Dakwah Itu Bukan “Ndalili” Keadaan

oleh Arif Wibowo, S. P., M. PI.

Waktu 3 jam terasa singkat, maklum yang berbicara memang pakar di bidangnya. Alhamdulillah pada malam itu, beberapa saat sebelum ramadhan saya diberi kesempatan mendatangi majelis yang sangat istimewa. Betapa tidak, seorang bakul beras macam saya, berkesempatan mendengarkan oleh-oleh perjalanan dakwah dari Prof. Wan Mohd. Noor Wan Daud dan Dr. Khalif Muammar, MA, yang dimoderatori Dr. Adian Husaini, MA. Hadir juga dalam majelis tersebut, rombongan dari Semarang yang dikomandani langsung Dr. Rofiq Anwar (alm), mantan rektor Unisulla. Barangkali “kelas teri” yang hadir saat itu hanya saya. Meski malam itu Prof. Wan banyak membahas tentang fenomena Islamisasi yang terjadi di Turki, dengan dua tokoh utamanya yaitu Beddiuzzaman Sa’id Nursi sebagai peletak dasar Islamisasi Turki pasca keruntuhan Khilafah Utsmaniyah,yang kemudian dilanjutkan oleh Fethullah Ghullen yang saat ini sering disebut sebagai bapak bangsa, namun ada beberapa paragraf yang bisa menghubungkan “logika yang selama ini terpotong” ketika saya mencoba merunut proses Islamisasi nusantara wa bil khusus Islamisasi tanah Jawa.

Bila ditilik dari awal persinggungannya, tidak ada beda waktu antara Aceh dengan Jawa dalam mengenal Islam. Menurut Hamka utusan Khalifah Muawiyah tiba di Jawa pada masa pemerintahan Ratu Sima di kerajaan Kalingga. Konon kata Prof. Ali Hasymi di Aceh pada abad ke II Hijriah (900 M) kerajaan Islam sudah berdiri di Peurlak. Sriwijaya Jambi intens mengIslamkan diri pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, meski akhirnya kerajaan ini tumbang oleh serangan kerajaan Sriwijaya Budha dari Palembang. Sedangkan di Jawa, Kerajaan Islam Demak baru berdiri pada abad VIII Hijriah (1478 M). Sebuah rentang perbedaan waktu yang cukup panjang.

Faktor kebudayaan terutama bahasa ternyata menjadi salah satu pertimbangan para ulama dalam menentukan prioritas. Bahasa Sansekerta bukan sekedar bahasa fungsional milik para pedagang, ia juga bahasa spiritual yang menjadi bahasa dalam menjabarkan ajaran dan ritus keagamaaan kerajaan pada saat itu, yakni Hindu dan Budha. Oleh karena itu, bahasa sansekerta sarat denga konsep-konsep mistis dan mitologis dari Hindu dan Budha. Apalagi ketika aliran Budha Shiwa Bhairawatantra menjadi aliran yang dianut para penguasa, sebuah aliran yang sepenuhnya mistis dan unlogical, maka bahasa Sansekerta pun terkena imbasnya.

Berbeda dengan bahasa Sansekerta, bahasa melayu saat itu, kata Prof. Wan adalah bahasa pinggiran, bahasa pesisiran yang digunakan oleh para pedagang di pelabuhan-pelabuhan. Oleh karena itu bahasa Melayu sekedar menjadi bahasa fungsional dan sederhana. Karena masih merupakan bahasa yang sederhana itulah, para ulama lebih memprioritaskan peng Islaman bahasa Melayu, yang tentunya lebih mudah, karena ia belum mempunyai konsep-konsep baku yang sudah berurat berakar di masyarakat terutama dalam masalah mistis dan teologis. Para ulama telah berhasil meletakkan pola hubungan paedagogis antara Al Qur’an dengan bahasa melayu melalui lembaga-lembaga pendidikan yakni pesantren. Sehingga menurut Prof. Al Attas ketika memaparkan Proses Islamisasi di kepulauan Melayu menunjukkan betapa pada masa itu Bahasa Melayu mengalami suatu perubahan revolusioner yang konsep-konsep kuncinya perbendaharaan katanya berasal dari bahasa Al Qur’an dan sastra Persia. Bahasa ini kemudian menjadi bahasa yang dipakai luas di kalangan masyarakat menggeser dominasi bahasa para penguasa yakni Sansekerta.

Tidak hanya pada sisi bahasanya, para ulama juga berhasil melakukan perombakan, yakni dengan melakukan pendidikan massal di kalangan rakyat jelata, maka huruf arab melayu/jawi/pegon, menjadi huruf yang dipakai rakyat kebanyakan. Huruf pallawa pun tergeser. Menurut penelitian Prof. Dannys Lombard pemakaian huruf arab pegon sebagai huruf resmi di masyarakat Melayu (Sumatera) pada abad 18M dan 19 M sudah mencapai 90 %,sedangkan di Jawa baru mencapai 50 %, sebab Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur masih menggunakan hanacaraka, yang merupakan derivat dari huruf pallawa.

Uniknya, proses Islamisasi Jawa secara massive justru terjadi pada masa Majapahit. Berawal dari dihancurkannya Kerajaan Islam Pasai dan Terengganu oleh Majapahit. Pasai tidak pernah bangkit lagi sebagai sebuah kerajaan. Tapi, Pasai kaya dengan para ulama. Di dalam sejarah Melayu, Tun Sri Lanang menulis, bahwa setelah Kerajaan Malaka naik dan maju, senantiasa juga ahli-ahli agama di Malaka menanyakan hukum-hukum Islam yang sulit ke Pasai. Dan jika ada orang-orang besar Pasai datang ziarah ke Malaka, mereka disambut juga oleh Sultan-sultan di Malaka dengan serba kebesaran.

Jika Pasai ditaklukkan dengan senjata, maka para ulama Pasai kemudian datang ke Tanah Jawa dengan dakwah, dengan keteguhan cita-cita dan ideologi. Para ulama datang ke Gresik sambil berniaga dan berdakwah. Terdapatlah nama-nama Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ibrahim Asmoro, atau Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Ishak yang berputera Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Ngampel (Raden Rakhmat).

“Dengan sabar dan mempunyai rancangan yang teratur, guru-guru Islam berdarah Arab-Persia-Aceh, itu menyebarkan agamanya di Jawa Timur, sampai Giri menjadi pusat penyiaran Islam, bukan saja untuk tanah Jawa, bahkan sampai ke Maluku. Sampai akhirnya Sunan Bonang dapat mengambil Raden Patah, putra Raja Majapahit yang terakhir (Brawijaya) dikawinkan dengan cucunya, dan akhirnya dijadikan Raja Islam yang pertama di Demak,” tulis Hamka dalam buku Dari Perbendaharaan Lama.

Menurut penelitian filologis (maaf, lupa siapa penelitinya), atas serat kakawin dan gatotkacasraya, menunjukkan dimulainya serapan bahasa arab dalam kedua karya satra tersebut. Serapan yang lebih banyak menurut Karel Steenbrink ditemukan dalam naskah yang ditemukan di pertapaan Merbabu, yakni dalam serat Arjunawiwaha dan berbagai naskah lainnya. Yup, sebab naskah di pertapaan Merbabu ini, masih menurut Steenbrink adalah temuan terbanyak dari peninggalan karya sastra Majapahit, dan didalamnya, sudah separo Islam separo Hindu, jadi sudah fifty-fifty.

Dan pertemuan malam itu, makin menambah keyakinan saya, bahwa dakwah bukan sekedar soal politis apalagi tersubordinat pada sekedar kekuasaan. Seolah-olah kalau kekuasaan dipegang, everythingnya bakal allright.. hehehe. Apalagi dakwah yang sekedar berwajah ndalili keadaan, sampeyan bid’ah, sampeyan sesat, neraka masih jembar untuk kalian semua. Wadhuh, ngerine rek. Akibatnya dakwah kini lebih berwajah konflik daripada sebuah social engineering yang bisa memberikan pencerahan sehingga masyarakat menyambut Islam dengan antusiasisme tinggi.

Yup, selama ini ada dua buku yang sering saya komparasikan alur dan paparan faktanya, yang pertama adalah buku Menyintas dan Menyeberang, Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 1965 di Pedesaan Jawa, yang merupakan thesis Singgih Nugroho di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sedangkan buku yang satunya adalah Memahami Islam Jawa, yang merupakan disertasi Prof. Dr. Bambang Pranowo di Monash University. Buku pertama berkisah tentang bagaimana sebuah desa abangan yang merupakan basis PKI yang kemudian berubah menjadi desa Kristen, sedangkan buku kedua berkisah tentang desa PKI yang berkonversi menjadi desa santri. Baik proses misi maupun proses dakwah yang terjadi ternyata bukan sekedar proses eksplanasi teologis (aqidah dan syari’at), melainkan lebih merupakan proses budaya. Keberhasilan para misionaris maupun pendakwah, sangat ditentukan bagaimana kemampuan mereka memahami lubang-lubang “spiritual” dalam masyarakat yang dengannya pengajaran agama bisa dimasukkan. Dan itu adalah kerja kebudayaan dalam kerangka pembentukan peradaban. Konklusi yang saya paksa singkat, sebab mata sudah ngantuk, lain kali disambung …

Boyolali, 19 September 2011, pukul. 23.37 WIB

Belum ada komentar

Leave a Reply