Snouck Hurgronje pun Mendukung Sekolah Kristen

Muhammad Isa Anshory, SS, MPI

Snouck Hurgronje adalah arsitek politik Islam pemerintah Hindia Belanda. Dia lah yang meletakkan dasar-dasar kebijakan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat jajahan mereka di Indonesia yang beragama Islam. Dia menekankan pentingnya kebijakan asosiasi kaum Muslim dengan peradaban Barat.

Cita-cita seperti ini mengandung maksud untuk mengikat jajahan itu lebih erat kepada penjajah dengan menyediakan bagi penduduk jajahan itu manfaat-manfaat yang terkandung dalam kebudayaan pihak penjajah dengan menghormati sepenuhnya kebudayaan asal (penduduk). Agar asosiasi ini berjalan dengan baik dan tujuannya tercapai, pendidikan model Barat harus dibuat terbuka bagi rakyat pribumi. Sebab, hanya dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau setidaknya dikurangi.

Perjumpaan Politik Asosiasi dan Politik Kristenisasi

Meskipun Snouck Hurgronje cenderung terpengaruh oleh liberalisme sehingga terlihat bersikap netral terhadap agama, tetapi politik asosiasi yang dia rekomendasikan dalam kenyataan bertemu dengan politik Kristenisasi. Misi Kristen sendiri berpendapat bahwa apabila asosiasi dapat dipenuhi, mereka dapat berusaha agar bisa lebih diterima oleh penduduk. Sebaliknya, pertukaran agama penduduk menjadi Kristen akan menguntungkan negeri Belanda. Sebab setelah masuk Kristen, mereka akan menjadi warga negara yang loyal lahir batin kepada pemerintahan Belanda. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, hlm. 26-27)

Snouck Hurgronje menganggap kebudayaan Barat jauh lebih unggul daripada kebudayaan Timur Islam. Dari perasaan superioritas itulah, Snouck Hurgronje menyerang syariat Islam. Seperti para orientalis lain pada masanya, dia percaya bahwa “kebudayaan Eropa” tidak mungkin memberantas “orang-orang bodoh Muslim”, kecuali jika mereka melepaskan diri dari agama “reaksioner”. Oleh karena itu, dia tidak bersemangat atas pengiriman misi pekabaran Injil. Pada waktu yang sama, dia juga tidak memberi perintah untuk melarang pengiriman misi ke Hindia Belanda, kecuali jika mayoritas penduduknya menganut Islam, mereka diperintahkan menjalankan muslihat dan bujuk rayu.

Di samping itu, dia pun menggalakkan pembukaan sekolah-sekolah misi dengan harapan agar penganut Islam secara berangsur beralih ke agama Kristen. Cara demikian ditempuh karena ratusan ribu penduduk merindukan pendidikan, tetapi mereka tidak menyukai pendidikan Kristen untuk anak-anak mereka. Aktivitas mereka pun didasarkan pada politik asosiasi karena dia berpendapat bahwa penyebaran sekolah-sekolah berpola Eropa merupakan satu-satunya sarana untuk mewujudkan impian, sekali pun hal itu dilakukan melalui sekolah-sekolah misi. (Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, Jilid X,  hlm. 165-166)

Kepada para zendeling dan misionaris, Snouck mengingatkan bahwa Kristenisasi pribumi tetap harus dalam kerangka politik asosiasi. Snouck mengatakan, “Mereka yang percaya pada Kristenisasi umat Islam pribumi (telah saya katakan mengapa saya tidak ikut berharap) paling tidak harus melihat dalam penyatuan bangsa dan politik para kawula Belanda sebagai langkah pertama menuju ke sana. Oleh karena itu, mereka harus bekerja keras untuk menunjangnya. Memang seperti halnya orang Belanda mana pun, dari sekte dan kelas mana pun, misionaris lebih diterima oleh rekan setanah air kita di Timur, yang berperadaban kita, daripada oleh kawula pribumi yang berasal dari rezim yang lama, yang mudah-mudahan segera lenyap.” (C. Snouck Hurgronje, Nederland en de Islam, hlm. 94)

Kristenisasi Melalui Sekolah Menurut Snouck Hurgronje

Dalam masalah Kristenisasi, pendapat Snouck sangat halus dan berhati-hati. Snouck tidak menentang Kristenisasi dan kegiatan zending secara mutlak. Dia hanya tidak menyetujui cara-cara zendeling yang tergesa-gesa dan tanpa mempertimbangkan keadaan lapangan sehingga bisa membahayakan politik di Hindia Belanda. Snouck merestui Kristenisasi dengan syarat dilakukan secara luwes dan jujur. Snouck mengatakan, ”Zending Kristen dapat pula bebas bekerja di kalangan kaum Muslimin Indonesia, tanpa takut akan bahaya, asal cara-cara yang dipakai tetap Kristiani yang sesungguhnya, yakni jujur.” (Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, Jilid X, hlm. 166)

Agar politik asosiasi dan Kristenisasi bisa berjalan beriringan, Snouck memberikan nasihat kepada misi Kristen. Kristenisasi dengan cara tidak langsung melalui pengajaran, pengobatan, dan pertanian di wilayah Islam dinilai tidak banyak menghasilkan penahbisan. Dalam masalah pendidikan, misalnya, umat Islam dengan senang hati memanfaatkan kehadiran ”kita” (zending dan kolonial Belanda) apabila murid tidak diwajibkan memperoleh pendidikan agama. Oleh karena itu, Snouck menasihatkan, “Misi masih dapat terus menuju ke arah itu, namun untuk sementara waktu harus puas tanpa penyebaran semangat Kristen di kalangan masyarakat yang belum mau menerima ajaran agama itu. Demikian pula dengan misi pengobatannya.” (Nederland en de Islam, hlm. 92)

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.