Kritik Atas Thesis Revitalisasi Tasawuf Hamka dan Iqbal (2)

(Studi Atas Pemikiran Tasawuf Hamka dan Iqbal Karya Yayan Suryana, S.Ag)

Arif Wibowo, SP, M.PI

IDE REVITALISASI TASAWUF

Hamka

Secara ringkas Hamka mengatakan bahwa tasawuf yang telah lama hidup dalam setiap kehidupan bangsa yang telah menjadi tempat pulang dari orang yang telah berjalan kepayahan. Tasawuf menjadi tempat lari orang terdesak. Namun tasawuf pun telah menjadi penguat  pribadi bagi orang yang lemah dan menjadi tempat berpijak yang teguh bagi orang yang telah kehilangan tempat tegak.

Dalam praktik dalam tasawuf sering ada hal-hal yang tidak bisa dibenarkan Islam. Oleh karena itu Hamka menolak tarikat ayahnya dan  meragukan mistik klasik Ibnu Arabi dan Al Halaj. Meski begitu Hamka sangat mengapresiasi watak zuhud yang merupakan pengaruh tasawuf, bahkan pada diri seorang  Louis Masignon, seorang orientalis Perancis yang ahli di bidang tasawuf. Oleh karena itu Hamka melakukan revitalisasi dengan mencoba mengembalikan tasawuf  kepada pokok pangkalnya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.  Selain tasawuf juga harus diarahkan untuk membangun  kesadaran keagamaan yang akan melandasi suatu bangunan masyarakat yang hendak didirikan. Sehingga tasawuf harus memperkuat eksistensi kemanusiaan (ummat Islam) yang berfungsi sebagai benteng penghalang arus perubahan negative dari proses modernisasi yang berlebihan. Secara substansi, tasawuf Hamka berpusat bagaimana merumuskan Al Akhlaqul Karimah yang benar, yakni adanya keharusan aktif ummat Islam dalam kehidupan sosial.

Iqbal

Pada awalnya Iqbal adalah penganut madzhab mistiknya Ibnu ‘Arabi, meski pada akhirnya  menjadi penentang utama. Hal ini terutama disebabkan ketika menerima budaya dan kehidupan Eropa dan dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Wahabi. Menurut Iqbal, mistisisme Ibnu ‘Arabi telah menina-bobokan ummat dan menjerumuskannya ke dalam berbagai macam takhayul dan khurafat. Panteisme Ibnu ‘Arabi yang menyimpulkan Allah sebagai realitas tunggal dan alam beserta isinya tidak memiliki eksistensi  telah menyebabkan kehidupan manusia tidak bermakna terutama dalam menghadapi problem-problem kehidupan.

Oleh karena itu Iqbal mengkonstruksikan gagasannya tentang manusia sebagai Insan Kamil. Yaitu manusia yang tumbuh berkembang dan mengalami evolusi peningkatan dirinya ketingkat serupaan insan dengan Tuhannya. Tuhan adalah ego mutlakyang harus dicerap. Kalau mengikuti pembagian mistik menjadi mystic of infinity dan mystic of personality, maka Iqbal masuk dalam mystic of personality.  Yakni bahwa Tuhan  diabsorb oleh manusia bukan manusia diabsorb dalamTuhan. Hal ini tercermin dalam puisi-puisinya di Assrar-I Khudi.  Secara substansi, tasawuf Iqbal berpusat pada kedirian atau individualitas. Bagi Iqbal jiwa bukan merupakan substansi tapi perbuatan, karena itu menurut Syafi’i Ma’arif, Iqbal adalah philosopher of action, yaitu filosof yang mementingkan perbuatan.

RELEVANSINYA DENGAN SETTING KESEJARAHAN

Setidaknya ada dua pokok relevansi pemikiran tasawuf Hamka dengan kondisi sosial politik bangsa Indonesia, (1) sikap positif untuk menumbuhkan kekuatan dan kepercayaan diri meskipun sedang dijajah, (2) memberikan konsepsi bahwa kebahagiaan adalah rekayasa akal, sehingga dia tetap dapat diraih meski dalam suasana penjajahan maupun konflik revolusi.

Hamka berhasil melakukan “demitologisasi” system tarekat yang selama ini membelenggu dan menyebabkan ummat Islam lebih “inferior” dibanding barat.  Tatkala Hamka mengurai tasawuf, beliau selalu mengkaitkan dengan nasib ummat Islam Indonesia yang serba miskin, miskin ekonomi, miskin budaya, miskin politik dan miskin mentalitas.

Sedangkan Iqbal, berusaha membangkitkan kesadaran individual dan kemasyarakatan melalui sajak-sajaknya. Hal ini penting untuk membangkitkan masyarakat karena kaum penjajah cenderung meremehkan hak-hak individu dan sosial masyarakat terjajah.  Menurut Iqbal, Al-Qur’an mengajarkan dinamisme, menampilkan ajaran tentang ego dan sifat kreatif manusia.

Belum ada komentar

Leave a Reply