Raden Bratakesawa Dan Disinformasi Kristen

Susiyanto, SE., MPI.

Raden Bratakesawa adalah tokoh Kebatinan”, setidaknya itulah image yang hendak dibangun Harun Hadiwijono, seorang pendeta dan doktor teologi Kristen. Melalui bukunya “Kebatinan dan Injil”, opini Harun tersebut rupanya cukup berpengaruh membentuk citra tentang Bratakesawa. Bukan hanya sejumlah akademisi Kristen maupun Islam telah mengiyakan pendapat ini, buku-buku karya Bratakesawa akhirnya juga dikesankan sebagai “kitab kebatinan”. Keberadaan khalayak pembaca karyanya yang sebagian terdiri dari penghayat “Kebatinan” rupanya turut membentuk anggapan keliru  ini.

Raden Bratakesawa adalah muslim yang mencintai agamanya. Tokoh yang pernah menjadi sekretaris kedua Insulinde Surakarta pada 1919 dan komisaris Serikat Hindia pada 1920 itu juga menggandrungi kebudayaan dan sastra Jawa. Beberapa karya seperti Serat Kunci Swarga, Wirid I.T.M.I (Iman, Tauhid, Makrifat, Islam), Bajanul Chaliq (baca: bayanul khaliq), Bajanul Haqq, Bajanul Iman, dan beberapa lainnya merupakan dokumentasi pencarian dan kesetiaannya kepada Islam. Mantan wartawan Majalah “Panggoegah” itu juga menerbitkan sejumlah naskah kesusastraan Jawa lainnya sebagai wujud kepedulian terhadap warisan masa lalu. Untuk keperluan ini ia mendirikan penerbitan sendiri, “Penerbit Kulawarga Bratakesawa” di Yogyakarta.

Argumentasi Harun yang mendapuk Bratakesawa sebagai tokoh Kebatinan hanya didasarkan pada  karya Bratakesawa ”Serat Kuntji Swarga” dan ”Wirid I.T.M.I.”. Itupun nampaknya dikaji secara tendensius dan tidak sewajarnya. Isi Kunci Swarga sendiri dimaksudkan sebagai ajaran Ilmu ke-Allahan, bukan kebatinan. Definisi kebatinan, bagi Bratakesawa, adalah semua ilmu non-material yang membahas tentang mantra dan kesaktian. Kebatinan, baginya, tidak masuk ilmu ke-Allahan yang ia tuliskan.

Ilmu ke-Allahan, menurut Bratakesawa, adalah pengetahuan yang menerangkan tentang zat, sifat, asma’ dan af’al Allah. Makna ini bisa diperluas dengan menambahkan cara atau metode yang dilakukan manusia untuk berbakti kepada Allah, baik secara lahir maupun batin yaitu dengan menjalani Syari’at, Tarikat, Hakikat, dan Ma’rifat. (Lihat Kuntji Swarga (Miftahu’l Djannati), Jilid I, Cet. V (Keluarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1955), 15). Di sini terlihat bahwa Serat Kunci Swarga adalah karya berdimensi tasawuf.

Bratakesawa sebenarnya menyadari bahwa Serat Kunci Swarga dan Wirid I.T.M.I. telah melahirkan kesalahpahaman. Baik mengacu segi isi maupun terhadap pribadinya. Hal ini, menurut tokoh yang memiliki nama kecil Gatoet Sastrodiharjo itu, karena belum semua pembacanya memiliki titik tolak berfikir yang sama dan mapan. Oleh karena itu ia merasa perlu untuk menjelaskan i’tikadnya melaluiSerat Bajanul Chaliq. Buku ini memaparkan keyakinannya sebagai muslim yang beriman dengan berdasarkan pada dalil naqli (Al Quran dan Hadits) dan dalil aqli (proses berfikir yang berpedoman pada dalil naqli). Menurutnya pemeluk Islam harus menjalankan Rukun Islam dan meyakini Rukun Iman. (Lihat Serat Bajanul Chaliq. (Kulawarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1958), 7-8).

Bratakesawa mengakui, awalnya ia sekedar penganut Islam “statistik”. Kemudian Ia mempelajari beragam ilmu dan membandingkan beragam kitab agama-agama termasuk bible, buku tasawuf, filsafat, dan wirid. Juga berguru kepada sejumlah orang, termasuk mengikuti ceramah sejumlah tokoh theosofi. Proses pencarian itu mengantarkan pada keputusan untuk mendalami ajaran Islam. Sebagai orang beriman ia berusaha menghayati keyakinan dalam Rukun Iman. Keimanannya tandas dalam sanubari, bukan sekedar ikut-ikutan. Rukun Islam telah pula dijalankan, kecuali ibadah haji. Itupun karena belum mampu. (Lihat Serat Bajanul Chaliq, 8-9)

Bratakesawa bukan satu-satunya tokoh yang “didakwa” sebagai tokoh “kebatinan” oleh Harun Hadiwijono. Dalam jajaran ini terdapat pula nama dr. Paryana Suryadipura. Padahal Paryana merupakan tokoh yang getol menyuarakan pentingnya peran lembaga agama dalam penyempurnaan dimensi lahir dan batin manusia. Menurutnya, aliran “kebatinan” sekalipun secara ideal harus bernaung di bawah syari’at agama. Fungsi kebatinan, menurutnya, sekedar wadah memperdalam pengetahuan filsafat. Ia menyesalkan sikap sebagian kalangan kebatinan yang menghina syari’at Islam. Baginya, menempuh dunia batin dengan mengabaikan syari’at adalah tindakan sia-sia, membuang waktu dan tenaga saja. Pemimpin kebatinan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun menciptakan sendiri aturan peribadatan, tanpa mengikuti syara’ dianggapnya telah mengabdi pada kesesatan. Diibaratkan seperti “menjilat sambil meludah” yaitu berusaha mendekat pada Allah namun dengan mengingkari perintah-Nya. “Siapa yang mengada-adakan sara’, kufurlah ia”, demikian Paryana Suryadipura mendeskripsikan i’tikadnya dari isi hadits Nabi – yang sebenarnya menjelaskan tentang persoalan bid’ah. (Lihat dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia Sempurna (Al Insan Kamil), Ceramah di Surakarta 12 Februari 1956).

Lantas, mengapa Harun Hadiwijono melakukan hal itu ? Apakah tindakan itu wujud kesalahpahaman belaka ? Nampaknya tidak. Azyumardi Azra, sejarawan, menempatkan Harun Hadiwijono sebagai salah satu akademisi Kristen yang mempraktikkan strategi dikotomi dan pemisahan oposisional antara Islam dengan kebudayaan Jawa. Diantaranya dengan mensimplifikasi sikap keagamaan masyarakat Jawa sebagai “Kebatinan” (Kejawen). Tujuannya adalah mereduksi dan mengaburkan pengaruh Islam dalam sikap keagamaan itu atau bahkan dalam lapangan kebudayaan yang lebih luas. Bisa ditebak, wajah Islam di Jawa diusahakan semakin memudar dan tersedia peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris. (Lihat Pengantar Azra dalam Karel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian (Mizan, Bandung, 2005), xxii).

Secara sederhana strategi di atas merupakan upaya mengkonstruk framework bahwa Islam dan “dunia batin Jawa” adalah dua kutub yang berseberangan. Polarisasi ini berujung pada terbentuknya gagasan imajiner yang menekankan bahwa Jawa bukan Islam maupun sebaliknya. Sehingga tokoh-tokoh yang telah didapuk sebagai tokoh “kebatinan” secara otomatis bisa dikaburkan jati dirinya sebagai “bukan muslim”. Karya Harun Hadiwijono di atas sejatinya merupakan perpanjangan perang pemikiran belaka, yang kadang tidak terlalu berhajat pada data yang shahih. Dalam kerangka peran di medan budaya Jawa, patokannya sekedar “asal bukan Islam”. Terbukti, di penghujung bukunya ia berusaha mencari-cari titik temu dan bahkan keunggulan Kristen dibandingkan ajaran “kebatinan”.

Beberapa, untuk menyatakan kuantitas yang relatif sedikit, gagasan Bratakesawa – termasuk juga Paryana Suryadipura – mungkin saja berada di luar jalur ortodoksi Islam. Hal ini bisa dimengerti sebab perjalanan pencariannya telah melewati proses yang panjang yang tidak sepenuhnya mulus. Namun tidak serta merta wujud “ketergelinciran” menjadi alasan untuk menerima atribut sebagai representasi kebatinan. Kesimpulan Harun Hadiwijono ini menunjukkan sebuah “pengkhianatan” dari iktikad Bratakesawa sendiri terutama dalam episode pencariannya kepada dan dalam Islam.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.