Menoesoen Kekoewatan: Perjuangan Umat Islam pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia (5)

Khatimah

Bukan siapa telah jadi apa, tapi siapa telah melakukan apa. Demkianlah diktum yang kiranya cocok untuk menggambarkan dinamika pergerakan Islam di permulaan zaman modern di Hindia Belanda, atau sebuah wilayah yang kini kita sebut sebagai Indonesia ini. Umat Islam di Indonesia telah berperan besar dalam perintisan tubuh bangsa yang kelak dinamai Indonesia ini. Andil ini bukan kecil, tapi tepatlah kalau kita kata dominan. Umat Islam di Indonesia bukan sub kultur dan gerakan struktural-fungsional semata. Namun ia adalah tangan, kaki, jiwa, dan pikiran. Sayangnya kita salah menempatkannya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kata moral macam apa yang bisa menggambarkan kelancangan ini? Umat Islam selalu disubordinasi oleh sebuah paradigma besar yang sering kita sebut sebagai kebangsaan dan nasionalisme. Padahal jiwa istilah itu sebenarnya telah terlebih dahulu dijiwai oleh persatuan semangat Umat Islam di Indonesia. Misalnya, “keinsafan!” seorang ‘mantan asisten perang Diponegoro, Sentot Ali Basya tatkala dirinya ‘dikirim’ Belanda ke Minangkabau. Hamka menuturkan kisah Sentot ini:

“Sentot dengan pasukannya berangkat ke Minangkabau pada tahun 1832 yaitu tiga tahun setelah meninggalkan junjungannya Pangeran Diponegoro.

“Sampai di Minangkabau dia telah memasuki medan perang,… Tetapi tidaklah selalu berhasil usaha menjauhkannya dengan Paderi, sebab dia harus berperang melawan Paderi! Alangkah terkejutnya beliau, bila didengarnya azan di medan perang, bahkan lebih lantang daripada suara tentaranya sendiri.

“Sama-sama terkejut. Rupanya dalam tentara dari Jawa yang dikirim belanda, ada pula orang beserban, orang yang mengerjakan “Shalatil Khauf” di medan perang! Sebagai juga mereka, orang Paderi.

“Sama-sama terkejut! Karena di sini memakai serban, di sana pun memakai serban! Lama-lama bagaimanapun Belanda menjaga, kontak bertambah rapat!

“Rupanya pakaiannya sama, hati sama, kepercayaan pun sama, cita-cita pun sama!

“Mengapa jadi kita berperang?”[1]

Inilah bagimana proses integrasi Nusantara yang sering dikaitkan sebagai kebangsaan—secara politis—ini muncul di tengah-tengah Umat Islam di Indonesia. Pergerakan Islam modern di Hindia Belanda telah mampu menempatkan dirinya sebagai pangkal dari perjuangan Umat Islam setelahnya. Ia adalah pangkal genealogi pergerakan Islam di Indoensia. Ini yang patut disadari, dan dibanggakan, bagaimana ajaran Islam yang diturunkan Allah Ta’ala dan dirisalahkan kepada Rasulullah Shallallhu’alayhi wassalam berhasil diwariskan dari masa ke masa di Indonesia dan tetap terjaga besar gaungnya hingga saat ini, sebagaimana tantangan zaman dan kaum yang kontra juga tak bertambah kecil. Wallahu’alam.


Daftar Pustaka

Anshory, Muhammad Isa. 2013. Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen. Karanganyar: Pustaka Lir Ilir.

Armstrong, Karen. 2014. “Islam: A Short History”. A. b. Yuliani Liputo. Sejarah Islam: Telaah Ringkas-Komprehensif Perkembangan Islam Sepanjang Zaman. Bandung: Mizan.

Artawijaya. 2012. #Indonesia Tanpa Liberal: Membongkar Misi Asing dalam Subversif Politik dan Agama. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Dobbin, Christine. 2008. “Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatera 1784-1847”. A. b. Lilian D. Tedjasudhana. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau, 1784-1847. Jakarta: Komunitas Bambu.

Hamka. 1982. Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hamka, H. Rusjdi. 1986. Etos: Iman, Ilmu dan Amal dalam Gerakan Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hiqmah, Nor. 2000. H. M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya. Yogyakarta: Yayasan Litera Indonesia.

Nasihin. 2012. Sarekat Islam: Mencari Ideologi, 1924-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Purwasito, Andrik. 2002. “L ‘Image de L ‘Indie Dans Le Iscours Des Nasionalistes Indonesiens”. Imajeri India: Studi Tanda dalam Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.

Ricklefs, M. C.. 2008. “A History of Modern Indonesia”. A. b. Dharmono Hardjowidjono. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: UGM Press.

_________. 2012. “Islamization and Its Opponents in Java”. A. b. FX Dono Sunardi dan Satrio Wahono. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang. Jakarta: Serambi.

Surjomihardjo, Abdurrachman. 2008. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930. Jakarta: Komunitas Bambu.

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2014. Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jilid Kesatu. Bandung: Suryadinasti.

Waluyo. 2009. Dari “Pemberontak” Menjadi Pahlawan Nasional: Mohammad Natsir dan Perjuangan Politik di Indonesia, Yogyakarta: Ombak.


[1]Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, hlm. 123.

Belum ada komentar

Leave a Reply