Saya Tadinya Ngajar TPA Mas …

oleh Arif Wibowo, S. P., MPI.

(Karena rumah hijau berpintu sempit, tempat Aquarium itu dipajang sudah tutup dan hampir ambruk. Kata teman saya, bossnya sekarang sudah masuk Islam dan rela hidup sederhana. Juga karena para pemudik sudah balik Jakarta, makanya saya berani upload lagi, karena nggak ada yang penasaran trus kemudian mencoba mencari alamatnya. Jadi mudah-mudahan tidak membawa mudharat Oh ya Balakurawa Punggawan juga sudah pindah tempat, ke daerah yang lebih aman dan saleh serta salehah.  Tapi setidaknya, pengalaman ini membuat saya banyak merenung ulang tentang apa itu dakwah)

Baru saja mau rebahan, setelah ngantar istri belanja, sms bernada mengingatkan masuk ke HP ku. ”Jangan lupa mas, nanti acara dimulai pukul 15.00 WIB, usahakan tepat waktu, karena ini acara yang pertama.” Berhubung ini instruksi dari komandan besar tidak bisa tidak saya jawab, “Siap Ndan”. Rencana masak-masak siang itupun ditunda, sebab untuk tugas satu ini istri harus saya ajak.

Pukul 14.55, saya sampai di Sate Kambing Bang Umar jilid II di Punggawan, bala kurawa (soory pren, soalnya dari segi penampakan lebih dekat ke Kurawa daripada Pandawa..swear ..objektip) ternyata sudah ngumpul semua. Mas Iwan ”tampang” Preman, sambil senyum-senyum langsung bilang, ”Sebenarnya mau saya isi sendiri mas, tapi saya kuatir khilaf. Soalnya banyak yang ”kinclong” di sana”, disambung senyum dan tawa penuh makna dari bala kurawa yang ada. ”Makanya saya bawa body guard” kataku sambil nunjuk ke istri tercinta. ”Ayo sholat Ashar, trus berangkat”.

Rumah Besar Dengan Gerbang Kecil

Rumah berwarna hijau daun itu terbilang besar bila dibanding rumah di sekitarnya, namun yg cukup aneh pintu masuknya hanya seukuran kendaraan roda dua, meski halaman di luar pagarnya bisa untuk parkir beberapa mobil. Ruang depan lebih mirip ruang tunggu dengan tempat duduk letter U. Ruang itu terbatasi sebuah Dinding kaca besar dengan teras. Sehingga bila malam tiba, lampu ruangan dinyalakan dan lampu depan dipadamkan mirip dengan Aquarium Raksasa. Bagi beberapa teman mungkin akan langsung paham, sebab rumah model ini biasanya ada hampir di tiap kota. Sebenarnya ada ciri lain yg lebih mencolok, yang ketika lewat akan langsung terbaca identitasnya. (Namun maaf tidak saya cantumkan..daripada ntar ada yg penasaran lalu nyari).

Ada lebih kurang 25 perempuan muda dengan kerudung seadanya, berusia sekitar 18 – 30 tahun duduk di bangu letter U, tempat di mana mereka dijadikan ikan penghias Aquarium raksasa di tiap-tiap malamnya. Mereka cantik dan terawat. ”Ini kelas menengat mas.. antara 300 – 500 rb … , kalau yg di atas 1 juta, biasanya sudah masuk di Agency” kata komandan saya yang bertampang Arab dan berkulit cukup legam itu. ”Ooo.. kok ente pengalaman amat boss” jawab saya. Belum sempat komendan menyampaikan alibi, soal ”pengetahuannya yang mendalam itu”, acara sudah dibuka oleh tuan rumah dan pak RT. Setelah itu saya diminta maju ke meja yg ada di muka, di samping saya duduk salah satu diantara mereka, dengan jilbab yg lumayan rapi. Membacakan Al Qur’an dengan cukup fasih.

Beribu Latar Cerita Yang Mengantar

Ada banyak cerita yang pernah saya dengar, yang akhirnya mengantarakan mereka ke sana. Cerita paling banyak adalah soal dendam, ini kata narasumber usia 18 yang pernah saya wawancara. Dendam pada pacar-pacar yang telah merenggut kehormatan mereka lalu lari dari tanggung jawab, kemudian setelah itu mereka dijadikan giliran oleh pacar-pacar yang datang dan pergi silih berganti. Sehingga daripada digratiskan dengan dalih cinta kenapa tidak dikomersialkan saja begitu kira-kira logikanya. Pada usia berapa mereka mengawali seks bebas ? SMA jawabnya, bahkan ada yang kelas 3 SMP.. wedhew.. (Jadi ati-ati yang punya adik-adik, saudara jauh ato deket, tetangga, kerabat yang pacarannya mulai menjrus, segera nasehati sebelum kebablasan).

Ada juga yang dari keluarga kurang mampu. Tadinya ia anak baik-baik, ketika SMA ia sering di ajak teman-teman tajirnya ke mall. Aneka gadget multifungsi, produk fashion, acessories wajib milik anak muda mulai menggoda. Teman lelaki yang paham hasrat akan benda-benda itu mulai menangkap ”peluang bisnis” duniawi itu. Dalam percakapan panjang, iming-iming kemudahan hidup apalagi ketika dijelaskan bahwa temen-temen ”gank”nya yg anak-anak orang kaya juga melakukan hal serupa, benteng pertahanannya pun hancur. Apalagi nominal yg ditawarkan juga tidak sedikit 5 juta, untuk anak secantik dia di kali yang pertama. Dan hari-hari selanjutnya, hal itu sudah tidak dijalaninya dengan rasa terpaksa. Sebab ia sudah bisa ”menikmati” hasilnya.

Di sisi lain, ada yang memang belum pernah punya alternatif hidup kecuali di tempat saat ini dia mencari pendapatan. Anak seorang pemulung, yang karena hutang orang tua nya, menjadikan dirinya harus dirawat oleh tante cantik saat menjelang kelulusan SD. Selain disekolahkan ia juga dididik untuk menjadi perempuan penghibur bagi para penjahat kelamin. Mirip dengan alur yang di Memoirs of Geisha.

Ada lagi seorang sarjana, yang bermula sekedar keisengannya mencari tambahan uang jajan waktu kuliah. Awalnya dengan bermodal nomor HP ia menawarkan diri melalui iklam baris sebuah Harian Umum. Kalau pas tidak butuh uang nomor HP nya dimatikan. Apalagi dengan bermodal menunjukkan Kartu Mahasiswa, harganya bisa naik tiga kali lipat. Paling sebulan hanya sekali dua ia berpraktek. Dia tak paham bahwa itu adalah dunia penuh mafia, bila tak masuk jaringan ”kelompok siluman” akan mencederainya, atau terkadang karena tanpa body guard, ia menjadi sasaran kekerasan customernya. Dan kini, meski dengan hasil yang lebih sedikit, ia merasa lebih aman sebab jajaran body guard siap mengawal keselamatannya. Tentang Ijazah Sarjana, ia simpan untuk menggembirakan orang tuanya di luar Jawa sana.

Ada banyak cerita yang mungkin benar tapi bisa jadi hanya sekedar alibi sehingga akhirnya mereka masuk ke dunia pelacuran remaja. Terus terang saya lebih sreg dengan kata pelacuran bukan Pekerja Seks Komersial (PSK) sebab dunia ini memang tak layak disebut sebagai dunia kerja. Soal pelacurnya, tentu saja mereka tetap manusia yang harus dimanusiakan dalam pengertian mereka juga butuh bimbingan, penyadaran, dan sanksi hukum tentunya. Hanya saja dengan posisi saya sebagai warga negara biasa, tentu yang bisa kami (saya dan bala kurawa) lakukan adalah opsi penyadaran.

Pasca Usia Keekonomisan

Ada beberapa penggalan wawancara dari dosen saya, Bu Retno, di sebuah Harian Umum yang beberapa tahun yang lalu, ketiak beliau meneliti tentang Anak Yang Dilacurkan di Wilayah Surakarta. Ada perbedaan tipe dari para pelacur remaja yang berasal dari Jawa Barat dengan Yang Berasal Dari Solo dan Sekitarnya. Yang berasal dari Jawa Barat, umumnya mereka sudah memasang target kapan mereka akan berhenti, jadi sebagian dari pendapatannya akan mereka tabung. Dan biasanya di usia 35 tahun mereka berhenti kemudian membuka usaha sendiri, entah itu salon atau yang lainnya. Sedangkan yang berasal dari Solo dan sekitarnya, mereka menghabiskan pendapatan mereka untuk barang konsumtif. Mulai dari pakaian, gadget sampai Dugem di tempat-tempat hiburan. Sehingga ketika mereka tidak lagi pada usia keekonomisan biasanya mereka menurunkan levelnya, dari yang kelas bintang V turun ke hotel-hotel Melati sampai nanti nya mereka akan turun ke jalanan di sekitar RRI. Atau kalau yang punya kemampuan manajemen mereka bergerak mencari rekrutan baru dan menjadi germo-germo baru.

Sedikit Perbincangan

Dalam pembicaraan selanjutnya saya jadi tahu bahwa mereka semua bisa sholat, dan hanya satu dua yang tidak bisa membaca Al Qur’an (bukankah generasi seusia mereka syudah generasi TPA ?). Ada yang sholatnya masih ajeg lima kali sehari, bahkan sering jama’ah di masjid. Ada yang sholat kalo pas ingat, tapi hampir tidak ada yang sama sekali tidak sholat. Bahkan si pembaca Al Qur’an yang duduk di samping saya mengaku bahwa sebelumnya di adalah pengajar di salah satu TPA. Ow..ya tentu saja sebelum saya mulai bicara, saya perkenalkan istri tercinta.

Tak banyak yang bisa saya bicarakan pada sore itu, sebab pertemuan kali itu adalah pembukaan sebuah dialog hati yang akan berlangsung tiap dua pekan sekali. Kali yang pertama, tetap saya ajak mereka bersyukur, mensyukuri bahwa apapun kondisi mereka saat ini mereka masih diberi kesempatan oleh Allah SWT menjadi muslim. Satu-satunya agama yang Haq di sisi-Nya. Sedikit paparan mengapa Ke Islaman adalah karunia yang paling berharga nampaknya cukup didengar (mudah-mudahan), minimal itu yang saya baca dari ekspresi mereka. Kemudian sekali lagi saya bercerita kisah favorit saya tentang pembunuh 99 orang yang hendak bertaubat, dan akhirnya meninggalo sebelum sampai kepada pertaubatan. Juga mengajak untuk mengajegkan sholat, mulai berbuat baik, yang sudah bisa baca Al Qur’an dengan baik mengajarin mereka yang belum bisa baca Al Qur’an atau yang bacaannya belum lancar. Dan yang paling penting, yakinlah bahwa kondisi saat ini bukanlah takdir final atas diri mereka, teruslah menuju kebaikan, jangan di rasio bahwa tidak mungkin bisa keluar dari kondisi sekarang (dengan aneka penghalang yang ada), sebab jika berusaha dengan keras, Allah lah yang akan mengeluarkan.

Ke depannya, saya teringat pembicaraan dengan pak Musrofi, teman saya yang ahli dalam pencarian bakat. Kata beliau, sesungguhnya tidak mungkin Allah menciptakan manusia untuk didzalimi. Allah sudah memberikan kemampuan unik pada manusia, anugerah itu adalah bakat yang bila dikembangkan akan mampu menopang hidupnya di jalan yang halal. Hanya saja seringkali orang itu tidak berhasil atau mungkin tidak mau mengidentifikasi talenta yang ia miliki. Masih kata beliau, rata-rata orang Indonesia berpindah sampai 8 kali, gonta-ganti pekerjaan sampai ia merasa nyaman dan cocok dengan apa yang dilakukan.

Syukurlah ke depannya sudah ada barisan ibu-ibu yang menawarkan diri untuk membantu kegiatan ini, sehingga mudah-mudahan lebih ada dialog yang bersifat dari hati ke hati, menemani anak-anak itu mengenali potensi dirinya, yang mudah-mudahan bisa mengantarkan mereka keluar dari dunia pelacuran atau setidak-tidaknya mereka tidak ikut merekrut anak-anak baru atau menjadi germo-germo baru di kemudian hari. Sebab saya yakin, bahwa dalam hati mereka masih ada pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Mana jalan Allah dan mana jalan syetan. Sebagaimana kata-kata yang terlontar dari di pembaca Al Qur’an tadi di akhir acara, ”Saya kalau pas pulang ke kampung juga masih menyempatkan diri mengajar TPA kok mas.” Ah..itulah salah satu sisi wajah dunia, butuh kepala dingin untuk memahaminya. Wallahu a’lam bish shawab.

Boyolali, Ahad, 25 Juli 2010, 03.45 WIB

Belum ada komentar

Leave a Reply