Natal, Isa, dan Yesus dalam Tinjauan Sejarah

Arif Wibowo, S.P., MPI.

Salah satu kontroversi di kalangan umat Islam setiap akhir bulan Desember adalah perdebatan yang tidak kunjung henti mengenai boleh dan tidaknya mengucapkan selamat Hari Natal kepada penganut agama Kristen.

Berbeda dengan keharaman mengikuti misa Natal yang sudah hampir mencapai kata sepakat, kecuali segelintir orang di kalangan muslim. Sedangkan untuk kebolehan mengucapkan selamat Hari Natal menjadi kontroversi yang cukup panjang bahkan di kalangan aktivis dakwah. Kontroversi menjadi berkepanjangan karena yang terjadi adalah proses adu pendapat dari para ulama bahkan adu dalil. Padahal, sebenarnya, wacana tradisi perayaan Natal di kalangan umat Kristen lebih menarik bila diulas dari sisi historis, bukan dari sisifiqhiyah. Sebab tanpa mengetahui sejarah perayaan Natal secara benar umat Islam menjadi rentan untuk terjatuh dalam perdebatan kontroversial yang sebenarnya tidak perlu dan hampir tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat.

Bila ditilik dari nama-nama bulan yang ada dalam kalender Masehi saja kita dapat melihat adanya ketidakakuratan konsep kalender Masehi sejak awal perumusannya. Ambil contoh nama-nama bulan yang ada di bagian akhir Tahun Masehi yang diambil dari bahasa Latin. Kalau dirunut dari akar katanya, bulan September, Oktober, November dan Desember seharusnya adalah bulan ke tujuh, delapan, sembilan dan sepuluh. Septa berarti tujuh, Okta artinya delapan, dan Deca artinya sepuluh, tapi anehnya September adalah bulan ke sembilan, Oktober ke sepuluh, November ke sebelas, dan Desember adalah bulan ke dua belas. Menurut ustadz Sholehan, meskipun jelas salah secara konseptual karena disepakati maka kesalahan itu tetap dipakai sampai sekarang. Dan itu terjadi pada banyak hal.

Masih menurut ustadz Sholehan, betapa banyak hal yang salah yang disepakati untuk tetap dipakai dan akhirnya dipandang sebagai kebenaran menurut orang banyak. Hal inilah perbedaan yang cukup mendasar dengan konsep Islam yang membedakan secara tegas yanghaq dengan yang bathil.

Kata “Natal” itu sendiri pada mulanya adalah istilah yang netral, yang berarti “kelahiran”. Dan itu berlaku untuk segala bentuk kelahiran, baik kelahiran manusia, hewan atau institusi sosial politik maupun keagamaan.  Oleh karena itu di perguruan tinggi misalnya, tradisi merayakan hari lahirnya disebut sebagai Dies Natalis. Istilah Natal kemudian menjadi istilah yang penting dalam dunia Kristen Barat, setelah pada abad ke 6 tepatnya tahun 527 M, seorang rahib yang bernama Dionysius Exiguus atau juga dikenal sebagai ‘Dennis the Small melakukan perubahan kalender yang dipakai oleh kerajaan Romawi, dari kalender Diocletian yang tahun pertamanya diambil dari naik tahtanya kaisar Romawi Diocletian.

Pada masa Dionysius Exiguus, seluruh dataran Eropa sudah menjadi Kristen, sehingga orang perlu penanggalan baru yang memakai patokan tahun pertamanya dari kelahiran Yesus Kristus. Apalagi semasa hidupnya, kaisar Diocletian ini dikenal tidak suka kepada agama Kristen bahkan menyiksa banyak pengikut Kristen. Namun, kata Paus Benediktus XVI dalam buku “Yesus of Nazareth: The Infancy Narratives” yang dirilis hari Rabu (21/11/2012), “Perhitungan awal dari kalender kita -berdasarkan pada kelahiran Yesus  – dibuat oleh Dionysius Exiguus, yang membuat kesalahan dalam perhitungannya sebanyak beberapa tahun. Tanggal lahir Yesus yang sebenarnya lebih awal beberapa tahun,” tulisnya dibuku itu, sebagaimana dikutip The Telegraph.[1]

Kalender yang dibuat oleh Dionysius Exiguus akhirnya diadopsi secara resmi setelah dipakai oleh pastor Venerable Bede (673-735 M), rahib sekaligus sejarawan, untuk menandai tanggal peristiwa penting dalam karyanya Ecclesiatical History of English People yang selesai digarap tahun 731 M. Oleh karena itu menurut John Barton, seorang profesor pakar tafsir naskah-naskah suci Kristen di Oriel College, Universitas Oxford,  “Kebanyakan akademisi sepakat dengan Paus bahwa kalender Kristen salah, dan bahwa Yesus dilahirkan beberapa tahun lebih awal dibanding yang disangka orang selama ini. Kemungkinan, Yesus dilahirkan antara tahun 6 SM dan 4 SM.” Pemikiran bahwa Yesus dilahirkan pada 25 Desember juga tidak memiliki basis fakta sejarah. “Kami bahkan tidak tahu pada musim apa dia (Yesus) dilahirkan. Semua pemikiran tentang perayaan kelahirannya selama masa paling gelap dari sepanjang tahun, kemungkinan berkaitan dengan tradisi pagan dan titik balik matahari di musim dingin,” jelas Barton.

Demikian pula simbol-simbol terkait Natal, sebenarnya tidak terkait dengan kekristenan. Menurut ustadz Sholehan, pohon Natal diambil dari tradisi orang-orang Skandinavia, dimana pohon cemara adalah pohon yang senantiasa hijau meski saat musim dingin yang ekstrim sekalipun, sehingga pohon cemara dipercayai sebagai pohon kehidupan (yang abadi) atau evergreen. Pengistimewaan orang Skandinavia atas pohon cemara ini kemudian diadopsi oleh gereja untuk perayaan Natal sebagai simbol keabadian kasih Yesus untuk umatnya. Sedangkan masuknya unsur musikal dalam liturgi di gereja juga tidak lepas dari faktor kesejarahan. Pada masa awal kekristenan, orang-orang Romawi yang terbiasa hidup dengan seni pada perayaan keagamaannya masuk ke gereja dan memainkan musik serta mendendangkan lagu. Pada awalnya oleh pihak gereja diusir, karena dianggap membawa unsur pagan dalam gereja. Akhirnya para pemusik tersebut tidak masuk ke gereja, mereka memainkan musik di depan gereja pada saat kebaktian berlangsung. Dan ternyata aktifitas bermusik mereka menarik minat masyarakat, sehinga mereka tidak mau masuk gereja tapi menonton kemahiran para musisi tersebut. Untuk kembali menarik minat masyarakat supaya mau mengikuti peribadatan, akhirnya gereja memasukkan musik sebagai salah satu liturginya. Sebab prosesi ibadah, atau liturgi dalam kristen bukanlah bersifat tauqify sebagaimana ibadah mahdhah dalam Islam. Ia adalah perpaduan antara faith dan cummulative cultural, kata seorang pastor kepada saya, ia juga bisa berasal dari mimpi suci para Imam.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.