Jilbab TNI dan Perjuangan Tanpa Henti

Sementara di Sulawesi Selatan, terdapat salah seorang mujahidah berjilbab bernama Opu Daeng Risaju dengan nama kecil Famajjah yang lahir di Palopo pada tahun 1880. Penulis Biografi Opu Daeng Risaju : Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan Republik Indonesia, Drs. Muhammad Arfah dan Drs. Muhammad Amir, menyebutkan Opu Daeng Risaju dinamakan Opu karena ia keturunan bangsawan dari keturunan raja-raja Tellumpoccoe’ Maraja yaitu Gowa, Bone dan Luwu dan gelar tersebut diberikan setelah ia menikah.[11]

Opu Daeng Risaju

Opu Daeng Risaju

Pada 14 Januari 1930, ia menjadi ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) untuk cabang Palopo, Sulawesi Selatan. Walau tidak banyak cerita mengenai dirinya saat menjadi TNI namun pada tahun 1950, ia pernah menjadi anggota TNI dengan pangkat terakhir sebagai Pembantu Letnan berdasarkan surat keputusan pemberhentiannya tanggal 25 Maret 1950 dengan Nomor 0066/Kmd/SKP/XVI/50 yang dilampirkan dalam buku Biografinya.[12] Kemudian dalam situs Kementerian Sosial, Opu Daeng Risaju masuk dalam daftar pahlawan nasional pada 03 November 2006 lalu dengan Keppres No. 085/TK/2006.[13]

Perjuangan tanpa henti untuk negara yang diperlihatkan oleh pejuang-pejuang berjilbab ini seharusnya tidak membuat TNI lupa akan sejarah bahwa pernah ada tentara-tentara wanita yang berjilbab dan salah satunya merupakan pelopor TKR Padang Panjang. Tidak seharusnya pula Wan TNI dihalangi untuk berjilbab, terlebih dalam Pasal 28 I ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 sudah dinyatakan bahwa warga negara berhak dan bebas dari perlakuan yang diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminatif tersebut.

*Penulis merupakan peneliti junior the Center for Gender Studies dan Kontributor Jejak Islam Bangsa.


[1] Panglima TNI Perbolehkan Prajurit Perempuan Berjilbab, http://us.news.detik.com/berita/2922729/panglima-tni-perbolehkan-prajurit-perempuan-berjilbab, diakses 03 September 2015.

[2] Panglima TNI: Jilbab Hanya untuk Anggota TNI Perempuan di Acehhttp://regional.kompas.com/read/2015/05/29/10474871/Panglima.TNI.Jilbab.Hanya.untuk.Anggota.TNI.Perempuan.di.Aceh, diakses 03 September 2015.

[3] Wawancara dengan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq setelah selesai acara Seminar Relevansi Bela Negara dalam Konteks Kekinian di Lobi Auditorium Joko Sutono, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Depok, 03 Oktober 2015.

[4] Aminuddin Rasyad, et. al., Hajjah Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusy Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia: Riwayat Hidup, Cita-cita dan Perjuangannya, (Jakarta: Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, 1991), hlm. 61.

[5] Ibid, hlm. 77.

[6] Amura, Rahmah El Yunusiyyah di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945 – 1950) dalam Aminuddin Rasyad, et. al., Hajjah Rahmah…, hlm. 113.

[7] Kowani, Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), hlm. 80.

[8] Ibid, hlm. 81.

[9] Hamka, Tjemburu (Ghirah), (Jakarta: Firma Tekad, 1961), hlm. 17.

[10] Aisyah Rasyid, Dari Sungai Batang Maninjau dalam buku Biografi Ahmad Rasyid Sutan Mansyur (Buya Tuo): Dari Pergulatan Ideologis ke Penguatan Aqidah, Pahlawan Kayo, RB Khatib., Bakhtiar, (Jakarta: Suara Muhammadiyah, 2009), hlm. 62.

[11] Muhammad Arfah dan Muhammad Amir, Opu Daeng Risaju: Perintis Pergerakan Kebangsaan Kemerdekaan Republik Indonesia, (Ujung Pandang: Pemerintah Daerah Propinsi Tingkat I, 1991), hlm. 39 dan 40.

[12] Kementerian Sosial, Daftar Nama Pahlawan Nasional, http://k2ks.kemsos.go.id/wp-content/uploads/2015/01/Daftar-Nama-Pahlawan-Nasional.pdf, (diakses 04 Oktober 2015).

[13] Muhammad Arfah dan Muhammad Amir, Opu Daeng…, hlm. 103.

Belum ada komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.