Nilai-Nilai Pendidikan Dalam QS An-Naml : 42

Muhammad Isa Anshory, SS. MPI

Allah berfirman,

فَلَمَّا جَآءَتۡ قِيلَ أَهَـٰكَذَا عَرۡشُكِ‌ۖ قَالَتۡ كَأَنَّهُ ۥ هُوَ‌ۚ وَأُوتِينَا ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهَا وَكُنَّا مُسۡلِمِينَ

Ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya[1] dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml [27]: 42)

Tafsir Ayat

Ayat ini juga masih berkenaan dengan kisah dakwah Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis. Setelah melakukan perjalanan jauh dari Saba’ (Yaman), sampailah Bilqis beserta para pengawalnya di kerajaan Nabi Sulaiman di Palestina. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firmannya,

  فَلَمَّا جَآءَتۡ قِيلَ أَهَـٰكَذَا عَرۡشُكِ‌ۖ  قَالَتۡ كَأَنَّهُ ۥ

Ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.”

Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi menafsirkan ayat ini bahwa maksudnya, ketika Bilqis datang dan melihat singgasananya, dia ditanya, “Apakah singgasanamu seperti ini?” Dia menjawab dengan kecerdikan akalnya. Dia berkata, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.” Dia tidak berani memastikan bahwa itu adalah singgasananya. Mungkin saja singgasana itu mirip singgasananya.

Mujahid mengatakan, “Bilqis ragu-ragu antara mengakui dan mengingkari. Dia merasa heran dengan datangnya singgasana itu di sisi Sulaiman. Oleh karena itu, dia berkata, ‘Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.’” Sementara itu, Muqatil berkata, “Bilqis mengetahuinya, namun dia memberi jawaban yang samar kepada mereka sebagaimana memberi pertanyaan yang samar kepadanya. Seandainya dia ditanya, ‘Apakah ini singgasanamu?’, tentu dia akan menjawab, ‘Ya.’”

Ketika Bilqis menduga bahwa dengan hal itu Sulaiman ingin menguji kecerdasannya dan menunjukkan sebuah mukjizat kepadanya, dia berkata, “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Maksudnya, kami diberi ilmu mengenai sempurnanya kekuasaan Allah dan benarnya kenabianmu sebelum terjadinya mukjizat ini dengan menyaksikan perkara burung Hud-hud dan mendengar tanda-tanda yang menunjukkan hal itu dari para utusan kami kepadamu. Sejak saat itu, kami tunduk kepadamu sehingga tidak perlu memperlihatkan mukjizat-mukjizat lain kepadaku.[2]

Makna Ilmu

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna ilmu dalam ayat ini. Mereka juga berbeda pendapat mengenai siapa yang mengatakan kalimat, “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Zâd Al-Masîr fî ‘Ilm At-Tafsîr. Menurutnya, ada tiga pendapat mengenai tafsir ayat (وَأُوتِينَا الْعِلْمَ).

Pertama, ini adalah perkataan Nabi Sulaiman. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid. Kemudian mengenai makna ilmu dalam ayat ini, ada dua pendapat. Pendapat pertama bermakna kami diberi ilmu mengenai Allah dan kemahakuasaan-Nya atas apa pun yang Dia kehendaki sebelum kedatangan wanita ini (Bilqis). Pendapat kedua bermakna kami diberi ilmu mengenai keislamannya dan kedatangannya dengan tunduk patuh sebelum dia datang, sedangkan kami senantiasa berserah diri kepada Allah.

Kedua, ia adalah perkataan Bilqis. Tatkala melihat singgasananya, dia berkata, “Aku telah mengetahui tanda ini. Kami diberi ilmu mengenai benarnya kenabian Sulaiman dengan tanda-tanda yang telah mendahului.” Maksudnya adalah perkara burung Hud-hud dan para utusan yang dikirim sebelum diperlihatkannya tanda ini. “Kami adalah orang-orang yang berserah diri dan tunduk terhadap perintahmu sebelum kami datang.”

Ketiga, ia adalah perkataan kaumnya Nabi Sulaiman. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Mawardi.[3] Ibnul Jauzi tidak menjelaskan makna ilmu untuk pendapat yang ketiga ini.

Relevansi dengan Pendidikan

Beberapa poin penting berkaitan dengan pendidikan yang bisa kita tarik dari penafsiran ayat ini adalah sebagai berikut.

Pertama, seorang pendidik boleh menguji peserta didik untuk mengetahui kemampuan akal dan fisiknya. Ketika Ratu Bilqis tiba di Palestina, Nabi Sulaiman mengujinya dengan pertanyaan, “Seperti inikah singgasanamu?” Tanya jawab adalah salah satu metode pengajaran yang cukup efektif. Selain untuk menguji kemampuan, tanya jawab juga bisa merangsang rasa ingin tahu peserta didik.

Kedua, bersikap tawadhu‘ dan cermat dalam menghadapi ujian. Ketika Bilqis ditanya, “Seperti inikah singgasanamu?”, dia menjawabnya dengan cermat dan penuh ketawadhu‘an, “Sepertinya ini singgasanaku.” Dia tidak memastikannya karena pertanyaan Nabi Sulaiman adalah pertanyaan yang samar. Oleh karena itu, dia memberikan jawaban yang setimpal.  Demikian pula, seorang peserta didik harus cermat memperhatikan pertanyaan yang diajukan oleh pendidiknya. Dia harus memberikan jawaban dengan penuh ketawadhu‘an meskipun tahu bahwa pertanyaan yang diajukan kepadanya hanyalah untuk menguji.

Ketiga, ilmu adalah sebab mendapatkan hidayah. Ratu Bilqis akhirnya memeluk Islam setelah mendapatkan dakwah dari Nabi Sulaiman. Dengan kecerdasannya, dia memperhatikan tanda-tanda benarnya kenabian Sulaiman dan agungnya kekuasaan Allah. Oleh karena proses perhatian ini, Allah memberikan ilmu kepada Bilqis. Ilmu ini kemudian mengantarkannya untuk masuk Islam. Masalah ini penting dipahami oleh pendidik maupun peserta didik. Ketika menyampaikan ilmu, seorang pendidik harus berupaya menjadikan hal ini sebagai sarana untuk mengantarkan peserta didiknya mendapatkan dan meningkatkan hidayah. Begitu pula sebaliknya. Ketika mencari dan mempelajari ilmu, peserta didik harus menyadari bahwa hal ini adalah sarana untuk mendapatkan dan meningkatkan hidayah. Ketika pendidikan tidak mengantarkan peserta didiknya untuk mendapatkan hidayah, berarti pendidikan itu telah gagal.


[1] Maksudnya pengetahuan tentang kenabian Sulaiman a.s. Balqis telah mengetahui kenabian Sulaiman itu sebelum dipindahkan singgasananya dari negeri Saba’ ke Palestina dalam sekejap mata.

[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsîr Al-Marâghî, Jilid 19, hlm. 143-144.

[3] Abul Faraj Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Al-Jauzi, Zâd Al-Masîr fî ‘Ilm At-Tafsîr, Jilid 6, hlm. 178.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.