Peran Islam Dalam Memberadabkan Jawa

Arif Wibowo, S.P., MPI.

Salah satu kerugian utama dari kolonialisme menurut Al Attas adalah hilangnya hubungan paedagogis antara Al Qur’an dengan bahasa daerah, disamping dipaksakannya system pendidikan sekuler yang mengusung kebanggaan rasial dan kultur tradisional (pra Islam)[1].

Dari kultur yang sudah tersekulerisasi dan ternatifikasi inilah kemudian oleh para orientalis dan misionaris, budaya Jawa dirumuskan.

Oleh karena itu ketika kita melihat aneka kajian yang dilakukan oleh para orientalis dan misionaris nampak sekali bahwa mereka cenderung untuk memilah bahan-bahan kajian yang sesuai dengan keinginan mereka. Sebuah pemikiran yang menurut KH Hasbullah Bakri sangat terbelakang, karena hanya ingin mempertahankan satu periode saja dari periodisasi sejarah kebudayaan dan mengambil satu lingkungan saja dari beraneka ragam kebudayaan-kebudayaan[2]. Oleh karena itu, selalu yang ditonjolkan adalah karya semacam Serat Centhini maupun Wedhatama dan karya-karya yang semasanya. Tidak hanya itu, beberapa kronik yang tidak jelas siapa penulisnya dan validitas datanya seperti Darmagandhul dan Gatholoco pun diangkat dan dipromosikan sebagai suara hati masyarakat Jawa, seperti yang dilakukan oleh Drewes dan Philip Van Akkeren.

Di era sebelumnya, Raffles, menggali tanah Jawa untuk memunculkan kembali candi-candi, seperti Borobudur yang terkubur material letusan Merapi di tahun 1006. Juga memugar candi Prambanan yang sebelumnya sudah merupakan belukar dan oleh masyarakat setempat dijadikan tempat sampah. Candi-candi itu sebenarnya sudah hilang dari ingatan masyarakat dimana nenek moyang mempunyai kenangan pahit saat pembangunan candi tersebut. Bangunan purba tersebut nantinya akan diproyeksikan sebagai identitas asli masyarakat Jawa.

Hindhu dan Budha Gagal Merangkul Rakyat Jawa

Candi Borobudur dan Prambanan selama ini sering dijadikan ikon kokohnya eksistensi agama Budha dan Hindu Jawa. Padahal, kedua bangunan itu lebih mencerminkan pertarungan antar elite kekuasaan.  Dinasti Syailendra, kaki tangan kerajaan Sriwijaya Palembang di Jawa membangun Borobudur[3].  Para penguasa lokal yang beragama Hindu Syiwa memandang keluarga Syailendra sebagai penjajah asing yang baru saja menancapkan pengaruhnya. Akhirnya pada tahun 856 M, Syailendra berhasil dikalahkan. Untuk mengenang kemenangan ini Rakai Pikatan membangun candi Prambanan, sebagai monument kemenangan kekuasaan Hindu atas kekuasaan Budha[4].

Yang paling menderita di era kebudayaan candi ini tentu saja rakyat jelata dari kasta Sudra dan Paria. Para petani, peternak dan pedagang kecil yang termasuk dalam kasta tersebut dipaksa untuk melakukan kerja bakti membangung candi yang berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya mata pencaharian pun terbengkalai, demikian juga kehidupan keluarganya. Oleh karena itu, untuk menghindari kewajiban kerja bakti kepada para raja, penduduk memilih untuk eksodus keluar dari pusat-pusat pembangunan candi[5]. Hal ini juga dikuatkan oleh kajian dari Prof. Denys Lombard yang menyatakan bahwa penghentian pembangunan gedung-gedung batu berskala besar lebih banyak disebabkan karena kerajaan Budha dan Hindu mengalami kemunduran karena ditinggalkan rakyatnya sendiri yang lebih memilih eksodus ke kota-kota pelabuhan dan sekitarnya[6].

Penguasa selanjutnya dari kalangan Hindu juga masih menjadi horror bagi masyarakat. Sebab pada masa selanjutnya, Hindu, Budha dan aneka kepercayaan lokal telah merubah wajah ajaran Hindu dan Budha pada bentuk baru yakni Syiwa Budha Bhairawa Tantra. Kepercayaan Siwa-Budha Bhairawa Tantra ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut sebagai upacara Pancamakara atau lebih dikenal dengan upacara Ma-lima. Menurut S. Wojowasito,  bentuk upacara (ritual) dari sekte ini sangat mengerikan [7]. Ritual ma lima terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), manuya (minum darah dan memakan daging gadis yang dijadikan kurban), madya (meminum minuman keras hingga mabuk), mutra (menari sampai ekstase), dan maithuna (ritual seks massal di tanah lapang yang disebut setra)[8].

Adityawarman, seorang Radja dari kerajaan Melayu (yang menjadi menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi Adityawarman sangat semerbak baunya[9]. Proses ini jelas tergambar dalam patung Adityawarman di museum nasional yang digambarkan tengah memegang cawan darah, gelas anggur dan ratusan tengkorak yang mengalungi hampir semua bagian tubuhnya.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.