Kritik Atas Thesis Revitalisasi Tasawuf Hamka dan Iqbal (3)

(Studi Atas Pemikiran Tasawuf Hamka dan Iqbal Karya Yayan Suryana, S.Ag)

Arif Wibowo, SP, M.PI

KRITIK ATAS THESIS REVITALISASI TASAWUF

Kekaburan Definisi Tasawuf

Secara garis besar thesis “Revitalisasi Tasawuf “ yang disusun Yayan disajikan dalam alur yang runut dan cukup menarik. Namun apabila dilihat dari metode penelitian yang bersifat deskriptif analitis yang mendasarkan pada tela’ah karya-karya Hamka dan Iqbal yang dikomparasikan dengan sumber sekunder, yakni tulisan mengenai tasawuf, Hamka dan Iqbal, nampaknya masih ada beberapa mata rantai logika yang terputus. Oleh karena itu, disini, penulis (saya) mencoba untuk mengkritisinya dari sudut pandang tersebut.

Yayan dalam pendahuluannya tidak mendeskripsikan secara jelas pengertian tasawuf maupun pengkategorisasian tasawuf. Padahal definisi dan pengkategorisasian tasawuf maupun istilah-istilah yang menjadi derivasinya merupakan kunci untuk memahami konstruksi tasawuf Hamka maupun Iqbal. Sebab meskipun berada dalam “satu nama jalan” yakni tasawuf, sesungguhnya Hamka dan Iqbal bergerak pada ranah yang berbeda. Istilah antara tasawuf dari aspek praktis dan fungsional Hamka dan tasawuf teoritis Iqbal, menurut hemat penulis kurang tepat. Pada kebanyakan peneliti dan penulis, kategorisasi tasawuf dibedakan menjadi dua yakni tasawuf sunni dan tasawuf akhlaqi[1] . Tasawuf sunni biasanya diwakili oleh Imam Ghazali, sedangkan Tasawuf  Falsafi diwakili oleh Syekh Al Akbar Ibnu ‘Arabi dengan konsep ittihad dan Ash Shurawardi dengan Hikmah Al Isyraq. Hal ini juga berkaitan karena keduanya melakukan pengkritisan terhadap aspek praktis dari tasawuf yang tercermin dalam tarekat. Oleh karena itu Elizabeth Sirriyeh yang mengidentikkan tasawuf dengan tarekat justru memasukkan Iqbal ke dalam kelompok anti sufi[2].

Selain itu, perlunya kejelasan definisi sufi itu sendiri dikarenakan dalam pembahasan secara akademis asal-usul dan definisi sufisme masih debatable. Setidaknya ada tiga pendapat tentang asal usul sufisme, yakni (1) Sufisme adalah genuine dari ajaran Islam, Abul Qasim Abdul Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi, Muhammad Zaki Ibrahim, Muhammad Sayyid Galind, Murtadha Muthahari ada dalam kelompok ini.[3](2) Sufisme adalah perpaduan antara agama dan filsafat, ini adalah pendapat Dr. Ibrahim Hilal, (3) Sufisme mengambil dari tradisi monastisisme (kerahiban) kristen, ini adalah pendapat Louis Masignon, Julian Baldick dan ulama-ulama “Wahabiyah”.

Pokok-Pokok Pikiran yang Tertinggal

Didalam menganalisa pemikiran maupun seorang tokoh biasanya selalu ditampilkan karang menjadi masterpiece dan mewakili pemikiran tokoh tersebut. Misalnya ketika seorang menulis tentang Sayid Quthub, tentu tidak akan terlepas dari buku Ma’alim fith Thariq dan Tafsir Fidz Dzilalil Qur’an, ketika bicara tentang Abul A’la Maududi tidak akan lepas dari Kilafah wal Mulk. Dalam  daftar pusataka, Yayan justru tidak memasukkan Tafsir Al Azhar sebagai sumber dalam membaca Hamka. Selain itu ada beberapa puisi Iqbal,yang hampir dalam semua tulisan tentang Iqbal selalu dikutip. Apalagi dalam dunia tasawuf  karya tertinggi biasanya tercermin dari puisi maupun prosa sebagai cermin dari kondisi jiwa dan pikiran sang tokoh.

Beberapa puisi Iqbal itu antara lain adalah :

Plato rahib dan sarjana purba

Seorang dari kumpulan kambing zaman bahari

Kuda pegasusnya kesasar dalam gulita filsafat

Dan lari mendaki gunung wujud ini

Takjub pesona dia oleh ideal

Sehingga dijadikannya kepala,mata dan telinga

Tidak masuk hitungan

“Matilah” katanya, rahasia kehidupan

…………………..

Pikiran Plato melukiskan kerugian sebagai laba

Filsafatnya menggaungkan sang wujud sebagai nafi  semata

Fitrhnya lena mengantuk dan menciptakan suatu mimpi

Mata citranya mewujudkan bayangan

Oleh sebab dia tak condong pada suatu amal perbuatan

Puisi yang ada dalam buku Asrar I Khudi  ini merupakan penolakan Iqbal atas rasionalisme murni Plato yang kala itu menjadi rujukan utama tasawuf falsafi di dunia Islam dan dianggap sebagai biang kemunduran dunia Islam. Hal ini disebabkan karena umat Islam berfikir kontemplatif dan lupa berbuat secara nyata di dunia. Adapun eksistensialisme Iqbal tercermin dalam puisi :

Kau menciptakan malam, dan aku yang membuat pelita

Kau menciptakan tanah liat dan aku yang membuat piala

Kau ciptakan sahara, gunung-gunung, dan hutan belantara

Aku juga membuat kebun anggur, tanam-tanaman dan padang tanaman

Akulah yang telah mengubah batu menjadi cermin

Akulah yang telah mengubah racun menjadi obat penawar

Sedangkan untuk Hamka, dalam kiprahnya di dunia politik, Yayan tidak memasukkan kiprah Hamka Partai Politik Islam Masyumi. Padahal menyatunya Hamka dalam PPII Masyumi dan kedekatannya secara emosional dengan Muhammad Natsir adalah salah satu fase penting dalam kehidupan Hamka. Puisi ini ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante:

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

 

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada nusa


Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga

 

Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu

Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi

Ini berjuta kawan sepaham

Hidup dan mati bersama-sama

Untuk menuntut Ridha Ilahi 

Dan aku pun masukkan

Dalam daftarmu …….!

Oleh karena itu meskipun Yayan telah berhasil menangkap pokok-pokok pikiran dalam membaca Iqbal maupun Hamka, akan tetapi nampaknya Yayan masih kurang berhasil menyambung benang merahnya dari karya-karya kedua tokoh tersebut. Sehingga yang lebih nampak adalah pemaparan dari apa yang ada di benak Yayan, bukan sebuah jejaring yang dibentuk dari obyek penelitian itu sendiri. Wallahu ‘alam bish showab.


[1] K.H. Abdurrahman Wahid “Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi” dalam pengantar Buku “Islam Sufistik” karya Dr. Alwi Shihab, 2001, Penerbit Mizan, hal. xix.

Dr. Ibrahim Al Hilal,1979.  Tasawuf Antara Agama dan Filsafat(terj), Pustaka Hidayah, Yogyakarta, hal. 49.

[2] Elizabeth Sirriyeh, 1999, “Sufi dan Anti Sufi”, Penerbit Pustaka Sufi, Yogyakarta, hal. 194

[3] Qusyairi dalam Risalah Qusyairiah menjelaskan sesungguhnya tasawuf bukan sesuatu yang bersifat tambahan atau pengadaan kandungan Al Qur’an dan hadits, akan tetapi abstraksi konkret tentang keagungan Islamyang selama itu tidak diperhatikan para ulama fiqih setelah periode ulama salaf (Al Qusyairi, “Risalah Qusyairiah, Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (terjemahan),penerbit Pustaka Amani, Jakarta, 1998. Hal. 19).

Walid AL Qasim berkata, “Dahulu ada satu kaum yang beragama dengan agama Ibrahim a.s., mereka dikenal dengan sebutan “Shufah”. Mereka memutuskan hubungan kecuali kepada Allah SWT, mereka berdiam di sekitar Ka’bah. Oleh karena itu yang bersikap seperti mereka disebut dengan Al Shufiyah.” (Muhammad Zaki Ibrahim, 1989, “Tasawuf Salafi”(terj), Penerbit Hikmah, cet. I. Sept.2002, hal. 17.

Ahlu Shufah adalah para shahabat yang tinggal di belakang Masjid Rasulullah di Madinah (Muhammad Sayyid Al Galind, 2003, “Tasawuf Dalam Pandangan Al Qur’an dan As-Sunnah.

“Ajaran-ajaran dasar Islam mampu menginspirasikan berbagai gagasan spiritual yang mendalam (Murtadha Muthahari, 2002, “Mengenal Irfan , Meniti Maqam-Maqam Karifan” Penerbit Hikmah, Bandung,hal.19.


DAFTAR PUSTAKA

Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi, 1998, Risalah Qusyairiyah, Sumber Kaian Ilmu Tasawuf (terj), Pusataka Amani, Jakarta

Alwi Shihab, Dr, 2001, Islam Sufistik, Penerbit Mizan, Bandung

Elizabeth Sirriyeh, 1999, Sufi dan Anti Sufi, Penerbit Pusataka Sufi, Yogyakarta

Hartono Ahmad Jaiz, drs,  2002, Tasawuf Belitan Iblis, Penerbit Darul Falah, Jakarta

Ibrahim Al Hilal, Dr, 1979, Tasawuf Antara Agama dan Filsafat (terj), Pustaka Hidayah, Yogyakarta

Jalaluddin Rumi, 2006, Matsnawi Senandung Cinta Abadi (terj), Penerbit Bentang, Yogyakarta

Muhammad Sayyid Galind, 2003,  Tasawuf Dalam Pandangan Al Qur’an dan As Sunnah (terj), Penerbit Cendekia, Jakarta

Muhammad Zaki Ibrahim, 1989, Tasawuf Salafi (terj), Penerbit hikmah, Bandung

Muhammad Zaki Ibrahim, 2006, Tasawuf Hitam Putih (terj), Penerbit Tiga Serangkai, Solo

Murtadha Muthahari, 2002, Mengenal Irfan, Meniti Maqam-Maqam Kearifan (terj), Penerbit Hikmah Bandung

Musliuddun Sa’di di Shirazi, 2006, Gulistan (terj), Penerbit Navila,Jakarta

Rodliyah Khuza’i, Dr.M.Ag, 2007, Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Peirce, Penerbit Refika Aditama, Bandung.

Belum ada komentar

Leave a Reply