Pergulatan Intelektual Syafruddin Prawiranegara

Arif Wibowo, SP., MPI.

Intisari buku karya Ajip Rosyidi, “Biografi Syafruddin Prawioranegara, Lebih Takut Pada Allah SWT”, Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 2011.

sjafruddinprawiranegaralebihtakutkepadaallahswt_10661Ketika memasuki bangku AMS (Algemenne Middlebare School, Sekolah Menengah Umum setingkat SMU sekarang), Syafruddin Prawiranegara mulai membaca buku-buku kemasyarakatan seperti sosialisme dan kapitalisme.  Ketika pada akhir tahun 1926 di daerah Banten terjadi pemberontakan yang dapat digagalkan, dan oleh surat-surat kabar diberitakan sebagai pemberontakan komunis.

Syafrudin menjadi lebih penasaran dengan komunisme. Sebab dalam pemberontakan itu, banyak kaum keluarganya yang ikut ditangkap dan dibuang ke Digul atas, bukanlah orang komunis. Mereka adalah kyai-kyai yang sangat teguh memegang dan menjalankan ajaran Islam.

Kenyataan itu menimbulkan tanda tanya dalam dirinya ? Mengapa orang-orang Islam yang taat itu melakukan “pemberontakan komunis ?” Apakah Islam sama dengan komunis ? Apakah sebenarnya komunisme itu ? Dan berbagai pertanyaan sejenis berkecamuk di dalamnya.

Oleh karena itu, seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasa asingnya, maka Syafruddin pun makin intens mempelajari karya-karya komunisme. Syafrudin pun intens membaca buku karya Karl Marx, Das Kapital dalam Bahasa Jerman yang mejadi sumber ajaran komunisme. Selain itu Manifesto Komunis  yang disusun Karl Marx bersama sahabatnya Frederich Engels pun di pelajarinya. Intensitas yang tinggi dalam membaca buku-buku itu menimbulkan keguncangan pada sendi-sendi keagamaan Syafruddin.

Bagaimana tidak, sejak kecil Syafruddin dididik dalam suasana keagamaan yang taat, percaya akan kemahakuasaan Tuhan, percaya akan takdir dan adanya hidup setelah mati. Sementara dalam buku-buku yang dibacanya dia menemukan pandangan yang sangat memperlihatkan kebencian pada agama, tidak percaya akan adanya Tuhan sebab yang ada hanyalah materi.  Namun Syafruddin hanya bisa mengaji, ia tidak menguasai bahasa Arab untuk memahami Islam dan memperteguh keyakinannya. Saat itu buku-buku Islam dalam bahasa Indonesia masih sedikit sekali jumlahnya, dan itu pun berkisar masalah ibadah.

Baru pada tahun 1934, ketika ada terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Belandaboleh Soedewo (yang merujuk pada terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris oleh Maulana Muhammad Ali) pada 1934, perlahan Syafruddin mulai bisa memahami makna Al-Qur’an. Pada waktu itu juga, Syafruddin menyadari pentingnya penguasaan bahasa Arab untuk bisa menghayati kedalaman dan kebenaran ajaran Al-Qur’an. Karena kesibukan batinnya dalam mencari kebenaran itu, studinya di RHS (Rege Hoge School – Sekolah Hukum) sempat terhenti selama tiga tahun. Padahal waktu itu tinggal menyelesaikan skripsinya. Baru pada waktu ayahnya meninggal secara mendadak pada bulan Maret 1939, Syafruddin seakan-akan terjaga dari kantuknya.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.