Kristen Tidak Masuk Indonesia Pada Abad VII

Susiyanto, SE., MPI.

(Kritik Atas Buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia)

Waktu kedatangan sebuah agama di suatu wilayah nampaknya memiliki arti strategis bagi entitas agama yang bersangkutan. Ini penting bagi agama tersebut sebagai titik tolak membangun jati diri berdasarkan kesejarahan.

Tidak aneh jika kemudian sejumlah sarjana Kristen Protestan maupun Katholik berusaha menggali “peristiwa” ini. Setidaknya hal tersebut diharapkan berfungsi menjadi substitusi bagi sejarah “kelam” dimana selama ini telah menyandang atribut sebagai “agama penjajah”.

Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap., seorang pastor, dalam bukunya “Indonesianisasi Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia” menyatakan bahwa Agama Kristen, dalam hal ini Katolik, tiba di Indonesia lebih awal dari Agama Islam. Boelaars memperkirakan Katolik telah hadir pada abad VII di desa Pancur, Barus, Tapanuli. Sebagai rujukan, Boelaars meminjam analisa Jan Baker, SJ dalam tulisannya “Gereja Kristen Tertua di Indonesia” untuk menegaskan gagasan “kehadiran” awal tersebut.[1] Meskipun demikian Boelaars mengakui bahwa tidak terdapat jejak-jejak yang hidup maupun peninggalan sejarah yang membuktikan “kehadiran” itu.

Gagasan “Katolik Perintis” di nusantara ini dikembangkan dari tulisan sejarawan muslim Syaikh Abu Shalih al-Armini dalam karyanya “Tadhakur fihi Akhbar min al-Kanais wa’l Adyar min Nawahin Misri wal Aqtha’aha” yang ditulis pada abad XII. Karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggis oleh B.T.A. Evetts dengan judul “The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries” dan diberi catatan oleh A.J. Butler, MA, FSA. Dalam karya tersebut Syaikh Abu Shalih al-Armani menyebutkan adanya kota Fahsûr dimana terdapat memiliki komoditas perdagangan berupa camphor (al-kafurdalam bahasa Arab).

Fahsur, Bukan Fansur

Tulisan yang menjadi rujukan Boelaars, awalnya berasal dari makalah Jan Bakker, SJ berjudul “Gereja Tertua di Indonesia” yang dimuat di Majalah Basis No. 18 (1969) hlm. 261-265. Tulisan itu adalah derivasi dari makalahnya yang lebih lengkap berjudul “Umat Katolik Perintis di Indonesia”.[2] Tulisan ini menjadi bagian dari versi resmi “Sejarah Gereja Katolik Indonesia” yang dipublikasikan oleh Bagian Dokumentasi – Penerangan Kantor Waligereja Indonesia.[3] Dalam uraiannya, banyak argumentasi yang dikembangkan untuk mendukung gagasan bahwa kedatangan Katolik di Indonesia dimulai pada abad VII. Meskipun demikian, satu-satunya referensi yang dianggap kuat dan menjadi sumber primer wacana tersebut berasal dari karya Syaikh Abu Shalih al-Armini, sejarawan muslim, dalam “Tadhakur fihi Akhbar min al-Kanais wa’l Adyar min Nawahin Misri wal Aqtha’aha”. Oleh karena itu untuk menyingkap fakta “kehadiran” Kristen tersebut bisa dilakukan dengan membaca ulang karya ini.

Tulisan Abu Shalih al-Armini dalam teks manuskrip yang dimaksud adalah sebagai berikut:[4]

Bakker menggunakan karya Abu Shalih yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul “The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries” oleh B.T.A. Evetts, MA dan diberi catatan oleh A.J. Butler MA, F.S.A. Bakker sendiri menterjemahkan kutipannya ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Abu Shalih, setelah memberitakan tentang gereja-gereja di India Selatan (Quilon, Travancore dan Mahamailiapura), menulis tentang keadaan Sumatra sebagai berikut:

“FANSUR: DI SANA TERDAPAT BANYAK GEREJA DAN SEMUANYA ADALAH DARI NASARA NASATHIRAH, DAN DEMIKIANLAH KEADAAN DISITU. DAN DARI SITU BERASALLAH KAPUR BARUS DAN BAHAN ITU MERECIK DARI POHON. DALAM KOTA ITU TERDAPAT SATU GEREJA DENGAN NAMA: BUNDA PERAWAN MURNI MARIA”.[5]

Selanjutnya hal ini bisa dibandingkan dengan terjemahan B.T.A. Evetts dengan Bahasa Inggris sebagai berikut:

Fahsûr. Here there are several churches ; and all the Christians here are Nestorians ; and that is the condition of things here. It is from this place that camphor comes; and this commodity [is a gum which] oozes from the trees. In this town there is one church named after our Lady, the Pure Virgin Mary.[6]

Nampak bahwa Bakker telah mengalihkan kata Fahsûr menjadi FANSUR.[7] Selain itu juga menterjemahkan kata Bahasa Arab al-kafur (camphor) menjadi “KAPUR BARUS”. Kemudian informasi dari Abu Shalih bahwa terdapat “Kristen Nestorian” dianggap keliru oleh Bakker dan ia “meluruskannya” sebagai Katolik. Dengan adanya “pengubahan” ini maka Bakker sejak awal berusaha memunculkan kesan tentang adanya bukti “Gereja-gereja Katolik telah terdapat di sebuah desa bernama Pancur, Barus, Sumatra Utara” pada abad VII.

Belum ada komentar

Leave a Reply