Dari Agama Wahyu ke Agama Budaya

Muhammad Isa Anshory, SS, MPI (Peneliti PSPI)

Penulis mengawali buku ini dengan membahas masalah mendasar dalam teologi Kristen, yaitu kematian Yesus. Pembahasan masalah ini bersumber dari teks-teks Bibel sendiri yang mengandung banyak problem dan kontradiksi. Selama ini, umat Kristen telah menerima begitu saja dogma tentang penyaliban Yesus tanpa banyak bertanya atau menelisik ke sumber aslinya tentang beberapa kejanggalan seputar kisah penyaliban. Pertanyaan yang mengganggu keimanan tidak layak diteruskan karena hanya menyebabkan umat menjadi ragu.

Dalam Kristen ditanamkan doktrin, “Aku ada bukan karena logis menurut akal manusia. Aku ada karena sebuah kontradiksi teologi. Aku ada karena sebuah campur tangan pemuka kaumku. Karena memang modifikasi dogma bagian diriku. Aku semakin diimani, meski semakin jauh dari nalar dan nurani.”

Umat Kristen meyakini bahwa penyaliban Yesus merupakan pengorbanan untuk menebus dosa-dosa manusia. Sebuah pertanyaan kritis diajukan oleh penulis, “Pengorbanan Yesus: sukarela atau terpaksa?” (hlm. 18) Pada saat-saat terakhir kehidupan Yesus, dia bersembunyi di Taman Getsemani bersama-sama dengan murid-muridnya. Di dalam Bibel disebutkan,

Maka sampailah Yesus bersama-sama muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya, “Duduklah di sini, sementara aku pergi ke sana untuk berdoa.” Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar. Lalu kataNya kepada mereka, “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Matius 26: 36—38)

Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (Matius 25: 56)

Perasaan sedih, gentar dan mau mati rasanya menunjukkan Yesus belum sepenuhnya siap menghadapi kematian yang harus dia jalani. Dia meminta murid-muridnya untuk menemaninya, sayangnya semua murid meninggalkannya. Sungguh tragis nasib Yesus, muridnya pun meninggalkannya; sebuah teladan buruk dari murid yang tidak setia.

Lebih tragis lagi ketika sudah berada di tiang salib, Tuhan pun meninggalkan Yesus. Perhatikan pernyataan Bibel berikut ini!

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27: 46)

Penentuan waktu dalam Bibel tersebut juga merupakan sesuatu yang mengandung problem dan bersifat kontradiktif. Selain ayat di atas, Injil Markus 15: 25 juga menyatakan bahwa Yesus disalib pada pukul 9, sedangkan Injil Yohanes 19: 14 menyebutkan pukul 12 Yesus belum disalib karena baru persiapan Paskah. Sementara itu, Injil Matius dan Lukas tidak menjelaskan pukul berapa Yesus disalib.

Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: ‘Raja orang Yahudi’.” (Markus 15: 25)

Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: “Inilah Rajamu.” Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan dia! Salibkan dia!” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain daripada Kaisar.” Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (Yohanes 19: 14-16)

Hal yang penting diajukan sesungguhnya adalah apakah saat itu (tahun nol Masehi) sudah ada jam yang menunjukkan angka 1 sampai 12? Boleh jadi pada waktu itu sudah ada jam pasir atau jam matahari, tetapi kedua penunjuk waktu tersebut jelas belum menunjukkan angka 1 sampai 12. Pasalnya, penting untuk diketahui bahwa jam sebagai penunjuk waktu (dengan menyertakan angka 1 sampai 12) pertama kali dibuat oleh insinyur muslim bernama Taqiyuddin yang hidup pada zaman Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809 M). Taqiyuddinlah yang pertama kali membuat jam bermesin yang bergerak menggunakan rangkaian gir dan pegas yang berdetak dan dilengkapi dengan alarm. Taqiyuddin juga merancang menara jam dan jam saku. Khalifah Harun ar-Rasyid menghadiahkan jam tersebut kepada Charlemagne, penguasa Perancis. Charlemagne merasa takjub ketika melihat jam tersebut berdentang. Dia menyangka jam tersebut mengandung sihir.

Orang Eropa baru membuat jam 300 tahun setelah orang Islam membuatnya. Jam yang dikendalikan oleh pemberat, dibuat di Eropa pada tahun 1300 M. Orang Barat mulai membuat arloji di Jerman pada tahun 1525 M. Dengan demikian, dapat disimpulkan tulisan Bibel yang menyebut angka 9 pagi, jam 12 siang dan jam 3 sore jelas-jelas dibuat atau disisipkan pada tahun-tahun tersebut. (hlm. 30-32)

Belum ada komentar

Leave a Reply