beribadah haji, ia kembali ke Baghdad untuk berdakwah dan mengajar. Di sanalah ia menyusun masterpiece-nya, ktab Ihya Ulumuddin. Aspek mistisisme karya ini menghidupkan hukum Islam, dan ortodoksinya mematangkan ajaran Islam. Dalam karya itu, dan dalam karya-karya lainnya seperti Fatihal al-Ulum, tahafut al-Falasifah, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, spekulasi  mazhan ortodoks mencapai titik puncaknya.

Karya-karya tersebut menurunkan fikih dari tingkatan tertinggi yang pernah dicapai, menggunakan dialektika Yunani untuk membangun system pragmatis, dan memanfaatkan filsafat untuk mengembangkan teologi ortodoks. Sebagain karya-karya itu diterjemahkand alam bahasa Latin sebelum 1150, yang kemudian berpengaruh besar pada perkembangan skolastisisme Kristen dan Yahudi. Thomas Aquinas, salah seorang teolog Kristen terbesar dan juga Pascal secara tidak langsung dipengaruhi oleh gagasan-gagasan al-Ghazali yang, disbanding para pemikir lainnya, merupakan pemikir yang paling dekat dengan pandangan-pandangan Kristen.[3]

Mengenai pandangannya tentang ilmu kalam, ia mengatakan al-Munqidz mina al-Dlalal (hal. 35), “Tujuan ilmu kalam ialah sekedar untuk memelihara akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah serta menjaganya dari gangguan Ahlul-Bid’ah. Allah SWT telah menuangkan terhadap hamba-hamba-Nya melalui lidah para rasulnya suatu akidah yang benar yang menjamin kebaikan agama dan dunia mereka sebagaimana telah disampaikan oleh al-Qur’an dan hadits. Kemudian setan melemparkan hal-hal yang bertentangan dengan Sunnah melalui bisikan-bisikan Ahlul-Bid’ah. Sehingga mereka menyuara­kannya. Dan hampir saja suara mereka mengkaburkan akidah yang benar terhadap pemeluknya, lalu Allah mencip­takan golongan mutakallimin. Allah menggerak­kan motivasi mereka untuk membela Sunnah dengan kalimat-kalimat yang sistematis untuk menyingkap pengkaburan-pengkaburan Ahlul-Bid’ah yang inovatif (muhda­tsah,) yang menya­lahi Sunnah yang tradisional (ma’tsurah). Maka dari sanalah lahirnya ilmu kalam”[4].

Dari pernyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa lahirnya ilmu kalam adalah sebagai counter dan jawaban atas pengkaburan Ahlul-Bid’ah, seperti Khawarij, Mu’tazilah, Syi’ah dan lain-lain terhadap akidah Islam yang benar yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Tentu, sebagai sesuatu yang lahir, secara alamiah tidak serta merta menjadi besar dengan sendirinya atau secara cepat dan sepontan berproses menjadi suatu ilmu yang sistematis semisal yang terbentuk dalam sifat duapuluh. Teori ini tumbuh dan berkembang sedikit demi sedikit, sesuai dengan tuntutan kondisi dan perkembangan pemikiran dari waktu ke waktu. Sehingga dalam setiap kurun waktu, ilmu kalam memiliki corak dan polanya sendiri-sendiri sesuai dengan perkem­bangannya.

Fakhruddin Razi

Kehidupan intelektual Islam setelah kritikan Asy’ari dan Ghazali terhadap filsafat rasionalis dapat digambarkan secara gamblang sebagai transisi gradual dari paham rasionalis filsafat Aristoteler menuju  kebijakan intuisi dan syak orang-orang yang syirik dan sufi. Meski islam mulai lemah dalam bidang politik dan budayar pada akhir Khalifah Abbasiyah, namun pemikir muslim khususnya di dunia Syi’ah terus melakukan proses pemisahan diri dari filsafat peripetic. Salah satu figur yang berpengaruh, yang bermain dalam tataran dunia yang menentang paham rasionalis adalah Fakhruddin Razi. Dia dijuluki sebagai pembaru islam pada abad 6 H sebagaimana Ghazali pada abad 5 H. Al-Razi dalam berbagai kesempatan dijuluki sebagai Ghazali kedua. Karena faktanya ia adalah salah satu teolog muslim terbesar.[5]

Al-Razi, dikenal sebagai seorang ahli falsafah dan teologi Parsi. Lahir di Ray dekat Iran dan merupakan keturunan Khalifah Abu Bakar. Meninggal pada tahun 1209 M atau 606 H, dan dikebumikan di Herat, Afghanistan. Pendidikannya dasarnya diperoleh dari ayahnya yaitu Diya’uddin atau Khatib al-Ray dan ilmu yang dipelajarinya ialah kalam, fiqih dan sains islam. Setelah itu, al-Razi meneruskan pelajarannya kepada Majduddin al-Jili dan Kamal Samnani.

Kemudian ia mengembara ke Khorezmi di Khorasan. Di setiap pelabuahan yang ia singgahi, banyak orang berdatangan menuntut ilmu kepadanya. Bahkan ia mencatat murid-murid dan cendekiawan yang ditemuinya. Hasil pengembaraannya dituangkan dalam bukunya berjudul Munzarat Fakhruddin al Razi fi Bilad Ma Wara al-Nahar. Ia juga berdialog dengan orang-orang yang menentangnya dari kalangan Mu’tazilah, Hanbali (yang menetang ilmu kalam), Batiniah dan Qarmatiah di mana ajaran mereka ini dikritik oleh al Razi. Ia menghabiskan masa tuanya di Herat dan membina masjid di situ.

Hasil karya al Razi yang terkenal ialah Tafsir al-Kabir, sebuah tafsir al-Quran, juga dinamakan Mafatih al-Ghaib. Karya falsafah beliau pula ialah Sharih al-Isharat, sebuah komentar terhadap Kitab al-Isharat wa al-Tanbihat karangan Ibnu Sina, al-Mahsul, sebuah karya fiqah dan Mahabis al-Mashriqya.

Fakhruddin bermazhab Syafie dan teologinya aliran Asy’ari. Ia  juga dikenal sebagai Ibni al-Khatib dan Khatib al-Ray. Sedang di Afghanistan dan Iran, lebih dikenal dengan julukan Imam Razi.

Peran utama al-Razi dalam kehidupan intelektual islam adalam mendorong kebijakan ortodoks pemerintah pada masanya yang memberangus filsafat rasional.

Sebagaimana pandangan umum islam, kehidupan politik, agama dan intelektual tidak pernah dipisahkan, seperti yang dilakukan dalam perjuangan politik kelompok minoritas terhadap khalifah,  dimana mereka menentang dominasi Arab seperti yang dilakukan oleh kaum Syi’ah terhadap Bani Abbasiyah. Hal ini secara jelas digambarkan dalam aktifitas intelektual dan keagamaan waktu itu.

Karena kekhalifahan mendukung para teolog ortodoks Sunni menentang kelompok rasional, para filosof mencari perlindungan hukum kepada dinasti kecil yang menentang otoritas penuh kekhalifahan. Kita dapat saksikan figur seperti Ibnu Sina dan Khwajah Nasir al-Din Tusi yang mencari simpati dari pemerintahan yang menentang otoritas Baghdad, khususnya kepada para pangeran Syi’ah.

Di pihak lain muncul ulama dan cendekiawan yang terkenal seperti al-Ghazali dan al-Razi, dan tokoh sufi seperti Shihab al-Din Umar Suhrawardi yang kehidupan mereka di back-up oleh pemerintah dan mereka dimanfaatkan untuk menyerang kelompok rasionalis.[6]


[1] Philip K. Hitti, History of  the Arabs. PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta cet.II, 2006,   h.544

[2] Ibid

[3] Philip K. Hitti, op.cit. h.544-546

[4] ———-, Ilmu Kalam, Kehilangan Urgensitas?,                       http://www.sidogiri.com/modules.php?name=News&file=article&sid=48&mode=thread&order=0&thold=0,. Diakses 23 Mei 2008 jam 13.25 WIb

[5] Seyyed Hossein Nasr, M. A., Ph. D, dalam makalah berjudul FAKHR AL-DIN RAZI  dimuat di  http://www.muslimphilosophy.com/hmp/. Diakses tanggal 21 Mei 2008, jam 9.00 WIB

[6] ibid

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.