Motif Agama dan Politik dalam Studi Jawa

oleh Arif Wibowo, S.P., M.PI.

Meskipun istilah Orientalisme baru muncul di abad XIV, Orientalisme sebagai sebuah disiplin ilmu sebetulnya sudah cukup tua, setua persentuhan peradaban Timur dan Barat yang diwakili oleh Islam dan Kristen. Oleh karena itu menurut Erdward W Said, Orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa. Dalam orientalisme Timur didekati secara sistematis sebagai topik ilmu pengetahuan, penemuan dan pengalaman. Pemilihan Timur sebagai obyek kajian tidak berangkat dari sebuah motif keilmuan, namun lebih kepada kepentingan barat untuk menjinakkan dunia Timur.

Menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, setidaknya ada dua motif utama dalam kajian Orientalis, yaitu motif agama dan motif politik. Motif agama muncul dikarenakan Barat yang di satu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-doktrin keagamaannya. Islam yang mengoreksi penyimpangan-penyimpangan dan menyempurnakan millah agama sebelumnya dianggap menabur angin yang menyebabkan menuai badai perseteruan dengan agama Kristen.

Adapun motif politik lebih disebabkan karena Barat melihat Islam sebagai sebuah ancaman yang sangat nyata. Sebagai sebuah peradaban baru, Islam bergerak sangat cepat, dan sepertinya Barat sadar betul bahwa Islam bukan sekedar istana-istana megah, bala tentara yang gagah berani atau bangunan monumental, namun juga memiliki khazanah dan tradisi keilmuan yang tinggi.

Dalam perkembangan selanjutnya motif agama dalam pengertian keagamaan Kristen dan missionarisme. Sedangkan motif politik akhirnya berkembang menjadi motif bisnis atau perdagangan yang kemudian berubah menjadi kolonialisme.

Dua motif utama munculnya Orientalisme tersebut nampak sekali dalam perkembangan Studi mengenai Mistisisme Jawa. Intensitas kajian mengenai kebudayaan Jawa intensif dilakukan pada awal abad XIX, dimana masa-masa tersebut merupakan tahun-tahun yang berat bagi eksistensi kolonialis Belanda di Indonesia. Serentetan perang perlawanan datang silih berganti dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa perang yang terkenal antara lain Perang Diponegoro atau Perang Jawa (Java Oorlog, 1825 – 1830), Perang Padri (1821 – 1837), Perang di Sulawesi Selatan (sekitar 1825), Perang Banjarmasin (1859 – 1905), Perang di Bali (1846 – 1849) dan Perang Aceh (Aceh Oorlog, 1873 – 1904). Perspektif Sejarah Indonesia memandang peristiwa itu benar-benar sebagai bentuk perang. Selain perang berskala besar (war atau oorlog), juga terdapat pemberontakan-pemberontakan dalam skala yang lebih kecil.

Peristiwa yang terjadi secara beruntun ini menjadi pembicaraan besar di negeri Belanda. Media massa ikut aktif menyuarakan usulan untuk menangulangi pemberontakan. Pasca pemberontakan petani di Cilegon misalnya, surat kabar Standaard

Artikel dalam surat kabar itu menyatakan persetujuannya dengan pendapat Groneman, penulis artikel itu –Ottolander dari Pancur (Situondo)- melangkah lebih jauh dari Groneman dalam mengecam pemerintah. Seperti dikatakannya “Semangat VOC masih menjiwai kalangan pemerintah”. Ia menyusun daftar sebab-sebab yang mencetuskan kerusuhan-kerusuhan itu lalu menganjurkan pembaruan-pembaruan seperti penurunan pajak, penghapusan wajib tanam, perbaikan sarana-sarana komunikasi, perbaikan pendidikan pejabat pamong praja, dan yang tidak kurang pentingnya, Kristenisasi seluruh nusantara. .

Untuk memulai pelaksanaan rumusan kebijakan tersebut, Snouck melihat Jawa sebagai tempat yang paling strategis dan memungkinkan untuk melaksanakan modernisasi pendidikan. Modernisasi di bidang pendidikan yang dikenal dengan politik etis tersebut bertujuan untuk membentuk para pamong praja yang loyal kepada Belanda yang mempunyai pola pikir sekular.

Kebijakan-kebijakan inilah yang sebenarnya membentuk struktur Jawa yang terbelah antara Islam dengan Kejawen. Munculnya kelas priyayi dari kalangan pangreh praja yang berpikiran sekular ini mendapat dukungan penuh dari Belanda. Tidak berhenti sampai disitu, sebuah upaya pembentukan kultur anti Islam juga ditumbuhkan di kalangan para pamong praja tersebut.

Sejauh Islam dianggap anti kolonial, kaum priyayi lebih cenderung untuk mengembangkan pola keagamaan yang bersifat kejawen daripada memilih menjadi santri. Ketakutan Belanda kepada orang-orang yang sangat condong kepada Islam mempengaruhi struktur dan kesempatan dalam administrasi kepegawaian pribumi; pada waktu seorang patih yang dilaporkan menghina Islam Islam oleh Belanda dinaikkan pangkatnya menjadi bupati, maka hal ini menjadi pelajaran yang jelas bagi teman-temannya.

Kombinasi antara kepentingan menjinakkan perlawanan Islam dan juga kristenisasi seluruh nusantara yang diwakili oleh Snouck Hurgronje dan Van Lith merupakan perpaduan yang akhirnya melahirkan pemisahan antara Jawa dengan Islam. Bahkan dalam tahap selanjutnya, tidak hanya di dunia pendidikan dan misionarisme, di dunia pergerakan politik pun, upaya memisahkan Jawa dari Islam juga dilakukan. Hendrik Kreamer yang juga salah satu tokoh sentral dalam Studi Agama dan Kebijaksaan Pemerintah Kolonial mengenai agama merupakan tokoh utamanya. Sebagai salah satu penasehat perhimpunan mahasiswa Jong Java, Kreamer memberikan serangkaian perkuliahan mengenari Katolik dan Theosofi. Dalam dinamika tarik ulur antara Islam dan Kejawen, Kreamer memilih berpihak kepada kejawen. Bukan karena simpatinya pada kejawen akan tetapi lebih didorong kesulitan untuk menundukkan muslim orthodoks. Hal ini dikarenakan dalam pertemuan Jong Java dalam pertemuan di akhir tahun 1924, pemimpin rapatnya Raden Syamsurijal menuntut perhimpunan Jong Java untuk juga memberikan perkuliahan tentang Islam. Usulan ini ditolak, dan akhirnya Raden Syamsurijal dan simpatisannya keluar dari Jong Java dan mendirikan Jong Islamieten Bond.

Rujukan

Erdward W Said, 2001 (cet. IV), Orientalisme, Pustaka Bandung

Hamid Fahmi Zarkasyi, Dr, MA, 2005, Mengkritisi Kajian Orientalis, sebuah Pengantar dalam Jurnal Islamia Vol. II No. 3/Desember 2005.

Djoko Suryo, 1997, Kerusuhan Lokal dalam Perspektif Sejarah, dimuat dalam Jurnal Ulumul Qur’an edisi 5 VII/1997, Diterbitkan oleh Lembaga Studi Agama dan Filsafat bekerja sama dengan Pusat Peranserta Masyarakat, hal. 15

Sartono, Katrodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 Kondisi , Jalan Peristiwa dan Kelanjutannya, Sebuah Studi Kasus Mengenai Gerakan Sosial di Indonesia, (Jakarta Penerbit Pustaka Jaya, 1984)

Zamakhsyari Dhofier, , Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1982)

Kareel Steenbrink, 1995, Kawan Dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596 – 1942), Mizan, Bandung.

Belum ada komentar

Leave a Reply