Muslim Tak Berhabitat (2)

Arif Wibowo, S.P., MPI.

(Pelajaran Berharga Dari Magelang)

Srengenge Nyunar Kanthi Mulyo
Angine midit klawan reno
Manuke ngoceh ana ing wit-witan
Kewane nyenggut ana ing pasuketan
Kabeh pada muji Allah kang mulyo
Kabeh pada muji Allah kang mulyo

Telinga saya langsung akrab dengan lagu tersebut, lagu yang sudah saya hafal sejak masih TK itu, dinyanyikan oleh paduan suara ibu-ibu kampung berkebaya dengan apiknya, diruang samping saya ngobrol dengan seorang rohaniawan non muslim di sebuah kampung di lereng Merapi. Ditemani ustadz Susiyanto, pakar Darmogandul dan mas Muslih, mahasiswa pasca sarjana CRCS UGM, saya menemui rohaniawan tersebut berkait dengan tugas kuliah, yang saya sudah lupa mata kuliah apa. Nama ini direkomendasikan oleh Pak Yai Dian Nafi, pengasuh pondok pesantren Al Muayad Windan. Selain sebagai rohaniawan, tokoh yang saya temui ini juga merupakan pegiat lingkungan yang cukup vokal dalam mengkritik kegiatan penambangan pasir di lereng Merapi yang diyakini akan merusak lingkungan hidup. Orangnya tenang, dan diskusi kamipun berjalan lancar dan akrab, bahkan ketika diskusi itu menyangkut masalah-masalah sensitif di bidang keimanan. Namun bukan isi diskusi yang ingin saya kupas di sini, saya lebih tertarik mengenai perubahan demografi keagamaan di dukuh ini.

Dukuh D, sebut saja begitu nama tempatnya. Awalnya masyarakat di dukuh tersebut adalah muslim tradisional, dengan tradisi yasinan, barzanji, manaqiban dan sebagainya. Meskipun banyak warga desa yang belum sholat, tapi bila acara komunal itu digelar, semua orang menghadirinya. Dakwah di daerah tersebut belum terlalu lama, sebab sebelumnya masyarakat di daerah tersebut adalah kaum abangan yang secara politik berafiliasi ke PKI, bahkan termasuk basis pendukung PKI. Mulai tahun 1970 ana, secara pelan tapi pasti, melalui perkumpulan yasinan dakwah mulai berkembang. Surah Yasin bagi masyarakat Jawa memang mempunyai posisi tersendiri, sebab pada surat inilah relasi santri abangan, sekuat apapun afiliasi politik memisahkan mereka, pada saat upacara kematian dan setelah kematian, surat Yasin ini tetap menjadi jembatan penghubung sesama orang Jawa. Seperti yang dikemukakan oleh CC Berg dan Nakamura :

Justru pada jantung religius kaum abangan, yaitu di dalam kehidupan ritual mereka, mereka betul-betul tergantung pada pertolongan kaum santri. Hanya santri lah yang dapat memimpin doa di dalam ritus yang paling sentral dari orang-orang abangan, yaitu slametan. Juga santrilah yang dapat memimpin upacara ketika seorang abangan mengalami, apa yang disebut Malinowsky krisis yang paling utama dan paling final dalam kehidupan, yaitu : kematian

Jamaah yasinan, yang dilengkapi dengan tahlilan itupun mulai dilengkapi dengan kegiatan pembacaan barzanji dan manaqiban. Akhirnya mushola dan masjid pun mulai didirikan. Banyak warga yang akhirnya belajar sholat dan mengaji. Aktifitas mushola dan masjid mulai hidup, karena separoh warga sudah melaksanakan sholat lima waktu, yang belum sholatpun kalau pas Jum’atan ada yang datang, sedang kalau di acara yasinan dan tahlilan hampir semuanya berpartisipasi.

Situasi guyub dan rukun itu menjadi agak terusik ketika salah seorang warga desa mendatangkan seorang da’i garis keras. Semua amalan jama’i seperti yasinan, tahlilah, manaqiban pun di bid’ahkan, dan konsekuensi bid’ah adalah neraka. Berbeda dengan da’i kampung bersahaja yang merintis dakwah di desa itu, dai garis keras ini fasih mengutip ayat Al Qur’an dan Hadits. Masyarakatpun terguncang dan mulai terbelah dalam kubu yang saling bermusuhan. Belum lagi guncangan itu reda dan menemukan keseimbangan baru, muncul lagi kelompok yang menyatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at kepada amirnya akan mati jahiliyah dan konsekuensinya adalah neraka. Suasana tambah panas, sebab masing-masing kubu jadi menghilangkan tegur sapa satu dengan yang lainnya.

Sampai suatu ketika, seorang rohanianawan dari agama lain masuk. Ia tidak menyerang Islam, tidap pula menyerang siapapun. Ia, hanya ingin mengajak masyarakat hidup rukun, dan ruang untuk rukun itu bisa ditemukan lagi bila mereka mau nguri-uri budaya leluhur. Sebab sebelumnya mereka adalah masyarakat yang rukun. Seni macapat, jathilan dan dolanan anak tradisional mulai diajarkan, masyarakat gembira sebab setidak nya hal tersebut mencairkan ketegangan yang terjadi di masyarakat. Secara pelan dan halus, pendakwah itu mulai memasukkan beberapa nilai agamanya, kepada masyarakat. Tidak melalui konsep teologi yang rumit, tapi sebuah teologi praktis tentang betapa sesungguhnya Tuhan telah memberi karunia besar pada mereka.

Teologi praksis itu ia sebut teologi air. Ia ajak masyarakat menyusuri sungai, sawah dan hutan sambil diajarkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan air untuk menyangga kehidupan. Dan kini konsep itu dikembangkan, tiap sabtu dan minggu ratusan orang dari berbagai kota berwisata alam di daerah tersebut. Masyarakat dilibatkan jadi pemandu mereka untuk menelusuri sungai, sawah dan hutan, dan menerangkan pada orang-orang kota tersebut, betapa bahagianya mereka menjadi penghuni desa yang diberik berkat banyak oleh Tuhan. Air yang jernih, sawah yang subur dan hutan yang menyejukkan. Para ibu-ibu sibuk memasak menyiapkan aneka makanan tradisional untuk sarapan para tamu dan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Anak-anak kecil mengajak para tamu anak-anak bermain congklak, sudahmanda, gobaksodor dan anek mainan tradisional, sementara beberapa seniman muda menyuguhkan tari dan nyanyi tradisional. Sebuah kegembiraan yang dinikmati siapa saja. Dan berapa kini jumlah umat Islam di sana ? Tinggal 30 %, lalu kemana da’i garis keras itu yang tak paham habitus obyek dakwahnya itu ? Tak lagi Nampak batang hidungnya.

Tiba-tiba saya ingat komentar Mbah Nun soal dakwah yang lebih bersifat mengusir daripada memanggil ini. “Kalau kamu ketemu dengan kucing yang jatuh di comberan yang airnya hitam dan bau, jangan cuma kamu tuding sambil kau khotbahi, “Wahai kucing yang hidup dalam comberan yang kotor, bangkitlah, keluarlah engkau dari kegelapan menuju cahaya, minadz-dzulummati ila nur” Ya kucingnya paling cuma nengok sambil bilang, meooong-meoong. Yang harus kita lakukan adalah, mengangkatnya dari comberan kemudian memandikannya. Perkara baju kita jadi kotor-kotor sedikit tidak apa-apa. Kotoran itu malah terlihat indah, sebab ia membuahkan pertolongan yang menyelamatkan.” Saya lupa persisnya kalimat Mbah Nun tersebut, tapi kurang lebihnya seperti itulah maknanya.

Belum ada komentar

Leave a Reply