Pak Natsir, Pemimpin Umat Teladan

Arif Wibowo, SP., MPI.

Ketika Dr. Imaduddin Abdul Rahim menjadi utusan Pak Natsir untuk menghadiri IIFSO Conference di tahun 1971 merasa surprised. Betapa tidak ia yang saat itu belum menjadi apa-apa dalam percaturan Islam Internasional, diperlakukan sangat istimewa ketika ia memperkenalkan diri sebagai utusan Pak Natsir.

Ketika di Beirut ia dijamu oleh Amin Al Husaini (Presiden Muktamar Alam Islami) dan diajak beraudiensi selama 1 jam. Setelah itu dia diundang ke Pakistan dan diajak beraudiensi dengan Abul ‘A’la Al Maududi. Di Libanon ia disambut langsung oleh Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin Libanon). [1] Big Question dari Dr. Imaduddin AR adalah mengapa Natsir yang begitu besar di mata-mata tokoh dunia Islam, justru termarginalkan di negeri sendiri.

Saya masih ingat betul ketika kuliah dulu (1990-1995), anak-anak muda aktivis Islam lebih mengenal sosok Hasan Al Banna, Sayid Quthub dan Taqiyuddin An-Nabhani di banding Mohammad Natsir, Roem, Kasman maupun Prawoto. Mereka lebih akrab dan merasa lebih keren ketika menyandang label Ikhwanul Muslimin ataupun Hizbut Tahrir daripada Masyumi. Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut sampai sekarang. M. Anis Matta, yang dikenal sebagai Tokoh PKS dan anggota DPR pun, ketika menulis artikel di Hidayatullah menyebut bahwa Generasi para pemikir dakwah (abad ini), seperti Al-Banna, Al-Maududi, Sayyid Quthub memfokuskan …….. Generasi kedua seperti Muhammad Al Ghazali, Yusuf Qardhawi, Fathi Yakhan memfokuskan …[2] Saya hanya bertanya dikemanakan Moh. Natsir, Hamka, Mr. Moh Roem dan tokoh-tokoh segenerasi beliau oleh para aktivis tersebut ?

Sejarah panjang memutus “Catatan emas” sepak terjang Masyumi dalam perpolitikan negeri ini dilakukan sejak era Sukarno, ketika mencanangkan “Demokrasi Terpimpin” yang berniat menguburkan Partai-Partai. Kemudian datang Orde Baru yang datang dengan muka manis, membebaskan Tokoh-Tokoh Masyumi dari penjara (yang menemuai para tokoh tersebut adalah LB Moerdani). Merengek minta dibukakan pintu investasi dari negara-negara “sahabat Masyumi”. Namun ketika (atas lobby Pak. Natsir) investasi mulai dari negara-negara Timur Tengah dan Jepang, Natsir dkk kembali dikekang. Sehingga terjadilah “Keterputusan Sillaturrahmi Antar Generasi.” Sejarah Masyumi hanya menjadi obrolan nostalgia dari para pelakunya, kalangan PII dan GPI generasi tua dan orang-orang yang sejaman dengannya. Oleh karena itu ketika mendapatkan tawaran menyampaikan materi “Keteladan Masyumi”, saya berharap dengan segala keterbatasan saya, kita dapat menyambung sejarah Politik Islam di Indonesia menjadi sebuah jalinan rantai yang berkesinambungan, sehingga kita tidak selalu bermula dari titik nol. Dalam pertemuan ini saya tidak hendak membahas sepak terjang Masyumi dari sudut pandang politik tetapi lebih kepada Keteladanan Sikap dari Tokoh-tokohnya maupun Masyumi-nya. Beberapa point yang saya rangkum diantaranya :

Bersatunya Kata dan Perbuatan

Teks yang paling keras yang diberikan oleh Natsir bukanlah tulisan yang indah –Pak Natsir adalah salah seorang pemimpin yang paling leterir seleranya, indah dan persuasif- melainkan lebih banyak teks ini berwujud dalam tindakan.[3] Mengapa teks tindakan lebih nyaring gaungnya ? Karena teks tulisan memberikan kebebasan tanpa batas, karena hanya berhadapan dengan kertas putih. Sedangkan teks tindakan, dia tidak bisa berbuat hanya berdasarkan idealisme, keinginan, ataupun konsep sebab ia berhadapan dengan realitas sosial, keinginan golongan lain dan bermacam variabel. Nampkanya tidak ada satupun tokoh nasional kita yang tidak bagus dalam “teks tertulis”, akan tetapi nampaknya keindahan teks tertulis tersebut jarang sekali bisa terwujud dalam kehidupan riil.

Pandangan Soekarno tentang perempuan terasa sangat ideal dalam bukunya yang berjudul “SARINAH”. Tetapi apakah seideal itu sikap beliau terhadap perempuan dalam kesehariannya ? Setiap detik, tujuh hari dalam seminggu, dalam panggung politik, ekonomi maupun budaya dan sektor yang lain, kita dipertontonkan beragam inkonsistensi antara kata dengan perbuatan. Orang yang mengaku demokratis, tiba-tiba saling berbaku hantam hanya karena masalah no.urut caleg. Yayasan yang bernama “Raudhatul Jannah” yang berarti Taman Surga tapi mau menerima uang yang akan mengantarkannya ke pintu neraka. Mobil Patroli milik aparat yang seharusnya untuk Operasi Pekat (Penyakit Masyarakat) pernah saya lihat justru nongkrong di halaman gedung 99 Enterprise tetangganya Show Room 148 di Jl. Adi Sucipto.

Ketika paradoks tersebut kita tanyakan maka selalu akan kita jumpai beragam alasan, daripada pos tersebut ditempat pihak lain, daripada dana korupsi tersebut digunakan untuk syiar agama lain dan lain sebagainya. Oleh karena itu kehadiran sosok teladan yang “selaras antara kata dan perbuatan” menjadi penting untuk kembali dihadirkan. Masyumi berbicara tentang Syura dan Demokrasi segigih mempertahankannya, sehingga memilih membubarkan diri daripada harus menerima konsep demokrasi terpimpin. Masalah anti korupsi, Kabinet Natsir adalah kabinet paling clean dalam sejarah Indonesia. Rata-rata tokoh Masyumi pernah masuk penjara, akan tetapi dalam catatan sejarah mereka masuk penjara karena mempertahankan idealisme-nya. Tidak ada satupun tokoh Masyumi yang masuk penjara karena korupsi. Kita juga tidak pernah mendengar tokoh-tokoh Masyumi tersebut ada kasus dalam masalah perempuan.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.