Dari Agama Wahyu ke Agama Budaya

Kemunculan Paulus

Sepeninggal Yesus, para muridnya berkelompok membentuk jemaat yang terdiri dari murid-murid terkemuka, di antaranya adalah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Thomas, Bartholomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot, dan Yudas bin Yakobus. Jemaat awal ini menetapi wasiat Yesus agar berpegang teguh pada Taurat dan Injil Yesus, serta mewartakan Kerajaan Allah hanya di lingkungan Yahudi saja. Dengan demikian, keimanan mereka dapat disebut sebagai umat pengikut Yesus dari golongan Yahudi, atau Jemaat Asli, atau jemaat awal, atau Jemaat Yerusalem, atau Jemaat Soko Guru. Sampai dengan waktu itu belum muncul agama Kristen yang notabene adalah untuk menyebut agama atau jemaat yang didirikan oleh Paulus di luar Yerusalem. Karena jumlah orang Yahudi yang menjadi pengikut Jemaat Awal semakin bertambah banyak, tokoh-tokoh Yahudi lama yang menentang Yesus dan jemaatnya menjadi kebakaran jenggot. Mereka merasa ada sempalan baru dalam agama Yahudi yang akan memorak-porandakan tatanan lama sebelum kedatangan Yesus. Hal inilah yang menimbulkan kekacauan, penyiksaan-penyiksaan, intimidasi sampai pada pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pengikut Yahudi tradisi lama (Saduki, Farisi dan lain-lain) terhadap pengikut Yesus.

Saat itulah baru muncul Paulus atau Saulus, seorang Yahudi dari paham yang paling keras, yaitu kaum Farisi, sebagai salah seorang tokoh pembantai yang terkenal kejam dan tangannya berlumuran darah pengikut Yesus jemaat awal. Salah seorang tokoh jemaat awal yang menjadi korban keganasannya adalah Stefanus. Stefanus mati di hadapan Paulus yang menyetujui pembunuhan terhadapnya. (hlm. 48)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. (Kisah Para Rasul 8: 1b)

Kebiadaban dan keganasan yang dilakukan Paulus terhadap jemaat Tuhan sungguh di luar batas kemanusiaan. Hal yang paling sulit diterima akal sehat bahwa hal tersebut dilakukan oleh seorang “calon rasul”. Rupanya Allah Bapa tidak menyiapkan rasulNya dari kalangan orang-orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, tetapi justru dari kalangan pendosa semacam Paulus. (hlm. 58)

Ketika sedang melakukan perjalanan ke Damsyik, Paulus melihat gambaran Tuhan yang belum pernah dilihatnya. Pada saat itulah dia menyatakan pertobatannya.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapakah engkau, Tuhan?” Katanya, “Akulah Yesus yang engkau aniaya itu. Tetapi bangunlah daqn pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” (Kisah Para Rasul 9: 3-6)

Pertanyaan, “Siapakah engkau, Tuhan?” jelas menunjukkan bahwa Paulus belum pernah melihat Yesus sebelumnya. Setelah “fenomena penampakan” itu Paulus menjadi buta dan tidak makan minum selama tiga hari. Untunglah seorang murid “Tuhan” yang bernama Ananias datang memberi pertolongan. Ananias menyembuhkan penyakit Paulus, memberinya makan, dan membaptisnya. (hlm. 62-63)

Selama tinggal beberapa hari di Damsyik, murid-murid di Damsyik menaruh curiga dan prasangka kepada Paulus. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus?” (Kisah Para Rasul 9: 21)

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.