Baptis Massal Pasca Komunis

Arif Wibowo (Direktur Pusat Studi Peradaban Islam/PSPI Solo)

Penjajahan Belanda, sisa-sisa politik tanam paksa, ditambah krisis ekonomi yang melanda dunia pada tahun 1920, telah mengantarkan rakyat Indonesia pada puncak penderitaannya. Dalam kondisi krisis tersebut, berbagai tindakan radikal dan revolusioner, seperti pemogokan pegawai pegadaian tahun 1922, pemogokan buruh kereta api pada tahun 1923 mencapai titik kulminasinya pada pemberontakan komunis pada tahun 1926 di Jakarta, disusul dengan tindakan-tindakan kekerasan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, (Jakarta : Balai Pustaka, 1993). hlm. 208)

Hanya saja, benarkah semua pemberontakan itu adalah kaum komunis, seperti yang diwartakan oleh koran-koran Belanda pada saat itu? Ada pernyataan Mr. Syafruddin Prawiranegara yang menarik untuk dicermati. “Ketika pada akhir tahun 1926 di daerah Banten terjadi pemberontakan yang dapat digagalkan, dan oleh surat-surat kabar diberitakan sebagai pemberontakan komunis. Syafrudin menjadi lebih penasaran dengan komunisme. Sebab dalam pemberontakan itu, banyak kaum keluarganya yang ikut ditangkap dan dibuang ke Digul atas, bukanlah orang komunis. Mereka adalah kyai-kyai yang sangat teguh memegang dan menjalankan ajaran Islam. (Ajip Rosidi, Sjafruddin Prawiranegara, Lebih Takut Kepada Allah SWT, (Jakarta : Pustaka Jaya, 2011) hlm. 55).

Penyebutan pemberontakan komunis untuk menyebut peristiwa tahun 1926 bisa dikatakan sebagai overgeneralisasi, disamping memang corak komunis pada masa itu masih berjalin kelindan dengan aktivisme kaum muslimin. Pada awal kemunculannya, komunisme di Indonesia memiliki varian komunis muslim, seperti Haji Misbach atau yang lebih dikenal dengan Haji Merah, yang ngotot mengawinkan Islam dengan komunisme. Misbach menerbitkan Majalah Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Haji Misbach di tangkap Belanda pada tahun 1920. Dalam pandangan Haji Misbach ada empat musuh utama umat Islam yaitu Kolonialisme, Kapitalisme, Feodalisme dan Kristenisasi. (Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Bibit Semai Koran Kiri – Komunis di Indonesia, artikel dalam Majalah Basis No. 01-02, tahun ke 58, Januari – Februari 2009. hlm. 19).

Selain varian ‘komunis muslim’, ada juga kaum komunis total, seperti Samaoen, Darsono Alimin Prawirodirdjo dan Tan Malaka yang memang merupakan binaan H.J.M. Sneevliet di Vereniging Spoor en Tramweg-Personeel (VSTP) atau Sarekat Buruh Kereta Api dan Trem. Meski akhirnya Tan Malaka juga lebih dikenal sebagai kaum revisionis, karena tidak berpaham Internasionalisme tapi mencita-citakan Nasionalisme Indonesia yang berpaham Sosialis. Ambiguitas seorang Tan dapat dilihat dari ucapannya yang terkenal “Saya adalah orang Islam di hadapan Tuhan, sekaligus seorang komunis di hadapan manusia.

Pondok Bobrok, Langgar Bubar!

Setelah proklamasi kemerdekaan, tokoh-tokoh komunis yang sempat menyingkir ke luar negeri pada masa pemerintahan kolonial satu per satu pulang ke tanah air. Pada tanggal 21 Oktober 1945, orang-orang komunis di bawah kepemimpinan Muh. Yusuf berhasil mendirikan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI). (Aminuddin Kasdi, Kaum Merah Menjarah, Aksi Sepihak PKI/BTI di Jawa Timur 1960-1965 (Yogyakarta  : Jendela, 2001) hlm. 98).

Cara berjuang diubah dari gaya perjuangan underground menjadi terbuka. Namun ketika kabinet Amir Syarifuddin yang dimulai 3 Juli 1947 dan harus berakhir pada 29 Januari 1948 karena dianggap gagal, maka PKI kembali memunculkan watak aslinya sebagai kaum pemberontak terhadap sistem apapun.  Bung Hatta sebagai pemimpin kabinet baru kemudian melakukan sterilisasi TNI dari pengaruh komunis. Kebijakan yang sangat memukul PKI ini dibalas Muso dengan mendiriebijakan ini terkenal dengan nama reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang. Kebijakan ini sangat merugikan PKI, dibalas Muso dengan mendirikan negara “Soviet Republik Indonesia”.

Dalam pemberontakan itu PKI berhasil menguasai kota Madiun dan kemudian mengangkat Kolonel Djokosuyono sebagai Gubernur Militer Madiun. (Poesponegoro dkk, op. cit., hlm. 155.) Radio setempat terus menyiarkan langsung pidato propaganda PKI. Wajah Madiun pun dirombak total. Sebagai walikota ditunjuk Abdulmutalib, seorang tokoh utama komunis. Korban paling banyak dalam peristiwa ini adalah kaum santri, sebab kalagan pesantren dianggap sebagai penentang utama berdirinya “Soviet Republik Indonesia” ini. Para pemimpin PKI kemudian meneriakkan slogan “Pondok Bobrok, Langgar Bubar dan Santri Mati”, dimana slogan tersebut bukan hanya gertakan tapi benar-benar dilaksanakan.

Pada tanggal 17 September 1948, KH Imam Mursyid pemimpin pesantren Sabilil Muttaqin dan pemimpin tarekat Syattariyah yang kharismatik dari Takeran ditangkap. Tanggal 19 September 1948, KH. Muhammad Nur, ustadz Ahmad Baidhowi, Muhammad Maidjo, Rofi’i Tjiptomartono dibantai dan dimasukkan sumur beserta ratusan korban lainnya. Pesantren Burikan dibakar oleh FDR-PKI, pemimpin pesantren Kebonsari KH. Imam Shafwan beserta kedua anaknya dibantai pada saat memimpin pengajian. Tidak hanya di wilayah Madiun dan Magetan, perburuan para Kyai dan pimpinan pesantren sampai ke wilayah Pacitan dan Ngawi. (H. Abdul Mun’im DZ, Benturan NU dan PKI 1948 – 1965 (Jakarta – Langgar Swadaya Nusantara, 2014) hlm. 55 – 64).

Peristiwa ini menorehkan luka yang sangat dalam di kalangan kaum santri. Oleh karena itu, ketika kemudian PKI bangkit lagi dan menguat, kaum santri tidak ingin kecolongan lagi. Hasutan terhadap massa PKI untuk bergerak nampak sekali dalam pidato Aidit. “Kalau saudara-saudara memang pemberani, lakukanlah tindakan-tindakan terhadap kapitalis-kapitalis birokrat dan kepala-kepala desa serta pejabat yang merintangi engkau.” (Abidin, A.Z, SH, Prof, Baharudin Lopa, SH, Bahaja Komunisme, Kepalsuan Ideologi dan Politiknja, Kebengisan Strategi, Taktik dan Propagandanja, Fakta-Faktanja di Seluruh Dunia, (Jakarta : Bulan Bintang, 1967) hlm. 289).

Pidato Aidit diterjemahkan oleh massa PKI sebagai sebuah intruksi untuk melakukan aksi. Hanya perbedaannya, kalau di tahun 1948, kaum PKI sempat menang dan membantai, pada pemberontakan 1965 mereka menjadi pihak yang kalah, sehingga korban terbanyak justru ada di kalangan PKI.

Belum ada komentar

Leave a Reply