Menoesoen Kekoewatan: Perjuangan Umat Islam pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia (4)

Wujud Realisasi Gagasan: Gerakan Perjuangan Umat Islam

Boedi Oetomo bukanlah organisasi pertama pergerakan Hindia Belanda yang bersifat nasional. Organisasi ini justru masih bersifat kedaerahan dan komposisi anggotanya masih didominasi oleh elite priyayi. Bahkan kelahirannya pada tahun 1908 masih terlalu muda jika dibandingkan dengan kemunculan Sjarikat Dagang Islam pada tahun 1905. Pun dengan media komunikasi organisasi Islam yang bergerak dalam bidang sosial-ekonomi ini, yang disebut Ahmad Mansur Suryanegara, telah bertahan dari tahun 1902 hingga 19015. Media komunikasi tersebut disebut Taman Pewarta.[1] Hadji Samanhoedi (1868-1956) adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam membidani kelahiran media komunikasi dan organisasi Sjarikat Dagang Islam tersebut.

Surakarta menjadi saksi berdirinya Sjarikat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. Tujuan kelahiran organisasi ini tidak dapat dilepaskan dari latar-belakang kehidupan Hadji Samanhoedi sendiri yang merupakan seorang pedagang batik dari Laweyan. Kata “Dagang” dari Sjarikat Dagang Islam menunjukkan gerakan ini memang berkonsentrasi dalam memerankan peran penting dalam hal perdagangan dan pasar. Sjarikat Dagang Islam berkembang cepat di Surakarta. Anggotanya kemudian tidak lagi terbatas pada para pedagang, melainkan juga berbagai jenis strata masyarakat bumiputera. Lima tahun setelah pendirian organisasi tersebut, Sjarikat Dagang Islam telah memiliki anggota—dari data yang diperoleh Nasihin—sebanyak 300.000 di seluruh bagian penting di Nusantara.[2]

Bandingkan dengan Boedi Oetomo yang menurut Ricklefs “… pada dasarnya tetap merupakan suatu organisasi priyayi Jawa. Organisasi ini secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura.”[3] Boedi Oetomo memang berperan dalam usahanya memajukan pendidikan masyarakat Jawa. Namun langkah-langkah tersebut untuk bisa diposisikan sebagai organisasi pembentuk kesadaran kebangkitan nasional kuranglah tepat. Sjarikat Dagang Islam telah jauh memosisikan diri dalam berperan memajukan basis ketahanan ekonomi dan sosial melalui visinya dalam perdagangan dan kemandirian pasar pribumi. Pun dengan keikutsertaan dan inklusivitas anggota Sjarikat Dagang Islam yang berasal dari berbagai lapisan bumiputera. Ini serta yang membuat Sjarikat Dagang Islam kemudian berkembang pada tahun 1912[4] dengan mengubah namanya menjadi Sjarikat Islam.

Sosok Oemar Said Tjokroamnioto yang kharismatik mampu memimpin haluan Sjarikat Islam yang kemudian dilanjutkannya di Surabaya. Melalui tangan Oemar Said Tjokroaminoto, Sjarikat Islam kemudian berkembang tidak lagi berfokus pada urusan-urusan perdagangan. Organisasi ini kemudian bergerak dalam bidang sosial-politik. Perkembangan Sjarikat Islam memang tidak butuh waktu lama, sebagaimana organisasi ini meneruskan haluan Sjarikat Dagang Islam. Di Yogyakarta, pada tanggal 15 Maret 1913, diadakan pertemua propaganda untuk peresmian berdirinya Sjarikat Islam di kota Yogyakarta. Pertemuan tersebut bahkan dihadiri oleh bangsawan-bangsawan Pakualaman dan Surakarta. Pembicaraan dalam masalah itu menyangkut empat pokok permasalahan, yakni “menigkatkan kemakmuran para anggota, bantuan kepada para anggota yang mengalami kesulitan di luar kesalahannya sendiri, meningkatkan perkembangan rohani para anggota dan meningkatkan kepatuhan para anggota untuk memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Islam.”[5]

Abdurachman Surjomihardjo mengungkapkan bahwa, “Informasi yang masuk kepada pemerintahan setempat menunjukkan bahwa dalam waktu dua minggu anggota-anggota Sarekat Islam[6] dari 397 orang naik menjadi 657 orang.”[7] Dalam perjalanan Sjarikat Islam selanjutnya, organisasi ini menempuh persinggungan yang dinamis dengan haluan-haluan lain di luar ideologi gerakan. Massa yang besar menjadikan salah satu faktor yang masuk akal untuk menjelaskan persinggungan ini. Kita dapat melihat bagaimana pengaruh komunisme menginfiltrasi gerakan ini. Pengaruh komunisme dalam Sjarikat Islam—terutama Sjarikat Islam cabang Semarang—tidaklah dapat dianggap sepele. Penegasan yang kemudian diorbitkan oleh Tjokroaminoto dan—seorang kharismatik lain dari barisan kepemimpinan Sjarikat Islam—Agus Salim, akhirnya mengakibatkan pembelahan yang mengakibatkan beberapa anggota dari Sjarikat Islam harus memilih untuk tetap bergabung atau keluar.

Hadji Mohammad Misbach termasuk orang yang berperan dalam krisis yang dihadapi oleh Sjarikat Islam. Ia sebenarnya merupakan anggota Moehammadijah Surakarta. Buah pikirannya tentang Islam nyata adanya sekembalinya ia dari menunaikan ibadah haji. Pengaruh komunisme akhirnya membuat pandangan-pandangannya semakin radikal. Ketertarikannya menjadi anggota SI sebenarnya dikarenakan oleh sebab ini. Ia melihat bahwa komunisme menawarkan gagasan revolusioner ideal yang lebih bisa diharapkannya. Ia melihat realita Moehammadijah yang terlalu lembek menghadapi “kapitalisme” penjajah yang ia lawan habis-habisan, termasuk melalui tulisan-tulisannya.[8] Kritiknya kepada Moehammadijah dan Tjokroaminoto—yang dituduhkannya sebagai pemecah Sjarikat Islam Semarang—bersifat “kutukan-kutukan” yang sangat emosional.[9] Dalam hal ini, terlibat percekcokan internal dalam memahami perjuangan melawan penjajahan oleh beberapa tokoh, yang sebenarnya masih bisa dimasukkan dalam jajaran Umat Islam.

Konsepsi manhaj dan jalan perjuangan antar basis pergerakan Islam kadang memang berbeda satu sama lain. Seperti halnya Moehammadijah yang dianggap Hadji Misbach tidak mau memerangi “fitnah”. Kemunculan Moehammadijah sebagai salah satu organisasi pergerakan Islam di Hindia Belanda memiliki peran dan maqom tersendiri. Moehammadijah memanglah tidak memaksudkan diri ke dalam politik praktis maupun non-cooperatie radikal, sebagaimana diinginkan Misbach. Bidang sosial pendidikan menjadi fokus terpenting Moehammadijah dalam visi dan misi perjuangannya. Ini lebih disebabkan karena Ahmad Dachlan, sang pendiri, melihat krisis pendidikan yang terjadi di kalangan bumiputera Muslim.

Politik Etis menyebabkan menjamurnya sekolah-sekolah berorientasi Barat di Hindia Belanda. Dampak yang semakin menjadi dari menjamurnya sekolah a la Barat tersebut adalah dominasi kebudayaan Barat di antara lokalitas bumiputera. Sehingga beberapa sekolah Islam yang dikelola Moehammadijah mulai berdiri. Sementara itu, Politik Etis yang digulirkan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh golongan missi dan zending. Di Yogyakarta, khususnya, golongan missi dan zending tersebut telah banyak mendirikan sekolah-sekolah dan lembaga sosial dan kesehatan. Tantangan kemudian juga datang dari golongan mason, atau teosofi. Golongan teosofi ini banyak diikuti oleh beberapa bangsawan keraton. Orang Jogja sendiri menyebut loji-loji tempat pertemuan kelompok ini sebagai Omah Setan atau Omah Pawangsitan.[10]

Pada dasarnya, pendirian Moehammdijah sendiri dilatar-belakangi oleh tantangan-tantangan da’wah Islam yang berbahaya bagi kelangsungan dominasi Islam di Yogyakarta secara aqidah dan kultural. Sehingga, ada tiga fokus utama dalam tujuan pendirian Moehammadijah; pertama untuk menguatkan pendidikan Islam bagi bumiputera yang telah banyak terpengaruh oleh pendidikan Barat; kedua, membendung arus kristenisasi yang dilakukan secara sistematis melalui lembaga-lembaga sosial, pendidikan, dan kesehatan; ketiga, menandingi gerakan tahayul mason yang dipopulerkan oleh orang-orang Eropa. Khusus dalam hal kristenisasi, Muhammad Isa Anshory melihat,

“Selama masa Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menghindari konfrontasi langsung dengan misi Kristen…. Bagi Muhammadiyah, Kristenisasi bukan saja dianggap sebagai suatu tantangan, tetapi juga merupakan suatu contoh bagi para pemimpin Muslim. Cara-cara yang dipergunakan dalam kegiatan misi Kristen banyak dijadikan contoh. Pendirian sekolah-sekolah, rumah sakit, klinik, dan panti asuhan oleh Muhammadiyah banyak mengadopsi cara dari misi Kristen.”[11]

Artinya, kerja Moehammadijah memiliki maqom tersendiri dalam perjuangan pergerakan Islam. Awalnya Misbach melihat kesungguhan Moehammadijah dalam membendung kristenisasi. Ini pula yang menyebabkan salah satu visi revolusionernya adalah melawan kristenisasi—selain perlawanan terhadap kapitalisme, dan juga surat kabar yang dipimpinnya Islam Bergerak (berdiri 1917), merupakan respon dari diterbitkannya surat kabar Kristen Mardi Rahardjo.[12]

Belum ada komentar

Leave a Reply