Muslim Tak Berhabitat (1)

Arif Wibowo, S.P., MPI.

“Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane Yo surako… surak hiyo”

Tembang itu diiringi dengan musik lesung yang rampak. Meski hanya lesung, namun di tangan almarhum mas Slamet Gundono, dalang wayang suket, yang memang maestro di bidang ini, iramanya menjadi sangat kaya. Nampak jelas keriangan alami, baik dari para pemuda dan gadis yang melantunkan tembang tersebut, bapak-bapak dan ibu-ibu yang memainkan musik lesung, maupun anak-anak kecil yang ikut menari sambil bernyanyi sebisanya. Acara tersebut diadakan untuk memperingati 500 tahun dakwah Sunan Kalijaga. Bagi saya hal tersebut adalah pengalaman baru, sebab baru kali ini saya diundang untuk sharing pengetahuan dengan beberapa teman pegiat kebudayaan Jawa, tentang peran walisanga dalam melakukan dakwah Islam di tanah Jawa, wa bil khusus tentang Sunan Kalijaga yang memang mendapatkan tempat tersendiri dalam diri muslim Jawa.

Tema ini menjadi menarik, karena dalam beberapa tahun belakangan ini, untuk wilayah Solo dan sekitarnya memang sedang terjadi semacam ketegangan budaya, antara mereka yang selama ini masuk kategori muslim ber “Qur’an Hadits”, berhadap-hadapan dengan mereka yang sering disebut sebagai kaum tradisionalis dan kelompok abangan. Terjadi semacam pemisahan kultural yang tegas, yang tidak hanya dalam dunia ide dan gagasan tapi sudah sampai ke ranah sosial, seperti perebutan masjid sampai pada takfir kebudayaan.

Jawa Yang Tak Lagi Penting

Kalau kelompok kaum tradisionalis mendapat gelar Ahlul Bid’ah, maka budaya kelompok abangan mendapat gelar yang lebih menyakitkan yakni budaya syirik. Yang satu dinajiskan, yang satu seolah ditendang dari barisan umat Islam lewat campaign-campaign yang intensif melalui ta’lim, bulettin maupun radio. Perpisahan identitas Islam dengan kebudayaan Jawa ini ternyata juga merambah dunia perbukuan. Kalau kita menengok toko buku Gramedia Solo, ada satu lapak khusus yang menyajikan buku-buku bertema kebudayaan Jawa. Dari sekitar duapuluh judul buku yang di sajikan di lapak tersebut, tidak lebih dari empat buku yang temanya berbau Islam. Itupun lebih tentang Syekh Siti Jenar versi Abdul Munir Mulkhan. Enam belas buku lainnya bercerita kebudayaan Jawa yang minus wacana ke Islaman. Bahkan dalam buku karya (terutama karya cendekiawan Katolik), sudah mulai dipopulerkan istilah agama Jawi, sebuah istilah yang baru dikenal pasca Geertz menerbitkan penelitiannya yag diberi judul Religion of Java. Suatu hal yang tentunya sangat memprihatinkan, sebab agama Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat Jawa, justru mendapatkan posisi minoritas dalam pembahasan kebudayaan Jawa. Jawa adalah Borobudur dan Prambanan, Jawa adalah Majapahit dan Gajah Mada, yang mafhum mukhalafahnya adalah, Jawa bukan Demak Bintoro, Sultan Agung Hanyokrokusumo ataupun Sunan Kalijogo.

Yang menyedihkan, di tengah upaya penyingkiran identitas ke Islaman dari budaya Jawa, dari kalangan penerbit yang katanya milik aktifis, yang muncul malah buku dengan “Ensiklopedi Bid’ah dan Syirik Jawa”. Jadi ketika kajian orientalis yang dimulai sejak zaman Snouck Hurgronje, yang menyatakan bahwa Islam hanyalah lapisan tipis terluar dari kebudayaan Jawa, ibarat baju rombeng yang bolong-bolong dan di dalamnya masih Hindu Budha sebagaimana kata Van Lith, kini diamini dengan keras, justru oleh sebagian umat Islam sendiri, bukan umat Islam biasa, tapi justru dari kalangan aktifis dakwahnya. Maka fenomena yang marak terjadi dimana-mana, adalah pertarungan antara pendakwah dengan komunitas muslim tradisional. Akibatnya integrasi Islam dengan kebudayaan Jawa, yang pada masa penjajahan Belanda saja masih terjaga, dimana kalau ada orang Jawa murtad, disebut Wong Jawa ilang Jawane, seperti yang ditulis pendeta Jans Aritonang dalam buku Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia, setelah enampuluh lima tahun kita merdeka, justru definisinya jadi berubah, yakni mereka yang merasa telah tekun ber Islam merasa tidak perlu lagi nggondheli identitas ke Jawa annya. Yup, karena Jawa adalah bid’ah dan musyrik dalam satu paket katanya.

Hingga sepertinya syair Pangeran Diponegoro, yang dikutip Pakubuwana V dalam Suluk tembangraras, hanya menjadi legenda yang sekedar diingatpun menjadi tidak layak.

Setelah memeluk agama yang suci ini (Islam)
Setiap batang rumput di tanah Jawa
Mengikuti Sang Nabi yang telah terpilih.

Kesatuan mistis antara Islam sebagai identitas keagamaan dengan Jawa sebagai identitas etnis adalah dongeng masa lampau, meski sisa-sisanya masih bisa saya rasakan di masa kecil, dimana seorang premanpun akan merasa marah bila identitas keIslamannya diganggu. Saat dimana orang-orang abangan yang dituduh PKI oleh orde baru pun memerintahkan anaknya untuk mengaji selepas maghrib. Tidak hanya tembang lir-ilir yang dihafal oleh hampir semua anak kecil, tapi juga Kidung Rumeksa Ing Wengi-nya Sunan Kalijaga, menjadi lantunan para orang tua yang tidak taat syareat sekalipun. Meski “dereng saged nglampahi”, kala itu Islam tetap sebuah identitas yang tidak akan pernah dilepas.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.