Islamisasi dan Deislamisasi Bahasa

Khatimah

Translation  bukan sekedar proses mengartikan secara leksikal  dan gramatikal adalah proses mengungkapkan makna suatu ajaran, buku atau puisi ke dalam bahasa lain (Johns, 2009 : 49). Kesamaan huruf tentu lebih memudahkan proses asimilasi, adapsi dan adopsi konsep-konsep Islam ke dalam bahasa lokal. Dan Pemerintah Kolonial memahami betul akan hal ini. Oleh karena itu, untuk menjalankan apa yang disebut sebagai oleh mantan Zending consul Van Randwijk sebagai”Strategi Memangkas Islam” maka pengajaran bahasa Melayu harus dihentikan, dengan jalan memunculkan dialek daerah pra Islam (Steenbrink, 1995 :144). Karel Frederick Holle misalnya, ditahun 1865 menerbitkan buku cerita rakyat Sunda yang dibagikan kepada penduduk, dengan tulisan Sunda yang merupakan varian artifisial tulisan Jawa. Padahal,Holle sendiri mengakui bahwa masyarakat Sunda lebih mengenal huruf Arab daripada huruf Sunda. Tetapai bahasa dan huruf Arab harus dibatasi karena akan memperkuat pengaruh orang yang fanatik terhadap agama (Steenbrink, 1995 : 107). Selain itu juga melakukan politik bahasa dengan menjadikan huruf Latin sebagai huruf resmi di administrasi pemerintahan, perdagangan dan lembaga pendidikan. Dengan demikian bahasa Melayu dan huruf Arab Jawi makin terkucil dari masyarakat.

Proses Latinisasi huruf ini, pada dasarnya adalah proses westernisasi dandeIslamisasiyang sejalan dengan politik asosiasi oleh Belanda, Dampak dari Romanisasi huruf ini menurut Al attas adalah kebingungan dan kesalahan dalam memahami Islam bukan tidak beralasan. Sebab Romanisasi bahasa yang semula berhuruf Arab menjadi latin, secara berangsur-angsur terjadi pemisahan hubungan leksikal dan konseptual antara umat Islam dengan Sumber Islam. (Al attas, 2011 : 156-157). Proses latinisasi ini akan menceraikan hubungan pedagogi antara kitab Suci Al Qur’an dengan bahasa setempat. Sehingga terjadilah proses deislamisasi, dimana terjadi  penyerapan konsep-konsep asing ke dalam fikiran umat Islam, yang kemudian menetap dan mempengaruhi pemikiran serta penalaran mereka (Al-attas, 2011 : 57). Puncak tragedi ini, di Indonesia adalah ketika ditahun 1970, pemerintah Orde Baru yang saat itu banyak di think-thank i oleh cendekiawan Katolik dan sekuler, melarang pengajaran huruf arab Jawi di sekolah-sekolah umum. Sehingga huruf ini hanya tersisa di pesantren-pesantren salafiyah.

2

Peta pemakaian huruf latin abad 20 – sekarang 

Dampaknya dapat kita lihat sekarang, dimana umat Islam mengalami semacam gegar intelektual, dimana kosa kata asingyang berasal dari dunia Barat tidak lagi bisa dibendung. Istilah-istilah baru yang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat muslim datang silih berganti. Idiom-idiom pluralisme, multikulturalisme dipaksa masuk menggantikan konsep kemajemukan masyarakat yang sudah mapan dan tidak mengundang kontroversi.  Tidak berhenti sampai di situ, bahkan kalau kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, penulisan beberapa istilah baku agama Islam sudah meninggalkan kedisplinan dalam transliterasinya. Sebagai contoh, Al Qur’an ditulis Kuran (hal. 616), ibadah sholat ditulis Salat (hal. 983). Hal ini merupakan kesalahan fatal, sebab sebagai agama wahyu, Islam sangat disiplin menjaga kemurnian baik istilah kunci agamanya, baik dalam pelafalan maupun pemaknaannya.

Sayangnya saat ini, di internal umat Islam sendiri abai menjaga bahasanya, agar tetap seiring dan senafas dengan Islam. Wacana Islam politik, relasi agama dan negara, tampil sangat dominan dengan segala variannya. Sementara wacana relasi agama dan bahasa semakin menghilang dari rak-rak kepustakaan kaum muslimin. Padahal agama dan bahasa keduanya merupakan variabel utama pembentuk kebudayaan dan peradaban. Wallahu a’lambish shawab.


Adian Husaini, Wajah PeradabanBarat, Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal,(Jakarta : GemaInsani Press, 2005).

A.H. Johns, Penerjemahan BahasaArab ke dalam Bahasa Melayu, Sebuah Renungan,dalam Henri Chambert-Loir et.al, Sadur, Sejarah Terjemahan diIndonesia dan Malaysia,(Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009).

Denys Lombard, Nusa Jawa : SilangBudaya, Buku I, Batas-Batas Pembaratan (cet. IV),(Jakarta : Gramedia,2008)

Julius Rumpak, et.al, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta : DepartemenPendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, 1991).

Mahmud Yunus, Prof, Dr. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Hidakarya Agung,1996)

Mark R. Woodward, Islam Jawa,Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, (Yogykarta : LKiS, 2008)

Syed Naquib Al Attas, Islam danSekularisme (cet II), (Bandung : Institut Pemikiran Islam dan PembangunanInsan / PIMPIN, 2011).

Takashi, Shiraisi Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, (Jakarta: Grafiti Press, 1997)

Vladimir Braginsky, Jalinan danKhazanah Kutipan, Terjemahan Dari Bahasa Parsi Dalam Kesusasteraan Melayu, dalamHenri Chambert-Loir et. al, Sadur,Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta : Kepustakaan PopulerGramedia, 2009).

[2] Takashi,Shiraisi,  Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa1912-1926, (Jakarta: Grafiti Press, 1997). hal. 7

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.