Menoesoen Kekoewatan: Perjuangan Umat Islam pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia (4)

Moehammadijah sebagai organisasi modern-reformis kerap kali disinggungkan dengan keberadaan Tradisionalis Islam dengan basis masa kalangan santri dan kiai tradisional. Namun dengan melihat latar-belakang pendirian organisasi tersebut, kiranya kita dapat berpendapat bahwa Moeammadijah pada mulanya tidak melulu bergerak dalam pemberantasan, apa yang sering disebut sebagai, TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Churafat). Ricklefs menjelaskan bahwa penambahan tujuan dan orientasi perjuangan Moemmadijah, dengan ditambahkannya misi pemurnian agama, itu terjadi pada dasawarsa 1930-an, tatkala

“….kepemimpinan Moehammadijah di tingkat nasional lebih banyak yang berada di tingkat nasional lebih banyak yang berada di tangan orang-orang Minangkabau dari Sumatra [sic!] daripada orang-orang Jawa. Para pemimpin asal Minangkabau ini cenderung lebih tidak toleran terhadap berbagai praktik idiosinkratik yang secara lokal dianggap sebagai hal yang saleh dalam Islam.”[13]

Di sinilah kita menemukan peran “Wahabiyyah” dalam medan pergerakan Islam nasional yang sebenarnya sudah lama dilakukan. Putera Hamka, Rusjdi Hamka menjelaskan tentang transformasi gerakan Wahabiy di Nusantara-Indonesia dalam tiga gelombang. Gelombang pertama disebutnya, “… dalam menyebarkan ajaran yang dibawanya mereka (gerakan Wahabiy) menempuh cara yang radikal, tanpa kompromi, kalau perlu dengan menumpahkan darah, demi memurnikan Islam dari ajaran-ajaran khurafat dan adat yang berbau jahiliyyah.” Pada gelombang pertama ini, mula-mula paham Wahabiy menemukan wadahnya dalam gerakan Paderi. Gerakan Paderi ini juga melawan Belanda.[14]

Gelombang kedua gerakan ini merubah pola gerakannya dari radikalisme senjata menjadi radikalsime hujjah. Ini terjadi pada permulaan abad dua-puluh. “Kaum Muda” adalah sebutan gerakan gelombang kedua ini, dengan nama-nama seperti Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Syaikh Jamil Jambek, Dr. Abdullah Ahmad. Tokoh-tokoh yang disebut juga menimba ilmu di Makkah. Sekembalinya ke tanah Minang, mereka masih menyaksikan—apa yang mereka anggap sebagai khurafat dan bid’ah—tersebar. Namun gerakan yang dipilh mereka adalah gerakan pendidikan, sebagaimana di masa itu madrasah-madrasah Islam modern tumbuh di Minangkabau. Tahap transformasi ini nampaknya telah disambut dengan sinaran pengaruh reformasi-modernisme Islam, yang kemudian mengantarkannya pada tahap ketiga. Rusjdi Hamka menuturkan:

“Selanjutnya gelombang ketiga, masuknya Perserikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh K. H.Ahmad Dahlan [sic!] di Yogyakarta tahun 1912 dengan tokoh utamanya Buya Ahmad Rasjid Mansur, meninggal 25 Maret 1985 di Jakarta dalam usia 90 tahun.”

Demikianlah transformasi gerakan Wahabiy di Indonesia di masa permulaannya. Persinggungannya dengan Moehammadijah sejak tahun 1920-an menyebabkan irisan di masing-masing tubuh antara gerakan wahabiy tersebut dengan Moehammadijah. Sejak saat itu Moehammadijah memperoleh penegasan ruh Wahabiyyah-nya, sebagaimana gerakan wahabiy “Kaum Muda” semakin nampak rcorak reformasi-modernisme Islam-nya.

Sementara itu, pendidikan tradisional Islam yang telah lama terlebih dahulu mengakar di Nusantara juga telah mempersiapkan gerakannya secara modern. Dinamika zaman modern di Hindia Belanda ini berhasil ditangkap salah satunya oleh seorang kyai dari Jombang. Dialah yang Ahmad Mansur Suryanegara menyebutnya, “Choedrotoes Sjech Kiai Hadji Hasjim Asj’ari”. Lahirlah Nahdhatul Ulama di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Kelahiran Nahdhatul Ulama tidak bisa dilepaskan dari perubahan politik yang terjadi di dunia Islam secara umum. Kalau dilihat dari tanggal kelahirannya, Nahdhatul Ulama seperti merespon keruntuhan kekhalifahan Islamiyyah Turki yang telah berubah menjadi republik sekuler pada tahun 1924. Menyusul respon lain atas berubahnya politik Turki, kaum modern-reformis juga bangkit membangkitkan kesadaran imperialisme Barat yang salah satunya ditandai dengan keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyyah tersebut. Sebagaimana pula, gerakan Wahabiyyah juga menunjukkan kekuatannya dalam dunia Islam.[15]

Meskipun kelahiran Nahdhatul Ulama seakan merupakan respon atas sikap penyelamatan identitas tradisionalisme “Ahlussunah wal Jamaah” dari gerakan-gerakan modern-reformis Islam dan Wahabiyyah. Namun sebenarnya substansi kelahirannya lebih daripada itu. Respons atas keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyyah adalah lebih dominan dibandingkan kedua yang lain. Sebab, ancaman terbesar “Ahlussunah” terdapat pada sekularisme di dunia Islam, yang pada saat itu pula juga sedang membasahi Hindia Belanda.

Nahdhatul Ulama yang berarti “kebangkitan ulama” meyakini bahwa kesadaran umat merupakan suatu hal yang penting saat itu. Sehingga Nahdhatul Ulama juga termasuk organisasi yang berjuang membangkitkan kesadaran nasional Umat Islam; bahwa Umat Islam masih memiliki tanah air yang saat itu sedang dijajah oleh kolonialis Belanda. Ahmad Mansur Suryanegara menulis, “Nahdhatoel Oelama berjuang ingin menegakkan kembali kedaulatan umat Islam sebagai mayoritas. Nahdhatoel Oelama ingin pula menegakkan syariah Islam. Kebangkitan Nahdhatoel Oelama merupakan jawaban terhadap Politik Kristenisasi penjajah pemerintah kolonial Belanda yang berusaha menegakkan Hukum Barat.”[16]

Basis masa Nahdhatul Ulama mengakar kuat dari tradisionalisme Islam-nya yang dibangsun sejak lama dari pesantren-pesantren Islam di Nusantara. Oleh karena itu, secara generik, Nahdhatul Ulama sebenarnya memiliki riwayat perjuangan yang lama di Nusantara. Maka tidak begitu mengherankan apabila karir perjuangan Nahdhatul Ulama secara organisatif terus berlangsung hingga paska Kemerdekaan, di mana bersama gerakan Umat Islam lainnya, Nahdhatul Ulama berjuang melawan dominasi komunisme pada berbagai tataran di sosial-politik.

Organisasi pemuda Islam tak kalah tertinggal dari kaum begawan dan maestro. Malam tahun baru 1925, Agus Salim berkata kepada seorang yang bernama Syamsuridjal, “Jangan sedih, mari segera bentuk persatuan pemuda Islam dan kita akan menerbitkan surat kabar Islam berjudul Het Licht (Sinar Islam). Orang-orang itu mencoba mematikan sinar ilahi, tetapi Tuhan tidak membiarkannya.”[17] Perkataan Agus Salim kepada Syamsuridjal tersebut adalah penghiburan darinya setelah usulan Syamsuridjal untuk memberikan pengajaran Islam di Jong Java ditolak oleh separuh dari peserta kongres Jong Java pada tahun 1924. Penghiburan itu tak sekedar lips service semata, karena akhirnya Syamsuridjal mendirikan Jong Islamieten Bond (Ikatan Pemuda Islam) pada tanggal 1 Januari 1925 itu juga.[18]

Dalam karir organisasinya, Jong Islamiten Bond juga merumuskan suatu bentuk Nasionalisme Islam yang yang harus mencintai tanah air, bangsa, dan negara. Menurut Artawijaya, majalah Het Licht “… didirikan untuk mengkonter propaganda kelompok sekular pada waktu itu.” Ini bisa dipahami sebagai gerak juang Jong Islamieten Bond pada Masa Pergerakan Nasional itu. Sebagai organisasi kepemudaan, apa yang digagas, digerakkan dan direspons Jong Islamieten Bond sangatlah luas. Keluarnya Syamsuridjal dari Jong Java bukan semata karena usulannya ditolak oleh separuh lebih anggota Jong Java. Penolakan usulan Syamsuridjal terkait program untuk memberi pengajaran agama Islam dalam organisasi ditolak karena alasan ideologis. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, penolakan ini bersumber karena Jong Java itu adalah onderbouw Boedi Oetomo, merupakan sayap kepemudaannya. Itu artinya kejawenisme begitu kental dalam tubuh Jong Java.[19]

Jong Islamieten Bond kemudian mampu mencetak kader unggulan sekelas Mohammad Natsir.[20] Dalam perkembangan organisasi-organisasi Islam tersebut, nama-nama seperti Mohammad Natsir dan Hamka mula-mula mencuat di tahun-tahun 1920-an. Keduanya mewakili generasi muda berikutnya yang akan tampil meneruskan estafet pergerakan Islam di tahun-tahun dan zaman-zaman berikutnya. Hal ini bisa dilihat dari perbedaan organisasi-organisasi “jong-jong” lainnya yang masih bersifat kedaerahan. Jong Islamieten Bond berusaha mengikis sifat primodial itu melalui Islam. Menafsir dari Ahmad Mansur Suryanegara, dapat dikatakan “kenasionalan” Jong Islamieten Bond sebenarnya diikuti oleh pendirian Jong Indonesia yang merupakan kelanjutan Algemeene Studie Club, yang didirikan oleh Soekarno pada tahun 1927. Penyelenggaraan Konggres Pemuda I dan II (masing-masing 2 Mei 1926 dan 28 Oktober 1928) juga bisa dipahami dengan melihat bahwa penyelenggaraannya mengikut tren Jong Islamieten Bond yang telah melakukan konggres pertamanya pada bulan Desember 1925 di Yogyakarta.


[1] Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 358.

[2] Nasihin, op.cit., hlm. 40.

[3] M. C. Ricklefs, op.cit., hlm. 249.

[4] Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tahun 1912 tersebut merupakan tahun resmi berdirinya Sjarikat Islam dengan pengesahan lembaga badan hukum di Surakarta. Adapun pendirian secara fungsionalnya—Suryanegara mengutip H. Tamar Djaja—adalah tahun 1906. Jika demikian, bolehlah kita berpendapat bahwa antara Sjarikat Dagang Islam dan Sjarikat Islam merupakan dua organisasi yang terpisah. Keterpisahan tersebut kemudian bersinggungan karena relasi Hadji Samanhoedi dan Oemar Said Tjokroaminoto yang menjadikan Sjarikat Islam besar di Surabaya. Lihat Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 369.

[5] Abdurrachman Surjomihardjo, Kota Yogyakarta Tempo Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008, hlm. 139.

[6] Di dalam makalah ini, penulis menggunakan penyebutan lama semacam Boedi Oetomo atau Sjarikat Islam. Terdapat penulis-penulis lain dalam karya-karyanya yang menggunakan penyebutan kekinian dengan kaedah bahasa yang berlaku saat ini. Hal itu tidak perlu dipermasalahkan selama fonem penyebutannya tidak terlalu jauh berbeda.

[7] Abdurrachman Surjomihardjo, loc.cit.

[8] Nor Hiqmah, op.cit., hlm. 21.

[9] Nasihin, op.cit., hlm. 133.

[10] Abdurrachman Surjomihardjo, op.cit., hlm. 51. Salah satu loji yang kerap dipakai sebagai tempat pertemuan adalah Loji Mataram yang ada di Jalan Malioboro. Loji ini kini menjadi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

[11] Muhammad Isa Anshory, op.cit., hlm. 159-161.

[12] Nor Hiqmah, op.cit., hlm. 15.

[13] M. C. Ricklefs, “Islamization and Its Opponents in Java”, a. b. FX Dono Sunardi dan Satrio Wahono, Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang, Jakarta: Serambi, 2012, hlm. 93.

[14] H. Rusjdi Hamka, Etos: Iman, Ilmu dan Amal dalam Gerakan Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986, hlm. 98.

[15] Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 463-464.

[16] Ibid., hlm. 473.

[17] Perkataan Haji Agus Salim itu mahsyur terdengar dan diidentikan sebagai tonggak awal berdirinya Jong Islamieten Bond (JIB). Perkataan Agus Salim ini penulis kutip dari buku Artawijaya, #Indonesia Tanpa Liberal: Membongkar Misi Asing dalam Subversif Politik dan Agama, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2012, hlm. 263-264.

[18] Ahmad Mansur Suryanegara, op.cit., hlm. 512.

[19] Ibid., hlm. 512-513.

[20] Waluyo, Dari “Pemberontak” Menjadi Pahlawan Nasional: Mohammad Natsir dan Perjuangan Politik di Indonesia, Yogyakarta: Ombak, 2009, hlm. 29.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.