Tentang Kita yang Malas

oleh Arif Wibowo, S. P., MPI.

Ada satu kritik yang menarik dari Prof. Dennys Lombard mengenai karakter anak bangsa yang bernama Indonesia ini. Yakni sangat bangga pada tokoh-tokoh besar pada masa lalu, tapi malas mempelajari sejarah dan pemikirannya. Orang Jawa sangat mengagumi Ronggowarsito, namun hampir tidak ada yang serius mengkaji karya Ronggowarsito. Di Sumatera Barat berdiri museum Buya Hamka, namun kata yang teman saya yang pernah berkunjung kesana, di museum tersebut hanya menyimpan benda-benda memorabilia Hamka, bukan karya-karya yang menjadi jejak intelektual Buya Hamka. Padahal buku-buku itu adalah peninggalan terbesar beliau.

Namun anehnya, banyak yang dengan PeDe bercerita dan berkisah bahkan memaparkan pemikiran para tokoh tersebut, meski tanpa referensi. Bisa dipastikan, tafsirnya pun ngalor ngidul tidak jelas juntrungnya. Seperti soal Pancasila yang sekarang diributkan. Tanpa ada kajian yang mendalam bagaimana tarik ulur, negosiasi dalam penyusunan Pancasila, begitu bangsa ini “sekarat” lalu muncul koor, ini karena kita tidak mengamalkan Pancasila. Tidak mengamalkan Pancasila ini kalau versi Kompas dan wadyabalanya adalah munculnya fundamentalisme Islam. Lucunya lagi, yang merasa tertuduh, tanpa pernah membaca sejarah bahwa para tokoh Islam dulu juga menggandeng Pancasila untuk melawan komunisme, langsung menuduh seolah Pancasila itu berada di level Latta dan Uzza, Thaghut dan berhala. Lalu bertarunglah antar anak bangsa itu, saling tuding, saling lempar tudingan di media masing-masing, bikin benteng sendiri-sendiri dan lupa adab dalam berkomunikasi dan memberikan argumentasi yang baik.

Untuk menutupi rasa malas itu, kemudian kita menyerahkan pencatatan sejarah itu pada para peneliti asing. Ronggowarsito, diteliti oleh peneliti Perancis. Sejarah Sumatera diserahkan pada Prof. Anthony Reid, Sukarno pada Cindy Adam, dan komentar tentang Natsir kita pasrahkan pada Herber Feith. Anehnya kita bangga dengan hal ini, dan bilang bahwa para tokoh kita adalah tokoh hebat, terbukti banyaknya cendekiawan asing yang menjadikannya sebagai obyek penelitian. Seringkali, hasil penelitian itu tidak mencerahkan tapi menimbulkan friksi di masyarakat. Ronggowarsito itu kejawen, bukan Islam, kata sang peneliti, anehnya hal ini diamini oleh anak-anak yang menyebut dirinya salafy dan jihadi, setelah itu kutub abangan dan santri bikinan Geertz pun berkelahi sendiri. Padahal kata peneliti asli Indonesia, Prof. Simuh, Ronggowarsito mempunyai peran besar dalam melakukan pendekatan antara kultur pesantren dengan kultur kraton, yang selama ratusan tahun terpisah pasca pembunuhan massal ulama di alun-alun utara Solo oleh Amangkurat I. Para orientalis gagal memahami fenomena Islamisasi dan memandangnya sebagai akulturasi dalam bentuk sinkretisme budaya. Anehnya, pandangan sebagian umat Islam, terutama dari kalangan salafy dan jihadi juga mengamini pendapat para orientalis ini.

Sehingga ketika muncul buku yang saya sendiri belum baca, ensiklopedi bid’ah dan syirik Jawa, yang dari judulnya sudah bisa saya bayangkan isinya, saya tidak kaget. Sebab itulah mentalitas instan yang didalamnya menjangkiti aktifis dakwah. Saya yakin buku tersebut, hanya bersifat “ndalili” tradisi, daripada melihat bagaimana sebuah evolusi budaya terus berjalan tanpa pernah berhenti. Dan di dalamnya tarik ulur antar keyakinan berjalin kelindan, sampai bagaimana dulu para ulama berhasil menjadikan Islam sebagai elan vital dalam kebudayaan Jawa. Buku dari Raden Tanoyo, salah seorang budayawan kraton Solo tentang Tata Cara Pikurmatan Mayit mituru Tiyang Jawi Abangan, mungkin lebih cerdas dalam menggambarkan bagaimana tata cara perawatan jenazah dan pemakaman menurut syari’at Islam itu menjadi salah satu pintu masuk “Islamisasi” orang Jawa yang berprinsip mikul dhuwur mendhem jero terhadap para leluhur.

Harapan Masih Ada

Namun, seiring carut-marut yang mendera negeri ini, mudah-mudahan kita semua mau belajar. Dan saya yakin, sebab dalam dua tahun terakhir ini saya mulai menjumpai karya dari anak bangsa yang mencoba memberikan solusi “domestik” yang sering mereka lupa. Sebab selama ini semua agenda kita adalah agenda import. Para akademisi kita yang selama ini mengkudeta musyawarah dan mufakat, dan menggantinya dengan demokrasi, itupun liberal mulai berfikir tentang konsep indigenous democracy. Walaupun kalau dicermati, sebagai Dasar Negara, Pancasila tidak pernah mengamanatkan demokrasi, pancasila mengamanatkan “musyawarah” sebagaimana tercermin dalam Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat permusyawaratan dan perwakilan. Namun karena konsep Musyawarah yang tercermin dalam lembaga Syura itu berasal dari Islam maka beberapa pihak terkesan Jaim dan alergi sehingga lebih memilih demokrasi, dan susahnya yang dari pihak Islampun tidak pernah mengelaborasi konsep Syura ini. Jadi jas bukak iket blangkon, sama juga sami mawon.

Di deretan buku-buku Islam, saat main ke Gramedia kemarin, juga memunculkan optimisme tersendiri. Setelah tema-tema buku-buku klasik dan berbobot seperti Piagam Jakarta karya Endang Syaifudin Anshari, Politik Belah Bambu karya Syafi’i Ma’arif ditinggalkan selama satu dekade, diganti dengan dominsasi buku import terjemahan yang didominasi tema Ikhwanul Muslimin, HTI dan Salafy, tema-tema yang lebih aktual dan solutif mulai bermunculan. Karya Dr. Adian Husaini, Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam menjadi pioneer. Tidak lama kemudian muncul biografi M. Natsir yang merupakan thesis mahasiswa UNHAS. Yang menarik tapi belum sempat saya beli adalah “Pesan-Pesan Islam” karya Haji Agus Salim, yang merupakan diktat perkuliahan yang disusun Haji Agus Salim saat menjadi tamu di Cornell University. Haji Agus Salim diberi amanah menjelaskan tentang Islam pada kaum cendekiawan di Amerika.

Namun diantara buku-buku tersebut, yang membuat saya larut betul adalah buku biografi Syafruddin Prawiranegara dengan judul “Lebih Takut Pada Allah SWT” karya Ajip Rosidi terbitan Pustaka Jaya. Buku ini menjadi hidup, karena ditulis oleh Ajip Rosidi, sastrawan yang memang dekat dengan para tokoh Masyumi. Ajip tidak meletakkan Pak. Syafruddin sekedar menjadi obyek tulisan yang akan dia rangkai dalam skemanya sendiri. Ajip berhasil menghadirkan Pak Syafruddin sebagaimana Pak Syafruddin menampilkan dirinya. Sehingga bila disampaikan kutipan perkataan “Pak Syafruddin” kita seolah sedang berbicara langsung dengan beliau. Jadi, bukan promosi, tapi bagi yang betul-betul ingin mengenal pemikiran Pak. Syafruddin segera ke Gramedia sebelum kehabisan.

Belum ada komentar

Leave a Reply