Menoesoen Kekoewatan: Perjuangan Umat Islam pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia (1)

Makalah[1]

Oleh: Ahda Abid al-Ghiffari[2]

Mukadimah

“Roesaklah kemerdekaan orang itoe, bererti djoega roesaknja Iman pada Allah ta’ala, djika mereka itoe ta’ segan menoesoen kekoewatan bersama goena menghindarkan diri dari segala ikatan orang, karena disebabkan pertama: Hidoep bersama terganggoe, kedoewa tidak merdeka poela memboewat barang sesoeatoe perintah Allah jang terma’oep [sic!] dalam qoer”n [sic!] djika perintah itoe dipraktijkan; ketiga terpaksa menoeroet perintah orang jang banjak djoega tidak sesoewai atau bertentangan dengan kehendak Qoer’an.”[3]

Di atas adalah sebuah kutipan tulisan dari Hadji Mohammad Misbach. Di era 1920-an, sosok Misbach memang merupakan sosok yang “kontroversial”. Ia sendiri tidak mampu membedakan antara Islam dan komunisme. Misbach memandang bahwa konsep perjuangan kelas yang ada di dalam komunisme sejalan dengan Islam. Islam dan komunisme dianggap sebagai dua ideologi yang berjuang melawan kapitalisme. Komunisme, dalam pemikirannya, sebenarnya merupakan sebuah reaksi atas realitas pergerakan Islam di masa hidupnya. Ia memandang beberapa organisasi semacam Moehammadijah terlalu lembek, dan mengatainya sebagai “Islam kapitalis” atau “Islam Lamisan”.

Meskipun tercoreng dengan pemikiran komunisme, fenomena Misbach menjadi salah satu dinamika realita Pergerakan Islam di Hindia Belanda. Bagaimanapun, Islam dan Kaum Muslimin bukanlah pemeran baru dalam panggung perjuangan di Nusantara. Pengalaman Kaum Muslimin memang tidak bisa dianggap sepele dalam melawan penjajah. Masa Pergerakan Nasional yang sering dimulai pada tahun 1900 dalam periodesasi sejarah Indonesia, merupakan lanjutan perjuangan Kaum Muslimin dalam mengembalikan kemerdekaan Umat Islam di Nusantara. Masa ini juga memunculkan berbagai macam ide(ologi) yang diterapkan dalam berbagai bentuk organisasi. Namun Islam tetaplah menjadi bagian terpenting dalam transformasi politik di masa Pergerakan Nasional ini.

Hal ini penting untuk menunjukkan seberapa besarnya pengaruh Islam dalam masa Pergerakan Nasional. Sehingga sosok Misbach pun masih tidak mau melepaskan identitas keIslamannya tatkala ia mengadopsi komunisme. Pada lanskap politik yang lebih besar-pun kita bisa melihat bagaimana infiltrasi pengaruh komunisme ke dalam tubuh Sarekat Islam (selanjutnya disingkat SI). Sehingga bagaimanapun, pengetahuan jamak kita mengenai Islam sebagai pemersatu bangsa-bangsa yang Indonesia perlu ditegaskan kembali. Masa Pergerakan Nasional Indonesia adalah sebuah periodesasi sejarah Indonesia yang kembali menempatkan salah satu fase penting dalam perjalanan perjuangan Umat Islam di Indonesia.

Di antaranya yang menjadi ciri penting perjuangan Islam pada masa Pergerakan Nasional ini adalah perumusan kembali identitas ber-Islam di Indonesia. Kata kebangsaan sepatutnya kita gali lebih dalam dari sudut pandang Islam. Karena bagaimana-pun basis-basis perjuangan Islam tidak lagi bersifat kedaerahan atau berdasarkan identitas primodial dengan sistem administratif kesultanan atau kerajaan Islam. Di Masa Pergerakan Nasional ini kita akan dapati Umat Islam telah berkembang dalam bentuk pergerakan-pergerakan dan organisasi-organisasi modern. Kesadaran ini muncul seiring dengan perubahan kultur kolonialisme dan imperialisme modern Belanda yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1870 melalui liberalisasi dan kapitalisasi tanah jajahan dengan kebijakan Open Deur Politiek.

Kemudian, memasuki abad ke dua-puluh modernisasi juga berkembang seiring dengan kebijakan Politik Etis yang menambah jumlah kebijakan kolonial di tanah jajahan. Sehingga dengan kenyataan ini, pertumbuhan dan perubahan akibat dampak kebijakan politik juga merubah arah gerak perjuangan pribumi dan, yang terpenting dan utama, Umat Islam. Ricklefs menuturkan bahwa,

“Kunci perkembangan pada masa ini [Pergerakan Nasional] adalah munculnya ide baru mengenai organisasi dan dikenalnya definisi-definisi baru dan lebih canggih tentang identitas. Ide baru tentang organisasi meliputi bentuk-bentuk kepemimpinan yang baru, sedangkan definisi yang baru dan lebih canggih mengenai identitas meliputi analisis yang lebih mendalam tentang lingkungan agama, sosial, politik, dan ekonomi.”[4]

Tulisan ini mencoba menjelaskan bagaimana peran perjuangan pergerakan Islam di Masa Pergerakan Nasional Indonesia. Selebihnya, tulisan ini mencoba menjadikan kaum pergerakan Islam sebagai sebuah entitas yang dominan dalam periodesasi sejarah Indonesia. Peran para tokoh Islam dalam entitas pergerakan Islam ini, bagaimanapun, telah melanjutkan proses integrasi identitas dengan diskursus Islam dalam wacana zaman modern. Proses integrasi ini begitu penting, dan sebagai simbol perkembangan arah perjuangan dan strategi pergerakan Islam dalam merebut kembali kemerdekaan sosial-politik-ekonomi Islam di Nusantara ba’da pengaruh eksploitasi kolonial yang menghancurkan sendi-sendi kemasyarakatan Nusantara. Oleh karenanya, perkataan Misbach di atas, betul relevan adanya, bahwa, “Roesaklah kemerdekaan orang itoe, bererti djoega roesaknja Iman pada Allah ta’ala, djika mereka itoe ta’ segan menoeson kekoewatan bersama goena menghindarkan diri dari segala ikatan orang….”


[1] Dibuat sebagai tugas mata kuliah Sejarah Islam di Indonesia, juga sebagai peluang untuk maju—bukan beban. Mata kuliah ini diampu oleh Ustadz Muhammad Isa Anshory, S. S., M. P. I.

[2] Santri Ma’had Aly Imam al-Ghazaly.

[3] Ini merupakan cuplikan perkata-tulisan dari Hadji Mohammad Misbach, dikutip dari Nor Hiqmah, H. M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya, Yogyakarta: Yayasan Litera Indonesia, 2000, hlm. 31.

[4] M. C. Ricklfes, “A History of Modern Indonesia”, a. b. Dharmono Hardjowidjono, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: UGM Press, 2008, hlm. 247-248.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.