Nilai-Nilai Pendidikan Dalam QS An-Naml : 40

Muhammad Isa Anshory, SS. MPI

Allah berfirman,

قَالَ ٱلَّذِى عِندَهُ ۥ عِلۡمٌ۬ مِّنَ ٱلۡكِتَـٰبِ أَنَا۟ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَ‌ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُ ۥ قَالَ هَـٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّى لِيَبۡلُوَنِىٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُ‌ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ۬ كَرِيمٌ۬

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab[1], “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml [27]: 40)

Tafsir Ayat

Ayat ini merupakan bagian dari ayat-ayat yang menyebutkan kisah dakwah Nabi Sulaiman ‘alaihis salâm kepada Ratu Bilqis yang akhirnya masuk Islam. Diceritakan bahwa Nabi Sulaiman menolak untuk menerima hadiah dari Ratu Bilqis. Dia mengancam utusan Ratu Bilqis bahwa apabila kaum dan ratunya tidak mau datang kepadanya dengan patuh dan tunduk, maka dia akan memobilisasi pasukan yang besar untuk menimpakan bencana dahsyat kepada mereka. Nabi Sulaiman akan membunuh siapa saja, menjadikan orang yang masih hidup sebagai tawanan, dan mengusir mereka semua dari negeri mereka. Dia juga akan mengambil harta mereka sebagai rampasan perang. Dalam ayat-ayat sebelumnya disebutkan bahwa mereka takut terhadap ancaman Nabi Sulaiman dan mau memenuhi dakwahnya. Ratu mereka beserta para pembesar kaumnya akhirnya berangkat ke tempat Nabi Sulaiman. Ketika Sang Ratu telah dekat, Nabi Sulaiman berpendapat untuk mendatangkan singgasananya sebelum dia tiba agar hal itu menjadi petunjuk atas kemahakuasaan Allah, menguatkan kenabiannya, dan memperlihatkan bukti-bukti dari segala arah. Nabi Sulaiman bertanya kepada para pengawalnya, “Siapakah di antara kalian yang mampu mendatangkan singgasananya sebelum dia sampai kepada kita?” Salah satu jin bernama ‘Ifrit menjawab bahwa dia mampu mendatangkan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat dia duduk untuk memerintah dan mengeluarkan keputusan.[2]

Allah berfirman melanjutkan kisah berikutnya,

قَالَ ٱلَّذِى عِندَهُ ۥ عِلۡمٌ۬ مِّنَ ٱلۡكِتَـٰبِ أَنَا۟ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَ‌ۚ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” 

Sebagian ahli tafsir menafsirkan maksud, “…seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab…”, bahwa kitab yang dimaksud adalah Taurat. Sebagian ahli tafsir lagi mengatakan bahwa orang tersebut mengetahui nama Allah yang Paling Besar. Sebagian lagi berpendapat selain yang pertama dan kedua. Menurut Sayyid Quthb, pendapat-pendapat itu tidak ada yang meyakinkan. Urusan sebetulnya mudah bila kita melihatnya dengan fakta. Berapa banyak dari alam semesta ini yang tidak kita ketahui kerahasiaannya? Berapa banyak kekuatan yang tidak dapat kita pergunakan? Berapa banyak rahasia dan kekuatan dalam diri kita sendiri yang tidak kita pergunakan? Oleh karena itu, kapan pun Allah menghendaki untuk memberikan rahasia dan kekuatan itu kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, maka kejadian karamah yang luar biasa pasti terjadi dan tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia yang biasa. Semua itu bisa terjadi dengan izin Allah, pengaturan-Nya, dan penundukan dari-Nya. Tidak seorang pun dapat melakukan hal itu tanpa kehendak Allah walaupun telah mencobanya.[3]

Lalu, siapakah orang yang mendapat ilmu dari Al-Kitab ini? Ada beberapa pendapat mengenai hal itu. Ibnul Jauzi menyebutkan dalam kitabnya, Zâd Al-Masîr fî ‘Ilm At-Tafsîr, apakah yang mendapatkan ilmu dari Al-Kitab itu manusia atau malaikat. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pertama, dia manusia. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Adh-Dhahak, dan Abu Shalih. Pendapat ini pun kemudian dirinci menjadi empat.

  • Dia adalah orang dari Bani Israil. Namanya Ashaf bin Barkhaya. Demikian pendapat Muqatil. Ibnu Abbas berkata, “Dia dipanggil Ashaf. Ketika itu, Ashaf berdiri di atas kepala Sulaiman dengan membawa pedang. Allah lalu mengirim para malaikat. Mereka membawa singgasana Ratu Bilqis di bawah bumi dengan menggali lubang panjang hingga bumi di hadapan Sulaiman menjadi terbelah karena singgasana.”
  • Dia adalah Sulaiman sendiri. Seseorang memang berkata kepadanya, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Sulaiman menanggapi, “Kalau begitu, lakukanlah!” Akan tetapi, orang itu berkata, “Engkau ini seorang nabi putra seorang nabi. Jika engkau berdoa kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan singgasana itu.” Sulaiman lalu berdoa kepada Allah. Allah pun mendatangkan singgasana itu. Demikianlah pendapat Muhammad ibnul Munkadir.
  • Dia adalah Nabi Khidhir. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnul Hai‘ah.
  • Dia seorang ahli ibadah yang ketika itu keluar dari sebuah pulau di lautan. Sulaiman bertemu orang tersebut. Orang tersebut lalu berdoa agar didatangkan singgasana Ratu Bilqis. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Zaid.

Kedua, dia adalah malaikat. Pendapat ini kemudian dirinci menjadi dua.

  • Dia adalah Jibril ‘alaihis salâm.
  • Dia adalah salah satu malaikat yang Allah utus untuk memperkuat Sulaiman. Demikian yang dikemukakan oleh Ats-Tsa‘labi.[4]

Mana yang benar? Menurut Hamka, yang benar adalah yang ditulis di dalam Al-Qur’an itu sendiri bahwa ada orang yang mendapat ilmu dari Al-Kitab, mungkin dari Lauh Mahfuzh, sanggup memindahkan singgasana itu sekejap mata. Adapun nama orangnya siapa, tidaklah penting. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak mementingkan nama tersebut. Sebab, hal itu adalah semata-mata kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Hamka pada akhirnya mengambil pendapat bahwa orang itu adalah Nabi Sulaiman sendiri. Dia menolak pendapat yang menyatakan bahwa orang itu adalah Nabi Khidhir karena riwayat tentang hidupnya Nabi Khidhir tidak kuat. Dia juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa orang itu adalah Ashaf bin Barkhaya. Alasannya, masakah Ashaf lebih hebat ilmu pengetahuannya daripada Nabi Sulaiman sendiri?[5]

Sementara itu, Sayyid Quthb mendukung pendapat bahwa dia bukan Nabi Sulaiman. Alasannya, apabila orang itu adalah Nabi Sulaiman sendiri, maka pasti redaksi telah menyebutkannya dan tidak menyembunyikan namanya, sedangkan kisah tersebut adalah tentang Sulaiman sendiri. Apalagi, tidak ada untungnya menyembunyikan nama Sulaiman sendiri pada situasi yang sangat ramai seperti itu.[6]

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.