Pandangan Prof. HM Rasyidi Tentang Kristenisasi

Arif Wibowo, SP., MPI.

Tulisan ini saya ambilkan dari wawancara majalah Panjimas dengan Prof. Rasyidi yang sudah dibukukan dengan judul : Hendak dibawa kemana ummat ini ?” yang diterbitkan oleh Penerbit Media Dakwah pada tahun 1987. Selamat menikmati.

Saya selalu mengatakan bahwa bahaya yang dihadapi umat Islam adalah pihak Kristen yang mendapat dana amat besar dari luar negeri serta fasilitas dari orang-orang yang berada dalam pemerintah Indonesia. Tetapi kalau kita bersikap terus terang, kita akan dianggap mengadu domba, ini berarti bahwa bangsa Indonesia menipu diri sendiri. Kalau saya bicaraq lebih banyak, mungkin saya akan dianggap subversif.

Sebenarnya persoalan mendasar yang dihadapi umat Islam saat ini adalah eksistensi Islam itu sendiri. Kalau Islam akan disaring, ini yang boleh dan ini yang dilarang, niscaya rakyat akan menjadi bingung. Padahal Islam sudah jelas, ini Al Qur’annya dan itu Haditsnya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengulang rasa kagum saya kepada Profesor Roger Geraudy, yang telah menulis buku Testamen Filsafat Pada Abad 20, suatu Biografi. Ia menggambarkan bagaimana ia menjadi manusia muslim, padahal ia seorang guru besar Filsafat di Perancis. Ia orang yang jujur, membela bangsa Palestina yang diusir dari tanah tumpah darahnya, dengan tiada takut pada fitnah-fitnah dan lobby Yahudi yang kuat dan dahsyat itu.

Persoalan yang sebenarnya adalah Freedom of warship, kemerdekaan beragama yang sebenarnya. Pada waktu ini, UUD 1945, pasal 29 menyatakan bahwa tiap negara berhak memilih agama yang disukai dengan melakukan ibadah menurut agama tersebut.

Akan tetapi yang terjadi adalah bahwa sekarang ini kristenisasi merajalela dimana-mana, tanah-tanah di daerah yang sejuk dan indah dibeli oleh pihak mission dan zending. Gereja-gereja, sekolah-sekolah dan universitas-universitas masehi didirikan dengan uang bantuan dari Amerika, Jerman, Belanda dan negara-negara lainnya. Anak-anak dari keluarga Islam yang belajar di sekolah Kristen diwajibkan mengikuti pelajaran agama Kristen, kadang-kadang dengan nama moral, tetapi nyatanya pelajaran agama. Sedang pelajaran agama, sudah terdengar, akan diganti dengan moral, seakan-akan agama Islam itu sama dengan moral, padahal moral belum tentu sesuai dengan agama.

Saya orang biasa dan tidak mengetahui angka-angka rahasia tentang bantuan keagamaan dari luar negeri, baik yang dari vatican maupun negara-negara Protestan, akan tetapi majalah Ad Da’wah menyatakan bahwa siaran internasional tentang aktifitas pengkristenan mengumpulkan bantuan sejumlah 79 milyar dollar pada tahun 1986, dan ini berarti tambah 2 milyar dolar dari tahun sebelumnya. Sedangkan derma dari masyarakat berjumlah 139 milyar dollar, 6 milyar lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Statistik dari David Braat, penasehat missi luar negeri pada tahun yang lalu memuat apa yang dinamakan kejahatan gereja. Maksudnya adalah, beberapa petugas gereja khususnya di Dunia Ketiga berbalik menjadi pencuri-pencuri yang menggelapkan uang gereja serta bantuan luar negeri bagi proyek-proyek fiktif. Menurut David Braat, uang yang tercuri pada 2 tahun yang lalu berjumlah 64 juta dollar, sedangkan pada tahun kemarin jumlahnya meningkat sampai 115 juta dollar.

Jika anak-anak orang Islam yang belajar di sekolah-sekolah Masehi diwajibkan mengikuti agama itu, dengan asumsi bahwa ia dan orang tuanya rela akan pendidikan agama Kristen, dan dengan dalih bahwa sekolah-sekolah Kristen tidak tunduk kepada pemerintah RI, di lain segi saya melihat hal yang menggembirakan. Di belgia, terdapat buruh-buruh Islam yang bekerja, dan membawa keluarganya, mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik di sekolah-sekolah pemerintah yang berbahasa Perancis. Pemerintah Belgia memperhatikan nasib anak-anak tersebut, dan mereka diberi pendidikan agama Islam, yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan Pemerintah Belgia. Alangkah berbedanya nasib anak-anak Buruh Islam di Belgia, dengan nasib anak-anak Islam yang menjadi murid sekolah-sekolah Kristen di Indonesia.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.