Nilai-Nilai Pendidikan Dalam QS An-Nuur : 15

Muhammad Isa Anshory, SS. MPI

Bagi kaum Muslimin, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah dua sumber utama pengetahuan dan petunjuk. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad sendiri mempunyai otoritas sebagai penafsir dan teladan yang par excellence terhadap pesan-pesan Al-Qur’an. Oleh karena itu, selain tindakannya (sunnah) dianggap normatif bagi kaum Muslimin, secara logis juga mengikuti ajaran Al-Qur’an.[1]

Al-Qur’an sering menggunakan pengulangan untuk menekankan konsep-konsep kunci tertentu secara mendalam ke dalam jiwa pendengarnya. Oleh karena itu, kata Allah dan Rabb, misalnya, diulang masing-masing sebanyak 2.800 dan 950 kali. Asal kata dasar ‘ilm, termasuk yang berkaitan dengan alam (dunia) disebut sebanyak 750 kali, menempati urutan ketiga dalam tabulasi dan jumlah angka. Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud mengutip kesimpulan Rosenthal tentang frekuensi penyebutan istilah dalam Al-Qur’an, “Terbukti bahwa istilah-istilah yang benar-benar penting bagi Nabi disebut dalam Al-Qur’an dengan frekuensi lebih besar dibanding lainnya. Sebaliknya, istilah-istilah yang mengekspresikan gagasan yang dianggap tidak sebagai unsur penting bagi dakwahnya, cenderung rendah dalam skala tabulasi kata.”[2]

Frekuensi munculnya kata ‘ilm yang sangat sering dalam Al-Qur’an mengindikasikan bahwa konsep ini sangat penting. Di antara ayat Al-Qur’an yang mengandung kata ‘ilm adalagh An-Nur: 15. Allah berfirman,

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُ ۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬

(Ingatlah) pada waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal ia di sisi Allah adalah besar. (An-Nûr [24]: 15)

Tafsir Ayat

Ayat ini mempunyai korelasi dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 11 hingga 14, dan ayat-ayat sesudahnya, yaitu ayat 16 hingga 20. Oleh karena itu, kita tidak bisa memahaminya secara terpisah dari keseluruhan ayat tersebut. Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan hadîts al-ifki, yaitu berita bohong yang menuduh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ melakukan zina. Aisyah ikut bersama rombongan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan pulang setelah selesai dari suatu perang. Ketika pasukan beristirahat, Aisyah pergi untuk menunaikan hajatnya. Dia sempat kembali pada saat pasukan hendak berangkat, namun berbalik lagi karena kalungnya terjatuh. Orang-orang menyangka bahwa Aisyah telah masuk ke dalam tandu sehingga mereka pun mengangkatnya dan menaikkannya ke atas punggung unta. Aisyah akhirnya berhasil menemukan kalung yang hilang itu, namun dia tertinggal jauh oleh pasukan. Dia kemudian menunggu dan tertidur di tempat pasukan beristirahat tadi. Pada pagi harinya, sahabat Shafwan ibnul Mu‘atthal As-Sulami yang berjalan di belakang pasukan menemukan Aisyah yang sedang tertidur. Dia mengucapkan innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn dan segera menderumkan untanya untuk dinaiki Aisyah. Setelah itu, dia berangkat menuntun unta itu sampai berhasil menyusul pasukan. Tidak ada perbincangan sepatah kata pun antara dia dan Aisyah sepanjang perjalanan tersebut.

Meskipun demikian, orang-orang munafik kemudian menyebarkan berita bohong dan tuduhan keji bahwa Aisyah telah berzina dengan Shafwan ibnul Mu‘atthal As-Sulami. Berita ini menyebar ke seluruh penjuru Madinah. Banyak orang menjadi korban berita ini dengan mempercayai seakan-akan ia adalah benar, terlebih setelah peristiwa tertinggalnya Aisyah dari pasukan tadi, Aisyah sakit selama sebulan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahkan sempat meminta pendapat Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid tentang kemungkinan menceraikan istrinya. Dalam kondisi yang genting itu, wahyu dari Allah juga tidak kunjung turun. Beliau mendatangi Aisyah di rumah orang tuanya. Beliau mengucapkan syahadat, lalu bersabda, “Amma ba‘du. Aisyah, aku mendengar begini dan begitu tentang dirimu. Kalau kamu tidak bersalah, pasti Allah akan menyatakanmu tidak bersalah. Tapi kalau kamu telah melakukan suatu dosa, mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah. Sebab, kalau seorang hamba mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya.”

Aisyah tidak mampu menjawab sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dia hanya bisa menangis. Kedua orang tuanya pun juga tidak mampu menjawab sabda beliau. Akhirnya, dia berkata, “Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar hal ini hingga ia tertanam kuat dalam hati kalian dan kalian mempercayainya. Kalau aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah, padahal Allah tahu bahwa aku tidak bersalah, pasti kalian tidak akan mempercayai ucapanku.”

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.