Tinta Merah di Lembar Sejarah :  PKI dan Penulisan Sejarah Pemberontakan Madiun 1948

Penolakan umat Islam terhadap PKI yang dikaitkan dengan pemberontakan Madiun, ditanggapi Aidit dengan aksi bersih diri.Aidit menolak PKI disebut memberontak.Ia menyebut pemberontakan Madiun sebagai aksi membela diri. Hal ini diungkapkannya pada September 1954,

“…Kawan Musso pada waktu itu tidak memberi komando kepada kami supaja ber-dujun2 datang kepada alat2 pemerintah Hatta-Sukiman-Natsir menjerahkan batangleher untuk dipantjung atau menjerahkan diri untuk ditembak. Tidak, Kawan Musso memberi komando kepada kami kaum komunis untuk mengadakan perlawanan jang gagah berani. Kami tidak menjerah dan tidak minta ampun, karena kami tidak bersalah.”(Aidit: 1964)

Bagi Aidit dan PKI, Hatta, Sukiman dan Natsir memang biang kerok ‘Peristiwa Madiun.’Telunjuk mereka tanpa ampun diarahkan kepada ketiga orang tersebut.Kata-kata seperti provokasi, keganasan, berlumuran darah menghiasi tuduhan PKI kepada Hatta, Sukiman dan Natsir. Aidit sendiri menyatakan,

“Dengan ini mendjadi djelas, bahwa memang benar dalam peristiwa Madiun tangan Hatta-Sukiman-Natsir cs. berlumuran darah.”(Aidit: 1964)

PKI memang setidaknya sejak 13 September 1953 meracik ulang sejarah Pemberontakan Madiun menurut versi mereka. Sejarah Madiun versi mereka itu dikeluarkan oleh Politbiro CC PKI, yang menurut mereka sebagai bentuk pembelaan diri terhadap tuduhan dan fitnah seputar ‘Peristiwa Madiun.’ ‘Peristiwa Madiun’, begitu PKI menyebut ‘Pemberontakan Madiun.’ Sejarah Pem berontakan Madiun menurut versi mereka lebih banyak memusatkan perhatian pada peristiwa-peristiwa penculikan tentara pro FDR/PKI, dan eksekusi terhadap Musso dan Amir Sjarifuddin yang tanpa melalui proses peradilan. Aidit tampaknya tak memusingkan bahwa konflik rumit antara tentara terutama pasukan Panembahan Senopati (yang lebih pro PKI/FDR) dan Pasukan Siliwangi, serta elemen-elemen lain telah berlangsung lama.Korban yang jatuh pun dari kedua belah pihak. Pun Aidit (PKI) menganggap Presiden Sukarno hanya ditunggangi oleh Hatta untuk menumpas PKI. (Aidit: 1964)

“Saja katakan sepenuhnya tanggungdjawab pemerintah Hatta, karena Hattalah jang mendjadi Perdana Menteri ketika itu. Tetapi karena Hatta tahu pengaruhnja sangat ketjil dikalangan  Angkatan Perang dan alat2 negara lainnja, apalagi di kalangan masjarakat, maka Hatta menggunakan mulut Sukarno dan memindjam kewibawaan Sukarno untuk membasmi Amir Sjarifuddin dan be-ribu2 putera Indonesia asal suku Djawa.”(Aidit: 1964)

Padahal kita mengetahui yang berpidato di radio untuk membungkam pemberontakan Madiun adalah Sukarno sendiri.Sukarno mengajak rakyat untuk memilih antara ia dan Hatta atau PKI-Musso. Bagaimana pun juga persoalan konflik politik elit diaduk-aduk PKI dalam penulisan sejarah pemberontakan Madiun, nyatanya terjadi pembantaian secara massal terhadap ulama dan para santri. Pihak yang sebenarnya tak ada urusan dalam konflik politik elit saat itu.

Mengenai pembantaian para kiyai dan santri serta elemen masyarakat yang lain oleh PKI tersebut, Aidit dalam Menggugat Peristiwa Madiun menjawab,

“Ini adalah di-lebih2-kan dan ini adalah pemutarbalikan kenjataan. Kekedjaman jang tidak ada taranja bukan mulai dengan apa jang dinamakan ‘Kaum Komunis berhasil merebut kekuasaan di Madiun’, tetapi dimulai dengan pembunuhan setjara terror terhadap colonel Sutarto dan pentjulikan serta pembunuhan terhadap 5 perwira TNI di Solo.” (Aidit: 1964)

Penulisan sejarah Pemberontakan Madiun versi PKI setidaknya diterbitkan dengan tiga dokumen berbeda, yaitu Buku Putih tentang Peristiwa Madiun,Menggugat Peristiwa Madiun, dan Konfrontasi Peristiwa Madiun (1948) – Peristiwa Sumatera (1956) (Aidit: 1964). Upaya PKI tekun mengaduk-aduk penulisan sejarah menjadi cara mereka untuk membersihkan diri dari peristiwa Pemberontakan Madiun 1948.

Kini, isu seputar komunisme berkembang jauh, peristiwa 1965 digadang sebagai isu besar pelanggaran HAM. Beragam wacana seputar peristiwa 1965 muncul. Pembahasannya menunjuk seputar pelanggaran HAM yang terjadi tahun 1965 dan mengupayakan rekonsiliasi antara pelaku pelanggaran HAM dan korban. Namun jika dicermati isu ini bergulir lebih jauh hingga pencabutan TAP MPRS No. XXV/1966. Pendapat-pendapat yang muncul juga ada yang nampak menyalahkan umat Islam sebagai pelaku pelanggaran HAM dan cenderung menepikan PKI sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pusaran konflik pada masa itu. Penulisan sejarah seperti ini, mengingatkan kita akan penulisan sejarah Pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan oleh PKI, seperti yang telah disinggung di atas.

Di lain sisi, sebagian penulisan peristiwa 1965 yang kini masih dijadikan pegangan adalah penulisan sejarah peristiwa 1965 versi rezim Orde Baru. Tak dapat dipungkiri, penulisan sejarah peristiwa 1965 versi Orde Baru sebagian juga menjadi alat legitimasi bagi penguasa. Penulisan sejarah peristiwa 1965 setidaknya terdapat beberapa versi lain, diantaranya; versi Cornell Papers yang menyebut persoalan internal Angkatan Darat; versi Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson yang menunjuk CIA; versi A. Dake dan John Hughes yang menyebut keterkaitan Sukarno; hingga versi Manai Sophiaan dan Oei Tjoe Tat (Lesmana: 1999 dan Sulastomo: 2006). Maka saat ini dibutuhkan penulisan kembali sejarah peristiwa 1965 yang lebih proporsional dan utuh, sehingga generasi umat Islam saat ini dapat melihat peristiwa 1965 secara utuh dan memahami sepak terjang komunisme di Indonesia.


Daftar Pustaka:

Aidit, D.N. 1955. Menudju Indonesia Baru. Jakarta: Jajasan Pembaruan.

Aidit, D.N. 1964. Konfrontasi Peristiwa Madiun (1948) – Peristiwa Sumatera (1956). Jakarta: Jajasan Pembaruan.

Aidit, D. N. 1964. Menggugat Peristiwa Madiun. Jakarta: Jajasan Pembaruan.

Lesmana, Tjipta. 1999. 33 tahun G-30-S/PKI; Meluruskan Kembali Sejarah dalam Membuka Lipatan Sejarah; Menguak Fakta Gerakan PKI. Jakarta: Pustaka Cidesindo.

Musso. 1953. Djalan Baru untuk Republik Indonesia. Jakarta: Jajasan Pembaruan

SD, Subhan. 1996. Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Soetanto, Himawan. 1994. Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sulastomo. 2006. Di Balik Tragedi 1965. Jakarta: Yayasan Pustaka Umat.

Tim Penyusun Jawa Pos. 1990.Lubang-Lubang Pembantaian. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti

Kembalinya Sang Komunis Tua. Tempo Interaktif Selusur edisi Musso.

Satu komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • TINTA MERAH DI LEMBAR SEJARAH : “PKI DAN PENULISAN SEJARAH PEMBERONTAKAN MADIUN 1948” – Warta Muslimin
    19 September 2017 at 11:13 - Reply

    […] Tulisan ini dimuat di kolom “renungan” di laman http://www.taman-adabi.com Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) 31 Oktober […]