Menoesoen Kekoewatan: Perjuangan Umat Islam pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia (3)

Perkembangan Gagasan Islam

Kebanyakan penjelasan sejarah (history explanation) mengenai faktor pertumbuhan kesadaran politik pribumi melawan kolonialisme berkisar pada “munculnya perasaan senasib-sepenanggungan karena dijajah oleh bangsa kulit putih yang dzolim.” Mengenai hal ini, Ahmad Mansur Suryanegara memiliki penjelasan yang lebih menarik. Ia mengatakan bahwa,

“….upaya penguasaan seluruh Nusantara Indonesia tersebut, oleh ulama dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran adanya musuh bersama (common enemy), yakni penjajah Protestan Belanda…. Untuk menyebarkan kesadaran adanya kesamaan sejarah (common history). Adanya kesadaran kesamaan sejarah ini, menumbuhkan pula kesamaan kepentingan (common interest). Suatu kesamaan kepentingan ingin membangun Indonesia merdeka bebas dari penjajahan politik, kemiskinan, dan kebodohan. Dampaknya, tumbuhlah semangat dan kesamaan juang melawan imperialis Protestan Belanda yang telah melakukan perampasan tanah air, penindasan, dalam kehidupan berbangsa, dan hilangnya kekuasaan politik Islam. Lebih parah lagi kemerdekaan beragama ditiadakan karena tertindas oleh politik kristenisasi…. Kondisi penjajahan dan penindasan tersebut telah melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme.”[1]

Pemahaman kebangsaan Islam yang terbentuk tentu juga tidak bisa dilepaskan oleh peran para ulama Nusantara yang telah berjuang dalam da’wah Islam (baca: Islamisasi). Peran ulama ini juga tidak bisa dilepaskan dengan jaringan keilmuan dan gerakan generiknya secara internasional. Sudah sejak lama perhubungan Islam di seluruh dunia dilakukan oleh para ulama. Tradisi naik haji ke Makkah sejurus dengan menimba ilmu di sana sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun dan masih berlanjut tatkala kuku kolonialisme semakin tertanam di tanah jajahan. Meski politik Islam di tataran internasional berkembang dan berubah, transimisi gagasan-gagasan Islam di dunia Islam itu tetaplah menjadi pengaruh utama, dan pada fase tertentu telah merumuskan reaksi terhadap kolonialisme di dunia Islam. Minangkabau menjadi salah satu negeri yang menjadi saksi transmisi gagasan ini.

Melalui karyanya tentang revivalisme Islam di Minangkabau, Christine Dobbin menuturkan bagaimana calon haji Minangkabau datang ke Makkah pada tahun 1803, yang salah satu dari calon haji itu, tersebut nama Haji Miskin. Seorang yang nantinya akan menjadi tokoh mula-mula dalam penyebaran gagasan pembaruan Islam di Minangkabau. Kondisi Makkah pada tahun 1803 sudah berubah sejak terjadinya revolusi yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792). Terjadi pertentangan antara Tradisional Islam—yang cenderung sufistik—dengan haji-haji Minangkabau yang kembali dari Makkah.[2] Namun secara garis besar, gagasan pembaruan Islam yang sering disebut “Wahabiyyah” itu memantapkan dirinya di dalam dunia gagasan Minangkabau dan berkembang tatkala Jamal ad-Dien al-Afghani melakukan sintesa idealita Islam pada akhir abad 19, yang kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Gagasan ketiganya kemudian menjadi arus utama dalam haluan gagasan modern-reformisme Islam di Hindia belanda, utamanya diadopsi oleh salah satu organisasi pergerakan yang lahir di Yogyakarta, Moehammadijah.

Karen Armstrong menulis sebuah gambaran umum mengenai reaksi Umat Islam dan dunia Islam dalam krisis yang terjadi akibat “perambahan Barat”

“….kaum Muslim tidak lagi terlalu mempersoalkan kesehatan politik ummah, dan merasa bebas untuk mengembangkan kesalehan yang lebih batiniah. Tetapi, intrusi Barat ke dalam kehidupan mereka membangkitkan pertanyaan keagamaan besar. Pengginaan atas ummah [atas intrusi dan kolonialisme di dunia Islam] bukan hanya bencana politik, melainkan menyentuh jiwa kaum Muslim. Kelemahan baru ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sangat kacau dalam sejarah Islam.”[3]

Dalam kebangkitan melawan imperialisme di dunia modern saat itu, nama Jamal ad-Dien al-Afghani (selanjutnya disebut al-Afghani) muncul. Gagasan terpenting dari al-Afghani adalah Pan Islamisme. Sebuah gagasan yang memadukan antara konsep patriotisme dan kesadaran cinta terhadap dien al-Islam.[4] Gagasan al-Afghani dinilai sebagai pelopor awal gagasan modern Islam yang relevan untuk diterapkan di dunia Islam dalam melawan penjajahan. Baru kemudian di penguhujung akhir abad 19 dan di awal abad 20, pewaris sanad gagasan al-Afghani, Rasyid Ridho mengembangkan gagasan al-Afghani dengan semangat Wahabiyyah Saudi.[5]

Sampai di sini, diperolehlah gambaran besar mengenai gagasan-gagasan Islam yang berkembang di dunia Nusantara modern tatkala penjajah Belanda menegaskan pelancaran misi pengadabannya lewat dunia pendidikan. Misi pengadaban tersebut tak lain juga menaruh arus gagasan asing di tengah-tengah gagasan-gagasan Islam di negeri yang kini bernama Indonesia. Pertama, local genius, ulama Nusantara telah mengambil sikap yang resisten, mula-mula dalam merespon kolonialisme dan kemudian semangat resistensi tersebut berkembang dengan mulai mengenalkan gagasan kesadaran bahwa terdapat musuh bersama, kesadaran sejarah yang sama, dan kesamaan kepentingan yang melandasi perjuangan kebangsaan Islam. Kemudian hadirlah gagasan pembaruan dari Arab. Meski pembaruan tersebut menimbulkan benturan dengan gagasan tradisional Islam di Nusantara, namun menambah pengaruh perlawanan yang berarti terhadap kolonialisme. Yang terakhir, sintesa gagasan kebangsaan dan sikap patriotisme dan rasa cinta terhada dien al-Islam, yang mula-mula digagas oleh al-Afghani. Gagasan ini diberi nama Pan Islamisme.

Andrik Purwasito menjelaskan bahwa

“….kaum nasionalis yang cenderung “merefers” ke Barat, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, mereka lebih cenderung mengambil model pergerakan seperti di India. Demikian pula bagi kaum nasionalis yang “merefers” ke Timur Tengah cenderung meniru model pergerakan Mesir dan Turki.”[6]

Pernyataan tersebut tidaklah sepenuhnya benar, mengingat komposisi gagasan Islam yang berkembang tidaklah selalu dipengaruhi oleh Turki, Mesir, atau bahkan Arab. Ulama-ulama Nusantara yang generasi sebelum modernisasi telah berjuang melawan perluasan kolonialisme secara militer telah berhasil mentransmisikan Islam, meskipun secara tradsional, ke dalam haluan gerakan. Selebihnya, gagasan-gagasan yang diwakili oleh kelompok-kelompok pergerakan Islam tersebut memiliki persamaan tujuan, yakni menggedor kolonialisme dan mencoba melakukan resistensi identitas. Kultur konflik antara modern-reformis dan tradisonalis memang terbangun dalam sejarah panjang sejarah Indonesia. Namun benturan ini dapat diredam dengan elegan oleh kaum pergerakan Islam di Hindia Belanda.


[1] Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 283-285.

[2] Christine Dobbin, “Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatera 1784-1847”, a. b. Lilian D. Tedjasudhana, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau, 1784-1847, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008, hlm. 204-206.

[3] Karen Armstrong, “Islam: A Short History”, a. b. Yuliani Liputo, Sejarah Islam: Telaah Ringkas-Komprehensif Perkembangan Islam Sepanjang Zaman, Bandung: Mizan, 2014, hlm. 219.

[4] Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 251.

[5] Ibid., hlm. 338.

[6] Andrik Purwasito, “L ‘Image de L ‘Indie Dans Le Iscours Des Nasionalistes Indonesiens”, Imajeri India: Studi Tanda dalam Wacana, Surakarta: Pustaka Cakra, 2002, hlm. 390.

Belum ada komentar

Leave a Reply