Jayabaya Versi Syekh Bakir

Susiyanto, S.E., MPI.

Bagi sebagian penduduk Jawa, Jangka Jayabaya dianggap memiliki kedudukan yang istimewa. Kitab “legendaris” ini diposisikan sebagai “panduan” guna mengetahui masa depan kehidupan yang berkembang di atas daratan Pulau Jawa. Secara mitologis keberadaan kitab ini sering dihubungkan dengan adanya nuansa ramalan dan proyeksi jaman. Namun demikian hanya sedikit orang Jawa yang pernah membaca buku ini secara langsung. Bahkan lebih sedikit lagi yang mengetahui bahwa karya sastra ini memiliki banyak versi.

Di antara ragam Serat Jangka Jayabaya, salah satu versi yang ada bercerita tentang Syekh Subakir dan perannya dalam membangun peradaban bangsa manusia di Pulau Jawa. Oleh karena itu Serat Jangka Jayabaya ini sering disebut sebagai “Jangka Jayabaya Syekh Bakir”.[1] Secara tradisi, cerita babad ini dianggap sebagai karya Pangeran Adilangu, pujangga Kasunanan Kartasura. Meskipun demikian karya ini dianggap sebagai karya turunan dari karya sastra lainnya dari jaman yang lebih lampau.[2]

Serat Jangka Jayabaya Syekh Bakir ini berbentuk tembang Macapat yang terdiri dari dua pupuh lagu yaitu tembang Sinom dan Pangkur. Tembang Sinom terdiri dari 26 bait lagu. Sedangkan Pupuh tembang Pangkur terdiri dari 40 bait lagu.  Secara umum, isi Serat Jangka Jayabaya Syekh Bakir berbeda dengan Serat Jangka Jayabaya versi lainnya. Jika dalam kitab jangka yang umumnya bersumber dariJangka Jayabaya versi Musarar[3] biasanya meminjam nama Syaikh Maulana Ngali Syamsujen sebagai sebagai guru Prabu Jayabaya untuk pengantar visi jangka. Maka Serat Jangka Jayabaya Syekh Bakir menggunakan tokoh Syekh Subakir sebagai utusan Sultan Rum, dalam hal ini Sultan dari Turki Utsmani,[4] berusaha untuk mengisi dan membudayakan Pulau Jawa yang masih kosong dari manusia.

Buku ini bercerita tentang pertemuan Syekh Subakir dengan dua sosok yang secara mitologis dianggap sebagai danyang Pulau Jawa yaitu Semar dan Togog. Kedua sosok punakawan dalam dunia pewayangan ini kemudian mengabdi kepada perintah Syekh Subakir yang digambarkan dalam karya sastra ini sebagai pembawa takdir baru dari Allah bagi Pulau Jawa. Setelah Syekh Subakir kembali ke Rum, maka kedua sosok inilah yang menjadi pengemban amanat dan sekaligus pelaksana petuah-petuahnya.[5]

Kristen, Pertanda Jaman Sengsara

Cerita-cerita mitologis dalam Serat Jangka Jayabaya Syekh Subakir sudah seharusnya ditempatkan sekedarnya sebagai sebuah produk kesastraan  belaka. Beberapa gambaran kisah di dalamnya memiliki nuansa sejarah, namun juga bercampur dengan kisah-kisah yang bersifat mitologis semisal cerita wayang. Namun meski demikian, tidak diragukan lagi bahwa karya sastra ini memiliki kandungan pesan yang bersifat ideologis bagi masyarakat Jawa di masa mendatang.

Ajaran Kristen mendapat pembahasan tersendiri dalam karya sastra ini. Meskipun hanya dibahas dalam porsi yang kecil, menariknya Kristen diposisikan sebagai salah satu pertanda Pulau Jawa memasuki era Jaman Sangara. Maksud Jaman Sangara dalam serat ini adalah suatu masa dimana Pulau Jawa mengalami banyak fitnah dan lenyapnya kebenaran akibat setan bercampur dengan manusia. Jaman Sangara ini boleh dikatakan sebagai jaman lenyapnya moralitas manusia dan timbulnya kesengsaraan di Jawa.

Jaman Sangara ini menurut, Jangka Jayabaya Syekh Subakir, antara lain ditandai dengan banyaknya bermunculan fitnah, penganiayaan sesama saudara, pembunuhan kebohongan, menipisnya hasil sumber daya alam, wanita yang hilang rasa malunya, dan banyaknya kaum gay (keh anjamah pada priya, tanpa marem anjamah estri = banyak lelaki yang menjamah sesama lelaki, karena tidak puas dengan perempuan). Digambarkan bahwa pada jaman ini setan telah bercampur dengan manusia sehingga tidak diketahui lagi kebaikan.  Sehingga timbul hukuman dari Penguasa Alam raya berupa beraneka macam bencana alam.[6]

Selain itu tanda Jaman Sangara dijelaskan, bercampurnya setan yang merasuk dalam kehidupan  menyebabkan manusia terjebak penyembahan kepada berbagai tuhan palsu. Kekeliruan itu terjadi ketika wong Jawa mulai meremehkan kitab, mendustakan kebaikan, lupa dengan keberadaan Allah, menyembah berhala, memuja setan, dan menganut Agama Kristen (Serani atau Nashrani). Penyimpangan perilaku ini diungkapkan dalam jangka tersebut sebagai berikut :

Akeh wong maido kitab, akeh wong kang ndorakaken abecik, keh lali maring Hyang Agung, akeh nembah brahala, akeh ingkang ngarepaken lelembut, ana kang mangeran arta, ana kang mangeran serani.”[7]

(Banyak orang meremehkan kitab, banyak orang menganggap kebaikan sebagai dusta, banyak lupa dengan Hyang Agung, banyak menyembah berhala, banyak yang berharap dari makhluk halus, ada yang mempertuhan harta, ada yang mempertuhan Serani”).

Islam, Solusi Jaman “Sengsara”

Jaman sangara sebagai wujud era amoralitas dan kesengsaraan ini, menurut Jangka Jayabaya Syekh Subakir, bukannya tanpa akhir. Semua permasalahan itu akan teratasi dengan munculnya raja yang berasal dari keturunan Kanjeng Nabi Rasul yang bertindak sebagaiRatu Adil. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:

Hyang Sukma anitah Raja, duk timure babaran ing Serandil, maksih tedak Kanjeng Rasul, Ibu wijil Mataram. Seselongan iya iku wijilipun, kang ngadani tanah Djawa, kang djumeneng Ratu Adil.”[8]


[1] Juga disebut sebagai Serat Jangka Jayabaya Syekh Subakir.

[2] Berdasarkan tradisi, menurut C.F. Winter dalam Javaansche Samenspraken I halaman 355, Serat Jayabaya dari era yang lebih kuno dianggap sebagai karya Empu Salukat dari Mamenang yang hidup pada sekitar era Prabu Jayabaya. Sunan Giri II kemudian menggunakan karya tersebut sebagai dasar pijakan untuk membuat karya sastra terkait Serat Jayabaya. Pada masa selanjutnya Pangeran Adilangu melanjutkan membuat karya berdasarkan karya yang telah ada pada masa sebelumnya. Lihat R. Tanoyo (ed.). Djangka Djajabaja Sech Bakir: Ngewrat Pralambang Djangkaning Djaman ing Djagad Punika, Toewin Amratelakaken Tetoeroetaning Babad sarta Djangkanipoen Tanah Djawi, Wiwit Kaisen Manoesa Sakig Ngeroem Ngantos Doemoegi Kijamatipoen Poelo Djawi. (Sadoe-Boedi, Surakarta, 1940). Hal. iii-iv

[3] Salah satu varian Serat Jangka Jayabaya Musarar yang ikatan tembangnya masih “kaku” telah diterbitkan oleh Penerbit Buku “Ejang  Brata”   di Yogyakarta. Ke-”kaku”-an itu menurut penerbit menunjukkan bahwa teks serat belum banyak mengalami perubahan dan penyesuaian. Lihat  Djangka Djadjabaja “Musarar”, (Penerbit Buku Ejang Brata, Yogyakarta, tth) hal. 2

[4] Hal ini berdasarkan penafsiran R. Tanoyo (ed.). Dĵangka Dĵaĵabaĵa Sjèch Bakir. Cetakan II. (Sadoe-Boedi, Surakarta, tth). Hal. 2

[5] Lihat R. Tanoyo (ed.). Dĵangka Dĵaĵabaĵa Sjèch Bakir, Hal.12

[6] R. Tanoyo (ed.). Dĵangka Dĵaĵabaĵa Sjèch Bakir. .. Hal.9-10

[7] R. Tanoyo (ed.). Dĵangka Dĵaĵabaĵa Sjèch Bakir. .. Hal. 10

[8] R. Tanoyo (ed.). Dĵangka Dĵaĵabaĵa Sjèch Bakir. ..Hal. 10-11

Belum ada komentar

Leave a Reply