Kritik Atas Thesis Revitalisasi Tasawuf Hamka dan Iqbal (1)

(Studi Atas Pemikiran Tasawuf Hamka dan Iqbal Karya Yayan Suryana, S.Ag)

Arif Wibowo, SP, M.PI

Inilah Cinta : Terbang tinggi ke langit

Setiap saat mencampakkan ratusan hijab

Mula-mula menyangkal dunia (zuhd)

Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa jasad

Cinta memandang dunia benda-benda telah raib

Dan tak mempedulikan yang hanya tampak di mata

………………..

Ia memandang jauh ke balik dunia rupa

Menembus hakikat segala sesuatu

(Maulana Jalaludin Rumi dalam Divan)

Tasawuf merupakan salah satu disiplin keilmuan Islam yang masih diperdebatkan sampai sekarang. Secara ekstrim bahkan beberapa pihak menyatakan bahwa tasawuf adalah parasit bagi Islam dan merupakan biang keladi kemunduran serta penyimpangan dalam tubuh ummat Islam.

Sesungguhnya  tasaw­wuf  itu  adalah tipuan/ makar paling hina  dan  tercela.  Syetan telah  membuatnya  untuk menipu para hamba  Allah  dan  memerangi Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tasawwuf  adalah topeng   kaum Majusi agar ia terlihat sebagai orang yang  Rabbani (taat  pada  Tuhan),  bahkan juga topeng semua  musuh agama ini (Islam). Bila diteliti ke dalam akan ditemui di dalamnya  (ajaran kaum  sufi, ed) ada Brahmaisme, Budhisme, Zaratuisme,  Platoisme, Yahudisme, Nasranisme, dan Paganisme/ Berhalaisme.” (Syaikh Abdur Rahim  Al-Wakil rahimahullah, Mashra’ut Tashawwuf, hal  19,  ibid hal 19).[1]

Namun tidak semua orang menyetujui hal tersebut. Muhammad As Sayid Al Galind dalam bukunya Tasawuf Dalam Pandangan Al Qur’an dan Sunnah menyatakan bahwa tasawuf merupakan produk Islam yang murni. Oleh karena itu Thesis “Revitalisasi Tasawuf yang ditulis oleh Yayan Suryana S.Ag. menarik untuk ditelaah,

Pokok permasalahan yang hendak diselesaikan Yayan Suryana S.Ag dalam thesisnya ini meliputi beberapa hal, yaitu : (1) Bagaimana konstruksi pemikiran tasawuf Hamka dan Iqbal, (2) Dimana titik persoalan revitalisasi dalam pemikiran tasawuf Hamka dan Iqbal, (3) Mengapa Hamka dan Iqbal melakukan revitalisasi tasawuf, (4) Bagaimana relevansi pemikiran tasawuf Hamka dan Iqbal dalam setting kesejarahan masing-masing, terutama kaitannya dengan kehidupan keagamaan.

Untuk menjawab keempat pokok permasalahan tersebut, Yayan Suryana S.Ag (selanjutnya ditulis Yayan) menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif analitis, yakni analitis dalam pengertian pendekatan historis. Sedangkan data dianalisis secara deduktif, induktif dan komparatif.  Oleh karena itu Yayan dalam thesis memulai dengan memotret sosio historis kedua tokoh yang terdiri dari biografi singkat dan wacana social politik keagamaan masing-masing. Selanjutnya dikaji tentang ide-ide revitalisasi tasawuf yang meliputi kritik kedua tokoh terhadap dunia tasawuf yang dilanjutkan pembahasan konstruksi maupun substansi tasawuf kedua tokoh tersebut. Sehingga pemikiran kedua tokoh tersebut dapat dikomparasikan sekaligus dengan mengkaji relevansi pemikiran keduanya dalam setting kesejarahan.

Potret Sosio Historis

Secara garis besar Yayan memaparkan potret sosio historis kedua tokoh pada beberapa point yakni biografi singkat, kondisi sosial politik dan situasi keagamaan.

Hamka

Dilahirkan dari keluarga ulama yang disegani, yakni H. Rasul, yang dikeluhkan oleh Hamka sering kawin cerai. Meski sekolah di sekolah agama, tapi Hamka lebih tertarik pada sastra. Berkenalan dengan dunia pergerakan Islam dari H.O.S. Cokroaminoto dan kemudian berguru pada A.R.Sutan Mansur, seorang tokoh Muhammadiyah. Tahun 1929 berangkat ke Mekkah namun kemudian kembali ke Indonesia setelah bertemu dengan H. Agus Salim yang berpesan  “Negeri ini cocok untuk ibadah tetapi tidak mengenai pengetahuan dan kearifan di sini. Kamu harus belajar dan mengembangkan diri di negerimu sendiri.” Di tanah air Hamka menjalani profesi sebagai jurnalis.

Berbagai tulisannya terkait dengan situasi kolonialisme yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan fenomena kolonialisme yang memicu konflik adat dan agama. Selain itu juga pertarungan antara kelompok syari’ah dengan kelompok mistik. Selain itu wacana nasionalisme yang berkembang dan ditangkap dengan baik oleh Syarikat Islam juga ikut memberikan warna. Sedangkan untuk corak pemikiran kelompok mistik yang berkembang pada masa Hamka adalah pemikiran Ibnu ‘Arabi dan Abu Hamid Al-Ghazali, sedangkan kelompok Syari’ah sangat pengaruhi gerakan Wahabiyah. Kondisi seperti inilah yang akan membentuk konstruk pemikiran tasawuf Hamka.

Iqbal

Iqbal dilahirkan dari sebuah keluarga kelas menengah yang alim. Pendidikan agamanya dimulai dari keluarga, yang kemudian dilanjutkan dengan mengirimkan Iqbal ke sebuah surau untuk belajar Al-Qur’an. Pendidikan formal dimulai dari Scottish Mission School di Sialkot. Dua guru yang sangat berpengaruh pada Iqbal adalah Mir Hasan dan Sir Thomas Arnold. Mir Hasan adalah seorang ahli sastra Persia dan bahasa Arab, sedangkan Sir Thomas adalah pakar filsafat barat.

Perjalanan intelektual Iqbal dilakukan dengan melanjutkan studinya ke Universitas Cambridge dengan menekuni bidang filsafat moral. Ia mendapat bimbingan dari James Ward, seorang neo Hegelian. Ia mendapatkan gelar doktor di Jerman dengan disertasinya yang berjudul “The Development of Methapysics in Persia”.

Iqbal hidup ketika India berada dalam kolonialisme Inggris, yang mengakibatkan kaum muslimin India menjadi terasing di negerinya sendiri. Sehingga kaum muslim yang tadinya merupakan kelompok “superior” meskipun mayoritas secara perlahan menjadi imperior.  Pemikiran keagamaan yang berkembang adalah tradisi mistik Ibnu ‘Arabi, disamping tarikat-tarikat yang bercorak khusus dalam organisasi spiritual seperti Shurawardiyah, Chistiyah, Qadariyah dan Naqsabandiyah.


[1] Dikutip oleh Hartono Ahmad Jaiz dalam buku, Tasawuf Belitan Iblis, 2002, Penerbit Darul Falah, Jakarta. Dalam buku tersebut Ust. Hartono Ahmad Jaiz ingin menunjukkan bahwa sufisme itu bukan berasal dari Islam bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Belum ada komentar

Leave a Reply