Melacak Jejak Katholik Di Lereng Merapi dan Merbabu

oleh Arif Wibowo, S.P., MPI.

Penduduk yang ramah, udara dingin dan pemandangan indah, mungkin itulah tiga kesan pertama yang akan anda dapatkan bila menyusur jalan diantara Gunung Merapi dan Merbabu yang menghubungkan Kabupaten Boyolali dan Magelang. Sebagai kawasan pertanian, penduduk di kawasan tersebut dalam kesehariannya disibukkan dengan kegiatan berladang dan memelihara ternak. Bisa jadi hal tersebut dikarenakan mereka tidak mempunyai skill selain bertani dan beternak, namun mungkin juga karena bertani dan beternak sudah mendarah daging, sehingga meskipun harga tembakau, kol dan wortel yang menjadi andalan mereka harganya jatuh, mereka tidak berpindah profesi. Kalau dilihat dari bangunan rumahnya kita dapat merasakan bahwa daerah tersebut bukanlah termasuk daerah minus, sebab rata-rata rumah terbuat semen (permanent) minimal semi permanen, namun tidak demikian bila kita bertanya kepada para penduduknya. Hal tersebut hanyalah sisa kekayaan masa lalu, ketika tembakau dan sayuran masih dihargai tinggi.

Kawasan Lereng Merapi dan Merbabu ini memanjang mulai dari Kecamatan Cepogo, Kecamatan Selo di wilayah Boyolali sampai Kecamatan Sawangan yang berada di wilayah Magelang. Mayoritas penduduknya adalah muslim dari kalangan nahdhiyin. Namun karena tidak adanya regenerasi dari ulama yang mendampingi masyarakat, tingkat ke-nahdhiyinannya mulai terdegradasi. Sehingga kita dapat melihat, beberapa tradisi yang tadinya sudah hilang seperti sedekah gunung dan diganti dengan selamatan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, kini atas nama kearifan lokal, tradisi itu muncul lagi. Parahnya dihidupkannya lagi tradisi sedekah gunung mendapat dukungan Pemerintah Daerah dan dijadikan agenda wisata tahunan. Masih mendhing, jika doanya khusus dari kalangan Islam, seperti dulu, dengan alasan penduduk Selo tidak hanya kaum muslimin, maka doa dilaksanakan secara bergiliran oleh masing-masing perwakilan agama.

Meski nampaknya hal tersebut berjalan melalui proses sosial yang alamiah, namun tidak demikian kesimpulan kita, apabila kita mau menggali lebih dalam akar permasalahannya. Kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah,dan tidak adanya regenerasi ulama. Di sini kita dapat melihat bahwa sabda Rasulullah bahwa “kefakiran akan mendekatkan pada kekafiran” memang betul terjadi. Dan kita tidak bisa menyalahkan masyarakat Selo, yang seperti kata sebagian “kapitalis muslim” hal ini dikarenakan masyarakat kurang kreatif sehingga terlindas zaman, kalah dengan missionaris. Potret masyarakat muslim Selo adalah salah potret buram dari banyak lagi masyarakat muslim yang ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya mendampingi mereka yakni para aktifis Islam, ulama dan para asatidz. Maklumlah, membina ke-Islaman masyarakat terpencil memang jauh dari popularitas. Tidak ada kerlip lampu blitz wartawan, tak ada wawancara dengan media, juga tanpa kursi empuk di ruang ber AC. Di sana mungkin juga kita tidak akan ada kesempatan untuk melejitkan kemampuan kita dengan aneka Quantum (Quantum Learning, Quantum Teaching), Pengasahan aneka Quotient seperti EQ, SQ, ESQ dan aneka jenis wacana lain yang mengempower SDM muslim.

Bukan berarti ingin mengkonfrontasikan kesenjangan ini, sebab hal ini lebih merupakan ungkapan keprihatinan. Betapa aktifis muslim kota bisa mendapat banyak, sedangkan mereka yang di daerah terpencil menghabiskan waktu untuk menelusuri jalan setapak, bersillaturahmi dari rumah ke rumah, mengawal adik-adik TPA seminggu sekali bahkan kadang dua minggu sekali untuk memberi semangat agar mereka tetap mau belajar Iqro. Maklumlah untuk wilayah yang sedemikian luas dengan medan yang sulit, hanya lebih kurang 10 orang ikhwan dan akhwat yang betul-betul mau menerobos wilayah-wilayah terpencil di kawasan tersebut. Hal tersebut tentu tidak sepadan apabila dibandingkan dengan kekuatan missionaris yang datang dengan orang yang lebih banyak, konsep yang lebih matang dan dana yang relatif unlimited.

Pasturan, Inkulturasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Tidak cukup hanya dengan debat kristologi, mungkin itulah kesimpulan yang saya ambil ketika saya bergaul banyak dengan para aktifis Islam di kawasan Selo. Apalagi bila kita berhadapan dengan pegiat “dakwah” katholik. Sebab ibarat bermain bola, mereka tidak terobsesi hanya mencetak goal, tapi juga berfikir bagaimana bermain cantik, sehingga bisa membius puluhan ribu penontonnya. Umumnya aktifis katholik yang terjun ke masyarakat juga telah dibekali dengan aneka keahlian. Bagi mereka yang tinggal di Magelang memang tentu sudah tidak asing lagi dengan daerah Pasturan, tempat dimana dulu Van Lith di akhir abad 19 merintis sekolah guru Kolese Xaverius dan seminari, tempat untuk mendidik para imam Katolik. Mungkin sudah ribuan pastur dan biarawati lahir dari tempat ini.

Saat ini di sepanjang lereng Merbabu banyak berdiri padepokan seni, yang bertujuan untuk melestarikan budaya asli masyarakat. Para pendiri padepokan tersebut rata-rata bergelar S.Th bahkan banyak yang “Romo” (istilah untuk pastur) ikut berkecimpung secara aktif. Inkulturasi adalah sebuah proses olah budaya dimana seorang katholik tetap merasa bisa sebagai orang katholik 100% sekaligus juga orang Jawa 100%. Dan mereka konsisten dengan hal tersebut sehingga sampai masalah nama pun bila kita perhatikan, di belakang nama baptis, akan diikuti nama yang sangat njawani. Yang termemo dalam ingatan saya seperti Alloysius Widodo, Petrus Sarijo, Paulus Mujiran dan yang semisalnya. Tidak berhenti sampai di situ, untuk proses sakramen mereka memulainya dengan tarian yang mirip bedhoyo ketawang. Dengan demikian ketika mereka bersentuhan dengan masyarakat bukan katholik setidaknya ada pintu masuk yang tidak mungkin ditolak masyarakat, yakni kesamaan identitas sebagai orang Jawa. Dan mulailah mereka melakukan proses, inkulturasi budaya dengan masyarakat setempat. Secara perlahan mereka memberikan filosofi baru pada budaya Jawa, sehingga dalam bentuk yang sama, filosofinya bisa berubah dari Islam, menjadi humanisme universal yang diselipi kebijakan kristiani. Cobalah buka kembali file-file berita Harian Kompas, liputan tentang kelompok Seni dari lereng Merapi dan Merbabu telah beberapa kali diliput khusus dalam ulasan yang panjang.

Selain mendampingi masalah budaya, para romo, suster dan aktifis katholik juga dibekali ilmu pertanian yang mumpuni. Kampanye back to nature, pertanian organik dan hidup selaras alam, bisa mereka ejawantahkan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Sehingga masyarakat yang merasakan ladang dan sawahnya menurun kesuburannya semenjak pemerintah memaksakan pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia lewat program Panca Usaha Tani, menemukan jawaban melaui ajaran “organik” para pastur. Saya sendiri pernah mengikuti pertemuan petani organik se Jogja dan Jateng di Bantul Yogyakarta. Uniknya pertemuan tersebut di gelar di wisma Maria sebuah panti semedi. Tampil sebagai pembicara para Romo, Suster dan Pemuda Katholik yang sangat mahir berbicara masalah pertanian organik sampai kesalahan kebijakan pertanian di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya dalam bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti oleh para petani yang moyoritas hanya tamatan SD maksimal SMP. Saya hanya bisa berdecak kagum. Tidak berhenti sampai ke tingkat wacana, gereja juga menjadi fasilitator untuk menyalurkan produk pertanian mereka ke ummat katholik di wilayah perkotaan. Selain itu, karena yang hadir juga banyak kalangan muslim, mereka menyediakan satu ruang khusus untuk sholat yang tidak ada salib di dalamnya, dan untuk masalah makan juga tidak ada daging, sehingga yang muslimpun merasa aman dan merasa diorangkan. Namun jangan heran juga bila di acara tersebut ada yang namanya pak Kabul, Kasan (Hasan), Zuhri dan nama-nama muslim namun mereka sudah tidak sholat. Dan karena saya juga tidak tahu agama apa yang tertera di KTP nya saya pun tidak berani mengajaknya untuk ikut sholat berjamaah. Fakta yang lebih besar, meskipun mayoritas warga Selo masih nahdhiyin, tapi dalam pemilihan anggota DPD pada pemilu lalu, nama seorang pegiat LSM Pertanian yang beragama Katholik mendapatkan 80% suara warga Selo.

Selain di bidang pertanian, aktifis katholik juga merambah dunia pendidikan baik untuk ibu-ibu maupun anak-anak. Di sebuah desa saat ini telah berdiri sebuah taman bacaan yag cukup lengkap. Mulai dari bacaan ibu-ibu, pertanian dan tentu saja bacaan untuk anak-anak. Tempat tersebut tak pernah sepi dari anak-anak, dan bisa dibayangkan, untuk para ibu atau bapak mungkin sudah bisa menyeleksi, tapi untuk anak-anak komik adalah sesuatu yang sangat menyenangkan meskipun itu berkisah tentang cerita-cerita dari Bible. Selain Taman Bacaan, kini yang aktif mereka dirikan di tiga desa adalah play group (kelompok bermain). Supaya langkah ini bisa diterima masyarakat, maka dari tenaga lokal yang muslim pun juga dilibatkan sebagai pengajar. Untuk masalah latihan nyanyi toh nggak ada beda dilatih guru Islam atau Katholik, namun untuk menyisipkan nilai-nilai budi pekerti tetap dari pihak katholiklah yang menyampaikan.

Oleh karena itu proses “dakwah Katholik” memang sangat lain dengan berita kristenisasi dengan iming-iming materi atau dengan meminta bantuan Jin seperti yang sering saya baca di media Islam. Proses “dakwah Katholik” adalah sebuah proses panjang dalam intensitas yang tinggi antara aktifis katholik dengan masyarakat muslim. Sehingga apabila terjadi konversi keimanan dari Islam ke Katholik biasanya berjalan tanpa paksaan. Dan kuncinya bukan terletak pada ajaran mana yang lebih benar dan lebih masuk akal, tapi lebih didorong proses balas budi dan kekaguman mereka akan kesantunan dan keuletan aktifis katholik selama mendampingi mereka. Hasilnya adalah penganut katholik yang lebih militant, cerdas dan mempunyai semangat “dakwah” yang tinggi untuk ikut mengajak saudara muslimnya supaya mengikuti jejaknya.

Penutup

Berhenti sampai rasa prihatin tentu bukan penyelesaian masalah. Mungkin yang perlu dirumuskan lagi oleh da’i, ustadz atau ulama yang hendak terjun ke masyarakat, ternyata untuk mendampingi masyarakat tak cukup hanya berbekal pengetahuan akan “surga dan neraka” saja. Harus banyak pengetahuan dan skill lain yang diikutsertakan. Tak ada salahnya juga saya pikir, kita perlu bercermin kepada para misionaris tersebut, sehingga kita bisa menilai mereka secara obyektif, dan merumuskan cara membentengi dengan kepala dingin. Sebab, dari pengalaman, teriakan marah, dan tindakan emosional justru sering menyurutkan langkah kita sendiri.

Belum ada komentar

Leave a Reply