Sabda Palon dan Islam

Susiyanto, SE., MPI.

Rentetan bencana di berbagai belahan tanah air tak urung telah mencuatkan kembali mitos-mitos lama yang pernah berkembang. Di Jawa, serangkaian musibah tidak jarang dihubung-hubungkan dengan mitologi seperti ramalan Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palonatau akrab dikenal dengan sebutan Jangka Sabdo Palon. Dengan berdasarkan visi ramalan ini, sebagian orang meyakini bahwa pulau Jawa akan terbagi menjadi beberapa bagian karena bencana dan ajaran Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh agama “asli” Jawa.

Jangka Sabdo Palon diyakini merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita. Dalam bukunya “Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon”, Moh. Hari Soewarno, seorang budayawan Jawa, menjelaskan bahwa dalam jangka tersebut terdapat sandi nama yang menunjukkan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita (Soewarno,1982:35).

Justifikasi Klaim

Mitos bahwa serangkaian bencana akan terjadi sebagai pertanda  lenyapnya Islam di tanah Jawa, sebenarnya merupakan tradisi tutur yang berkembang akibat kesalahan pemaknaan teks. Kekeliruan pemaknaan ini terjadi akibat kurang komprehensif memahami keseluruhan teks. Mitos yang menisbatkan rujukannya kepada Jangka Sabdo Palon ini telah diamini oleh banyak pihak secara taken for granted. Padahal mitos ini terjadi akibat hanya membaca pupuh pertama saja yang berisi 20 bait tembang “Sinom” dari karya babad tersebut. Jadi hanya berpegang pada sekitar sepertiga isi teks dan mengabaikan dua pertiga sisanya. Munculnya praktik penafsiran demikian, akhirnya menyebabkan maksud utama dari pengarang Serat Jangka Sabda Palon terdistorsi.

Pada masa selanjutnya kesalahan pemaknaan teks tersebut, nampaknya sengaja dipelihara. Mitos berakhirnya ajaran Islam di Jawa dan munculnya “ajaran pengganti” disikapi secara beragam oleh sejumlah pihak yang berkepentingan. Dalam hasil Kongres “Seminar Kebathinan Indonesia I” pada 14-15 Nopember 1959 di Jakarta, Mr. Wongsonegoro, Ketua Umum Badan Kongres Kebathinan Indonesia (BKKI), sempat melontarkan visi nubuatan sumpah Sabda Palon terhadap Prabu Brawijaya sebagai pertanda bagi kebangkitan “kebatinan”. Ia mengklaim bahwa 500 tahun pasca era akhir Majapahit akan berkembang gerakan kebatinan di Tanah Jawa (BKKI,1959:8). Wongsonegoro menganggap bahwa ajaran “pengganti Islam” yang dimaksud dalam Jangka Sabda Palon adalah “Kebatinan”.

Serat Darmagandul yang ditulis lebih belakangan dari “Jangka Sabdo Palon” menyatakan secara simbolik bahwa Agama Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh ajaran Kristen. Buku ini mengisahkan bahwa Prabu Brawijaya yang telah di-Islamkan oleh Sunan Kalijaga meminta kepada Sabda Palon, abdinya, agar mengikuti agama barunya. Sabda Palon menolak ajakan sang tuan dan mengeluarkan “kutukan” bahwa akan banyak orang Jawa yang meninggalkan Islam dan berganti dengan agama kawruh (Darmagandul(a),1955: 63-93).  Agama kawruh tersebut tidak lain adalah Kristen (Drewes,1966:327). Serat Darmagandul ini merupakan karya dari seorang penganut Kristen dan memiliki kedekatan dengan penjajah Belanda (Susiyanto,2010:220-221). Penulisannya dilakukan pada sekitar zaman Kartasura dan Surakarta dimana kekuasaan Belanda benar-benar efektif dalam masyarakat Jawa (Simuh,1986:26). Tentu saja klaim kedua penafsiran di atas tidak lepas dari motif dan kepentingan masing-masing.

Eksistensi Sabda Palon

Lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih sekedar sebagai karya sastra saja. Dalam tradisi oral yang pernah berkembang di Trowulan yang diyakini sebagai situs Majapahit, Sabda Palon dan Naya Genggong, sahabatnya, merupakan tokoh yang dianggap hidup pada masa Majapahit dan bekerja sebagai abdi dalem Keraton yang telah beragama Islam dan perlu ditekankan, tidak Anti-Islam. Brosur resmi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan) bahkan menyebutkan, Sabdo Palon dan Noyo Genggong merupakan nama di antara tujuh orang yang dimakamkan di situs makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Trowulan. (Lihat brosur VisitMajapahit Kingdom Sites. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata – Balai Pelesatarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, Mojokerto). Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut adalah makam abdi dalem Majapahit yang telah memeluk agama Islam. (Ricklefs,2001:5-6;  Lombard,2005:34).

Meskipun demikian “cerita” tentang nama Sabda Palon dan Noyo Genggong di situs Troloyo ini hanya didasarkan kepada tradisi lesan belaka. Kebenarannya sudah tentu sukar diverifikasi. Sangat mungkin bahwa cerita-cerita babad banyak menggali ide dari tradisi oral yang berkembang dalam masyarakat. Tradisi tersebut kemudian diolah dengan penambahan muatan nilai baru dan dimodifikasi sesuai pesan yang hendak disampaikan.

Pemahaman “Ramalan”

Penempatan Jangka Sabda Palon sebagai karya sastra yang memiliki sebuah visi “ramalan” sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh pola cara pandang tertetentu, terutama dari pembacanya. Bagi seseorang yang menyukai klenik, dengan menghubung-hubungkan Jangka Jayabaya dengan sebuah kepentingan tertentu maka bisa saja didapatkan kesimpulan bahwa jangka ini telah ”meramalkan sesuatu”. Cara pandang terakhir inilah yang telah mempopulerkan karya babad tersebut sedemikian rupa.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.